Kembali ke Artikel
Janda Bolong
28 Sep/2020

Janda Bolong

28 Sep 2020 In Way

Inway #114 

 

Oleh : Rusmiati Indrayani 

 

Saat ancaman wabah belum reda, ada-ada saja kegiatan heboh yang membuat saya geleng-geleng kepala. Ini hanya soal bunga. Memang saya pernah meminati bunga. Jenis bunga yang dipelihara di halaman depan beragam; dari kuping gajah hingga pakis perancis. Dari asparagus hingga wangi lavender pengusir nyamuk. 

 

Itu ketika anak-anak  duduk di bangku SD. Ternyata minat memelihara bunga tidak langgeng hingga musim bunga sepuluh tahun berikutnya.

 

Dalam urusan melestarikan hubungan dengan dunia tanaman hias, saya boleh masuk dalam golongan seseorang yang sulit memegang komitmen jangka panjang. Seorang mantan (pengagum) bunga yang benar-benar melupakan kekasih masa lalu. Maksud saya, walaupun sempat kenangan tentang bunga singgah sekali-dua kali dalam pikiran tetapi jalur kesibukan telah berpindah ke jalan menulis untuk hari tua bahagia.  

 

Ada satu hal  asal perpisahan kami. Saya dan bunga. Ketika saban sore saya dengan telaten memeriksa keadaan setiap pot bunga. Di saat sama seorang ayah dengan bocah lelakinya sedang main mata. Mereka tengah menepuk-nepuk bola basket dan bersiap memasukkan bola ke dalam ringnya. Letak ring basket itu di pinggir jalan seberang jalan rumah. Jalan komplek perumahan yang lebarnya tentu saja tidak setara dengan jalan raya. Artinya dengan leluasa mereka memanfaatkan lapangan basket untuk mengejar bola. Mereka bolak balik hingga halaman tempat keberadaan aneka jenis bunga. Bukannya membawa kaki menuju ring basket. Ayah dan anak secara sengaja melemparkan bola ke  arah tanaman bunga dan satu-dua pot seketika menjadi korban. Meledak berantakan. Mereka tidak berbelas kasihan merapikan isi pot berserak malah menambah dengan memecahkan pot ketiga dan seterusnya. 

 

Saya di sana dan menyandang air mata kesedihan yang menetes begitu saja, walaupun saya sudah terlihat sedih mereka tidak peduli dan tetap saling mengedip menunjukkan sikap tidak bersalah. 

 

Sejak saat itu, bunga-bunga di halaman depan mulai tidak terawat. 

 

Tetapi itu kisah lama, baik dulu maupun sekarang tidak tersimpan jejak  marah atas kelakuan sepasang lelaki, insinyur junior dan senior itu. Apa gunanya sakit hati sebab mau bagaimanapun gejolak perasaan, sama sekali tidak mengubah kenyataan. Mereka tetap saja dua lelaki yang saya cintai. Cinta tak bersyarat menarik saya jadi budaknya. Ehem.

 

Kemaren sore, ketika saya ikut berkumpul dengan tetangga, kami makan rawon sambil bercengkerama. Sembari lonjoran meluruskan kaki setelah makan, seorang di antara kami membuka cerita tentang bunga. Dia bukan kolektor bunga hanya semacam pengagum rahasia. Pengamat tanaman hias ini memiliki hobi berternak lebah dan sudah meraup madu murni dari peternakan sendiri. Madu lebah dijualnya seharga Rp. 500,000,-/kilogram.

 

Tercetus dalam ucapannya janda bolong. Mendengar janda disebut ; kami para ibu menggerakkan pantat. Antara pantat yang mendadak panas atau telinga yang tetiba meradang, tidak jelas perbedaannya. Janda bolong sekarang viral, sedang naik daun. “Di internet harganya dihitung berdasarkan jumlah daun. Semakin banyak daunnya semakin mahal dirinya. Sekira empat lembar saja dipatok senilai 3 juta.” katanya.  Kami terkesima. Lalu meluncurlah cerita di balik viral sang janda. 

 

Seorang tua yang janda, duduk di sebelah saya mengatakan “itu tanaman hutan,”sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Menurutnya di kampung halamannya janda bolong tidak ada punya peminat. Tanaman liar yang menjalar bebas merdeka di tepi hutan. 

 

Selain janda bolong yang harganya selangit. Keladi-keladi-an juga tengah digandrungi pecinta tanaman hias.

 

Di sebuah depot yang menyediakan varian tanaman hias ; keladi berwarna hijau gelap mendekati hitam dibrandol seharga 125.000,- jauh lebih murah ketimbang  harga di toko online yang diceritakan sebelumnya. 

 

Ada juga yang disebut variegata, andini, silver queen, philodendrum pink princess. Aglonema jenis lipstick dan rinjani banjir penggemar. Anakannya dijual Rp. 275.000,- jika ambil dua sekaligus, dapat harga sahabat Rp. 500.000,- dua jenis bisa ditenteng pulang. Irit Rp. 50.000,-

 

Hobi adalah masalah gaya dan kemampuan dana. Jika pada masanya jenis gelombang cinta laku seharga 70 juta bukan tidak mungkin menyerang  varian keladi-keladi dan pink princess jenis bibir merah.

 

Memang ketika bicara soal selera semua yang mustahil menjadi mungkin. Selama berada dalam moment, keladi liar di tepi kali yang diangkat derajatnya lalu dielus dengan susu beruang dan minyak zaitun maka dengan perawatan istimewa, permukaan daunnya langsung glowing mirip perawatan wajah dari sehabis diampelas salon. Jika sudah demikian dihargai berapa saja pasti dilirik penikmat.

 

Logika berhadapan dengan jenis cinta, seberapun lurusnya seketika saja patah arah. Entahlah.

Article Lainnya


Dinding Bata dan Sesap Kopi

Dinding Bata dan Sesap Kopi

Inway # 118 Oleh :Rusmiati Indrayani Di masa pandemi bisnis penjualan ...

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

PARADASE.id - Program pelatihan pemasaran bagi para pelaku usaha sedang digodok oleh Dinas Tenaga Ke...

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

PARADASE.id - Potensieksporkomoditas non migas dan batubara terus dikembangk...

Kiat Menjual Tanaman Hias Daring

Kiat Menjual Tanaman Hias Daring

Oleh: Inui Nurhikmah PARADASE.id - Demam tanaman hias melanda Indonesia lagi. Jika tahun 20...

JELAJAH