Kembali ke Artikel
Karst Sangkulirang; Pesona Wisata Digoda Lirikan Investasi Semen Pegunungan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang membentang di Kalimantan Timur. (Foto: FPPKT)
05 Jul/2020

Karst Sangkulirang; Pesona Wisata Digoda Lirikan Investasi Semen

05 Jul 2020 Liputan Khusus

“AKHIRNYA Cina dan Vietnam, belakangan juga ada Thailand, negara-negara yang menghentikan setiap aktivitas ekstraktif seperti tambang semen pada gunung-gunung karst mereka. Pilihan itu diambil setelah mereka sadar tingginya nilai tambah dibanding eksploitasi batuan karst menjadi penghasil semen.”

 

Pernyataan itu disampaikan Presiden Indonesia Speleology Society (ISS) atau Masyarakat Speleologi Indonesia Cahyo Rahmadi. Ia menilai, Cina dapat menghasilkan pemasukan bagi negaranya mencapai 10 juta Yuan. Bukan dari semen, melainkan mengubah kebijakan dan memutus rantai penambangan karst menjadi berorientasi pada pariwisata.

 

Mengutip artikel yang dirilis gokunming.com pada tahun 2016, pengelola resmi taman Hutan Batu Yunnan mengatakan jumlah turis yang bolak-balik mencapai dua juta orang per tahun sejak tahun 2010. Pihak manajemen memperkirakan, jumlah turis akan terus bertambah hingga 5 juta orang per tahunnya hingga 2020. Jika itu terwujud, proyeksi pemasukan mencapai 10 juta Yuan setara $1,54 juta atau Rp 20,6 miliar per tahun.

 

Hutan Batu Yunnan di Provinsi Yunnan itu hanya sebagian dari kawasan karst di daratan Cina Selatan, bersama tiga provinsi lain yang memiliki bentang karst tropis-subtropis, yakni Guizhou, Guangzi dan Chongqing.

 

Langkah populer (tidak di mata pengusaha tambang) seperti Cina maupun Vietnam dinilai masih cukup berat diambil pemerintah Indonesia. Nilai investasi dan bagi hasil yang ditawarkan menjadi hal yang sulit ditolak.

 

“Konsekuensi dari diusirnya perusahaan semen di Cina, ya mereka lari ke sini, ke Indonesia,” kata Cahyo.

Rock-art atau gambar cadas pada salahsatu gua di Mengkuris, bentang Karst Sangkulirang-Mangkalihat. (Abdi/Paradase.id)
Rock-art atau gambar cadas pada salahsatu gua di Mengkuris, bentang Karst Sangkulirang-Mangkalihat. (Abdi/Paradase.id)

Manajemen atau Mana Semen?

 

Frase itu kemudian muncul dalam penyampaian Pindi Setiawan, dosen komunikasi visual Fakultas Seni Rupa ITB yang sejak 1997 sudah keluar masuk Karst Sangkulirang-Mangkalihat.

 

Sudah lama berlangsung, upaya peneliti hingga badan pelestarian lingkungan mempertahankan kawasan karst sebagai potensi objek pariwisata harus berhadapan dengan hitung-hitungan kalkulator investor pabrik semen. Perusahaan tambang memang terbukti menambah penghasilan daerah dari pajak dan retribusi. Kemudian menyerap tenaga kerja lokal dan menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar dengan program sosial atau CSR.

 

Masalahnya, kata Pindi, tambang ekstraktif seperti semen dipastikan menggerus karst. Memutus fungsi serapan air dan penyerap karbon terbaik di atas permukaan bumi. Untuk Karst Sangkulirang-Mangkalihat, ada harga tak tergantikan yang kata Pindi,”sama sekali tidak bisa diganggu di bagian inti dan pesisir karena menjadi sumber air yang baik. Menjadi sumber air bagi lima sungai di Kabupaten Kutim dan Berau.”

 

“Masalahnya lagi, karst sama sekali tidak bisa dipulihkan,” lanjutnya.

 

Ia menyebutkan, di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah disepakati kebijakan pengelolaan karst untuk produksi semen. Konsesi semen mencapai 10 miliar ton, dengan kebutuhan nasional sebesar satu miliar ton per tahun. Dibatasi pula hak perusahaan semen untuk melakukan penambangan seluas 500-1.000 hektare saja.

 

“Sudah dibatasi saja, masih banyak pengusaha yang mengantre untuk masuk. Jangan jauh-jauh, ada anak pejabat daerah yang sudah minta lagi minta lagi,” kata pria yang juga menjabat Ketua Dewan ISS itu.

 

Bentangan Karst Sangkulirang-Mangkalihat mencapai 1,86 juta hektare, yang termasuk dalam ekosistem inti dan penunjang. Dari keseluruhan jumlah itu, 307.330 hektare merupakan kawasan yang dilindungi setelah masuk dalam Perda RTRW Kaltim 2015-2035 yang telah disahkan 29 Desember 2015 lalu.

 

Dari data BLH Kaltim, sudah ada 19 ijin usaha pertambangan, semen dan perkembunan yang areal konsesinya menyinggung kawasan karst terlindungi. Bahkan, ada ijin yang areal konsesinya mencapai 100 persen di dalam kawasan karst.

 

Di Kecamatan Bengalon misalnya, dari 1.071 ha areal konsesi PT Bengalon Limestone sebanyak 872,39 ha yang berada di kawasan karst. Sisanya tidak menyinggung apapun atau di luar kawasan yang dilindungi. Adapun PT Bengalon Persada Mineral dengan ijin konsesi 8.875 ha, namun sebanyak 8.447 ha berada di kawasan karst dan 175 ha di batuan gamping.

 

Belasan ijin usaha pertambangan (IUP) itu sudah terbit duluan melalui Pemkab Kutim dan Berau, sebelum Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah diberlakukan. Sejak wewenang ijin tambah berpindah ke provinsi, Pemprov Kaltim harus menginventarisir ijin tambang kembali. Kini Perda RTRW Kaltim telah diketok, kita masih menunggu ketegasan pemerintah terhadap izin tambang yang overlap.

 

Kembali pada potensi wisata karst berbasis pelestarian. Untuk membuktikan betapa ‘basah’ kawasan karst dibanding pemanfaatan ekstraktif seperti semen, Cahyo sepakat perlu kerjasama berbagai elemen baik pemerintah daerah, komunitas dan mahasiswa hingga masyarakat.

 

“Mungkin sebutannya, evaluasi nilai uang pemanfaatan karst sebagai sektor pariwisata,” kata Cahyo.

 

Evaluasi nilai uang dalam tangkapan sederhana yakni hasil kajian kekayaan (termasuk potensinya) yang didapatkan melalui proses pemetaan dan pengumpulan data. Bicara Karst Sangkulirang-Mangkalihat, selain menampilkan gugusan tebing dan menara karst terdapat pula gua-gua eksotis dengan beragam fauna.

 

Bahkan, ada 10 spesies baru ditemukan, di antaranya 3 kalacemeti, 3 kaki seribu, 2 ikan, 1 kepiting dan 1 kecok. Menurut Cahyo, jenis kecoak (Stylocellus) yang ditemukan di salahsatu gua karst Sangkulirang merupakan yang terbesar di dunia.

 

Cahyo meneruskan, pentingnya pengambilan data dan pemetaan karst termasuk guanya jika komitmen pengembangan kawasan berhaluan pariwisata. Namun, tak jarang ia dan timnya mendapati tanggapan kurang positif bahkan dikatakan kurang kerjaan saat melakukan presentasi hasil pendataan atau sekedar woro-woro di kantor-kantor pemerintahan.

 

“Saya loro (sakit) hati, sudah berdarah-darah mengambil data di gua malah dibilang kurang kerjaan,” ketus Cahyo sembari tertawa.

 

Padahal, Karst Sangkulirang-Mangkalihat sudah di tengah perjalanan masuk ke dalam daftar Warisan Dunia (World Heritage) UNESCO. Butuh proses jutaan hingga 700.000 tahun untuk usia termuda batu karst agar bisa menciptakan ukiran alami seperti yang membentang di Kalimantan Timur, termasuk Sangkulirang-Mangkalihat.

 

Ada pula gambar prasejarah yang diperkirakan berusia 10.000 tahun saat masa manusia purba menduduki bumi etam. Gambar yang kemudian dikenal dengan cadas, yang diperkirakan warisan tertua se-Asia Tenggara itu, kemudian masuk kategori Pre-Historic Rock Art dalam daftar Warisan Dunia. Ada simpulan sederhana, begitu Karst Sangkulirang-Mangkalihat menjadi Warisan Dunia maka mata dunia akan semakin banyak menuju ke Indonesia.

 

Belajar dari Kalkulator Cina

 

Maka kajian ekonomi apa yang dibutuhkan agar menjadi komparasi pada setiap pengambilan kebijakan terkait pengelolaan atau pengembangan karst? Tentu dalam setiap pengelolaan sumber daya alam harus mengarah pada kesejahteraan masyarakat setempat.

 

Yang menarik adalah mengetahui landasan Cina menghentikan dan beralih pada pemanfaatan bentang karst sebagai objek wisata. Ditanya apakah sempat melihat dokumen negara tirai bambu terkait menutup ijin tambang semen sebelumnya, Cahyo mengaku belum melihatnya. Namun, seorang rekannya sesama peneliti sempat memberikannya beberapa bocoran.

 

“Jelas ada niat, atau political good will. Ada upaya menutup keran ijin tambang eksploitasi untuk melindungi aset. Kemudian proyeksi pendapatan dari sektor pariwisata, terbukti dari jutaan Yuan yang berputar di dalam negeri. Itu melewai kajian ekonomi yang kemudian menyisihkan tawaran pabrik semen,” beber pria yang juga peneliti di Lembaga Independen Penelitian Indonesia (LIPI) di Bogor itu.

 

Nantinya, kajian ekonomi untuk Sangkulirang-Mangkalihat mesti melibatkan peran masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata selain nilai ekonomi tebing karst sebagai sarang walet. Mengutip bahasa Pindi Setiawan; “putaran uang harus selama-lamanya ada di lokasi sekitar objek wisata.”

 

Soalnya, tambah Pindi, salah satu properties (syarat) dalam pengusulan menjadi Warisan Dunia adalah kemauan kuat masyarakat lokal untuk memberdayakan objek wisatanya. Lalu, mengapa perlu kemauan kuat?

 

“Coba lihat Manado, Bunaken sana. Sejahtera kah masyarakat sekitarnya? Tidak juga. Justru orang Itali atau Prancis dengan propertinya di sana terjaga oleh satpamnya. Orang di tanah sendiri tapi tidak bisa masuk,” ungkap Pindi genit.

 

Penulis: Qadlie Fachruddin Sulaiman

Editor: Umil Surya

Article Lainnya


Usai Diresmikan, Pasar Tamrin Dievaluasi Selama 90 Hari

Usai Diresmikan, Pasar Tamrin Dievaluasi Selama 90 Hari

PARADASE.id – Dinas Koperasi, Usaha, Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskop-UKMP) Bontang akan...

Operasi Patuh Mahakam 2020 Temukan 236 Pengendara Pelanggar Lalu Lintas

Operasi Patuh Mahakam 2020 Temukan 236 Pengendara Pelanggar Lalu Lintas

PARADASE.id – Tak kurang 236 pengendara mendapatkan penindakan dalam Operasi Patuh Mahakam 202...

Boleh Buka Sekolah, Berikut Daftar Wilayah Zona Kuning

Boleh Buka Sekolah, Berikut Daftar Wilayah Zona Kuning

PARADASE.id - Alasan dibalik rencana pemerintah untuk membuka kembali kegiatan sekolah tatap muka se...

Enam Pusat Pelayanan Publik Baru bagi Warga Bontang

Enam Pusat Pelayanan Publik Baru bagi Warga Bontang

PARADASE.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang meresmikan enam bangunan fasilitas pelayanan publik d...

JELAJAH