Kembali ke Artikel
Kaluwarga vs Kulawarga
13 Jul/2021

Kaluwarga vs Kulawarga

13 Jul 2021 In Way

Inway #148

 

Oleh Rusmiati Indrayani

 

Kata yang menjadi judul tulisan inway edisi ini, berasal dari istilah yang diserap dari bahasa Banjar Kalimantan Selatan. Dalam konteks nasional kedua kata tersebut seakar dengan “keluarga” dalam bahasa Indonesia. Baik “kulawarga” maupun “kaluwarga” adalah semacam pengakuan terhadap adanya hubungan “kekerabatan” dalam interaksi sosial yang masih ada hubungan darah. Dalam konteks lokalitas maknanya setara dengan “bubuhan”. Artinya masih terdapat pertalian kerabat, baik dekat atau sudah jauh dalam lingkaran kesukuan.

 

Jika diperhatikan secara cermat kata “kulawarga” mengandung makna lebih tegas dibandingkan kata “kaluwarga”. Kulawarga adalah sebuah penegasan bahwa “kita bakula” meskipun sudah kesulitan menemukan jejak trah seperti sepupu jauh dan kerabat jauh). 

 

“Bakula” berbeda dengan “bawarga” walaupun istilah “bawarga” sudah ada yang menggolongkan termasuk dalam “bakula”. “Bawarga” adakalanya masih terkesan “tidak bakula”. Contoh “bawarga” adalah bertetangga, satu jiran (satu dasawisma atau satu kampung), yaitu masyarakat yang tinggal dalam sebuah wilayah tertentu dalam lingkungan RT atau RW atau  desa/kelurahan. Pada sebuah pemukiman penduduk. Lingkaran ini bisa terdiri dari satu suku atau lintas suku dan lintas agama (meskipun jarang sekali anak suku Banjar beragama selain Islam). Dalam hal ini sebagai anggota masyarakat mereka disebut warga.

 

Pada zaman dahulu saat keberadaan pendatang yang berbaur tinggal dengan penduduk di desa-desa kalimantan selatan sangat minim, maka sangat terliha realita yang menunjukkan hampir semua warga sebuah desa berasal dari nenek-buyut yang sama. Keturunan mereka beranak pinak mengembangkan jumlah kerabat. Pertambahan penduduk desa disebabkan adanya hubungan perkawinan antar keluarga besar di lingkungan desa tempat tinggal. 

 

Seiring perubahan zaman,  model pembauran sosial masyarakat seperti ini mulai bergeser apalagi dengan terbukanya peluang pendatang dari luar desa bahkan luar pulau. Assimilasi atau percampuran antar suku yang mewarnai lapisan sosial menyebabkan “kula” menjadi cair, sehingga muncul istilah “kaluwarga”. 

 

Kata “kalu” dalam bahasa Banjar bermakna sebuah kemungkinan atau sangkaan yang harus dipastikan kebenarannya. Istilah “mungkin” adalah sesuatu yang belum pasti, masih samar-samar, terdapat keraguan dalam diri pengucapnya. Menyebut “kalu” dapat dikatakan belum terjadi pengakuan “bakula” meskipun telah “bawarga”.  Baru dalam perkiraan kalau-kalau di antara mereka memang bersaudara.

 

Bawarga tapi tidak bakula adalah hubungan sosial dalam masyarakat yang menempati wilayah  tertentu seperti warga sebuah komplek perumahan di kota-kota. Lazimnya sebuah komplek perumahan, siapa saja bisa menjadi warga selama memiliki rumah dan atau bertempat tinggal di komplek tersebut. Hubungan warga sebuah komplek perumahan dalam konteks kebangsaan adalah sebagai warga negara yang terdiri dari aneka suku bangsa nusantara. Dalam ha ini berlaku “Bawarga” meski tidak “bakula”. Walaupun tidak ada ada hubungan kerabat namun sebagai warga negara Indonesia setiap penduduk diakui keberadaannya dan negara menjamin hak-hak atas setiap rakyat.   

 

Kedua istilah dalam judul tulisan ini “kulawarga” dan “kaluwarga”,  baik “bakula”, “bawarga” atau kalau-kalau “bakula” dan “bawarga” sejatinya adalah sebuah maksud terbuka yang menegaskan adanya keragaman dalam kesatuan (bhenika tunggal ika).

 

Sebagai anak dari bangsa Indonesia, sempurnanya menjadi manusia Indonesia adalah karena memiliki jiwa penerimaan terhadap kenyataan. Setiap kita berbeda tapi kita adalah satu. Dengan semangat kedaerahan nasionalisme dibangun dan diperkokoh. Indonesia adalah Banjar, Batak, Buton, Bugis, Banten, Ambon dan seterusnya. Suku-suku daerah tersebar mendiamai ribuan pulau yang terbentang dari Aceh hingga Jayapura. 

 

Istilah “bakula” dan “bawarga” dapat digolongkan ke dalam kebudayaan lokal. Setiap suku di daerah nusantara memiliki kearifan lokal yang perlu kita hormati dan dijunjung tinggi bersama. Jika orang Jawa dengan blankonnya, memiliki kepribadian lemah lembut namun terselip keris di pinggang. Suku Bugis juga acapkali tidak mau banyak bicara, cukup menancapkan Badik dengan keras saja sudah menyiratkan sikap tegas yang dimilikinya. Orang Kalimantan dengan Mandau terasah sudah menyilaukan mata, ini membuktikan mereka bisa melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Senjata memang ampuh membungkam. Namun bangsa ini berdiri kokoh karena jiwa persatuan bukan nafsu bermusuhan.

 

Budaya kekerabatan seperti makna “kula” bisa mencair menjadi “warga” jikalau antar “kula” enggan melestarikan nilai-nilai budaya. Dalam hal ini makna (kula) atau saudara yang masih terhubung darah Sekalipun berpotensi menjadi (warga) atau saudara dengan rasa orang lain. Ancaman tersebut mungkin saja menjadi kenyataan jika terjadi penelantaran dalam sebuah hubungan “kula” . Sebaliknya posisi sebagai “warga” bisa menjadi kental layaknya “kula” andai terjalin interaksi sosial yang mendasari keberadaannya, semacam TERAS teman rasa saudara. Kental sekali rasa persaudaraan yang terjalin dalam diri antar individu-individu di dalam komunitas tertentu.

Article Lainnya


Lima Daerah Dengan Serapan Dana Covid-19 Tertinggi dan Terendah, Ini Rinciannya

Lima Daerah Dengan Serapan Dana Covid-19 Tertinggi dan Terendah, Ini Rinciannya

PARADASE.id - Kementerian Dalam Negeri membeberkan realisasi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Bela...

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

Inway #148 Oleh Rusmiati Indrayani Sungguh, seandainya setiap orangtua memiliki pi...

Berlaku Hingga 8 Agustus, Delapan Daerah di Kaltim Level 4

Berlaku Hingga 8 Agustus, Delapan Daerah di Kaltim Level 4

PARADASE.id - Setelah Balikpapan, Bontang dan Berau masuk pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan ...

Patungan ASN Bontang, Salurkan 150 Paket Sembako buat Warga Isoman

Patungan ASN Bontang, Salurkan 150 Paket Sembako buat Warga Isoman

PARADASE.id - Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup pemerintahan Bontang memberikan 150 paket semba...

JELAJAH