Kembali ke Artikel
Hari Lahir si Bungsu
13 Jul/2020

Hari Lahir si Bungsu

13 Jul 2020 In Way

Inway #104

Siang itu
 pukul 11.00.

Di sebuah klinik bersalin. Abahnya anak-anak mau sholat Jumat. Si kembar dan satu orang adik lelakinya berisik riang sejak pagi. Ibu saya menyuruh ketiganya pulang ke rumah bersama ayahnya yang akan menunaikan ibadah. Mereka, sekalipun patuh namun terlihat  keberatan. Lepas kepulangan mereka, siang itu hanya saya berdua dengan ibu menantikan kelahiran ke tiga, anak ke-empat. Si bungsu lahir 30 menit kemudian tanpa keberadaan kakak-kakaknya yang meriah. Tetapi segera setelah pulang jamaah sholat jumat, mereka kembali lagi ke klinik. Bayi lelaki kami sudah rapi dan siap mendengar lafazh kalimat tauhid yang diadzankan dan diiqomahkan oleh abahnya sendiri.

“Itu siapa,” kata Riffat kecil. Tangannya menunjuk seorang bayi dalam sebuah tempat terpisah. Bayi mungil dalam bedungan itu menampilkan pipi merona, matanya tertutup. Ia bergerak sedikit. Manis sekali.


Ibu saya yang memberitahu adik mereka pada ketiganya, ketika Riffat bertanya.   

***

 

Saya berteman amaliah bacaan sholawat “dala’il khoirat” sehari sebelumnya saat mengurai rasa sakit menyambut kelahiran si bayi. Anak ke-empat. Ia lahir tanggal 13 Juli. Hari ini 20 tahun lalu di sebuah klinik bersalin di kota Bontang. Hanya ia seorang anak kami dengan kota tempat lahir selain kota Amuntai Kalimantan Selatan.

Pagi tadi di group WA keluarga, Riffat yang pertama kali menulis ucapan selamat ulang tahun. Saya masih bersila beralas sajadah. Lepas membaca zikir pagi dan menyelesaikan bagian pertama membaca  setengah juz al-qur’an.

“Si bungsu sudah subuhan ?” kata saya pada abahnya.

“sudah dibangunkan dari sebelum adzan subuh.”

“Tetapi hari ini beda. Ini tanggal hari kelahirannya.” kata saya.

Di kamarnya si bungsu masih tengkurap. Penyejuk udara kamar sudah dimatikan abangnya pukul 5.00. Saya menepuk pantatnya mengingatkan sholat subuh dan menyentuh pipinya yang merona saat lahir dulu. “Selamat ulang tahun.”

Pagi tadi saya menyentuh pipinya dengan perasaan sama. Bedanya ketika hari lahir, saya melirik dengan badan telentang tak berdaya. Tadi pagi mungkin yang merasa berbeda hanya saya. Si bungsu terlihat biasa saja.

Bagi saya mendapati angka 20 yang ditulis Riffat di group WA keluarga adalah sebuah rasa janggal. Ada yang ganjil meskipun jelas-jelas 20 merupakan angka genap.

Saya ingin sekali memrotes. Riffat mungkin salah tulis. Sebenarnya hari lahir si bungsu ke-19 bukan 20. Namun sebelum niat protes terlanjur terbuka—yang mungkin akan berujung rasa malu— saya menghitung dalam pikiran kemudian mengurutkan bilangan jari tangan dan jari kaki, ya jari tangan dan kaki. Dimulai dari 2000- 2001, 2002, hingga 2020. Kemudian saya mengurungkan niat diri untuk protes.  Urusan angka, saya harus taklid pada si kembar dan kedua adik lelakinya.

Waktu tidak keliru menghakimi angka 20. Tanggal pada hari ini seperti 20 tahun lalu tetaplah sebuah tanggal 13,  hanya usia kami memanjat angkanya dengan tenaga yang merangkak pada sebuah tiang semakin berkekurangan  prima.

Walaupun kerap sulit percaya, saya harus berdamai dengan realita mengenai fakta si bungsu telah dewasa. Masa pengasuhan terhadapnya sejak lama telah usai.

Pagi tadi abahnya mengelus-elus hati saya. Menyabarkan bahwa perlakuan pada si bungsu janganlah disamakan dengan pada masa ketika ia kecil. Saat ia sangat tergantung secara fisik dengan ibunya. Saat ia menangis namun tetap asyik diajak bercerita. Saat menangis pun ia masih ingin membahagiakan hati ibunya. 

 

Si bungsu bukan lagi si bocah lelaki. Anak kami yang ketika ia masih kecil membuat gemas. Ia yang menghidupkan suasana rumah dengan suara tertawanya. Si bungsu yang hari ini berusia 20 tahun adalah bagian warga masyarakat yang hidup di era digital. Saat kemudahan akses informasi dan pengetahuan meruah. Tsunami informasi.

Si bungsu memasuki fase usia dewasa muda. Bayi millennium yang setahun atau dua tahun lagi mendapatkan gelar sarjananya. Sarjana teknik sipil Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan.

Sebagai Ibu, saya kerap lupa bahwa si bungsu bukan lagi seorang  bocah. Seorang anak lelaki yang menangis berlari mencari saya saban terjaga dari tidur siang. Ketika terbangun dan mendapati ibu tidak di sampingnya, insting si bungsu menuntun kaki dan tangisnya mendatangi kelas saya yang sedang memberikan pengajaran al-quran kepada santri TPA.

Si bungsu pula yang membuat semua warga rumah menguji teknik terbaik untuk membujuknya berangkat ke sekolah. Ia satu-satu anak yang mengikuti pendidikan usia dini (play group) sementara ketiga kakaknya langsung masuk TK.

Si bungsu. Jika anak lain menangis meminta ikut kepada orangtuanya yang akan bepergian ke luar rumah, ia adalah anak yang menangis meminta tinggal di rumah saja. Saat itu kami akan mengajaknya melakukan sebuah perjalanan. Airmatanya mengaduk emosi saya, antara rasa terharu atau hasrat tertawa menyaksikan sikapnya. Ia minta jangan diajak ikut serta sebab di rumah bersama kakaknya adalah perkara yang membuatnya sukacita.

Di usianya yang memasuki masa dewasa awal, saya kadang merindukan kemanjaannya. Kemanjaan anak-anak yang gemar menyantap makanan kesukaannya.

Saat suatu siang, saya berencana memasak menu makan dengan menggoreng ayam. Saya ingin sekali mendengar si bungsu meminta dibuatkan makanan tersebut.

“Adik mau Umi buatkan lauk apa untuk menu makan siang ?” kata saya pura-pura belum menyiapkan rencana.

“Umi, adik ini tidak ingin menuntut apa-apa.” katanya. Landai dan serius sekali.

Mendengar dia bermaksud tidak ingin merepotkan, ternyata ada yang perih di sudut hati saya. Lubuk paling jauh. Jauh sekali.

Sesungguhnya saya ingin mendengar dia berkata ;

“Adik mau ayam goreng.”

Seperti yang selama ini diucapkannya dengan senyum yang mengembang dan pengharapan penuh. Meskipun tahu, ia pasti mendapatkan keinginannya.

Wah. Saya ternyata belum menjadi ibu yang ikhlas menerima si bungsu menjadi seorang pemuda.

Walaupun demikian. Saya tetap memasang sebuah foto di IG pribadi untuk mengucapkan kebijaksanaan di hari lahirnya.

“Selamat ulang tahun bungsu. Segenap doa kebaikan dan rasa ikhlas meruah setara banjir zaman Nuh merendam jiwamu.

Untuk segala kemudahan dan kegembiraan hidupmu Umi bersimpuh kepadaNya dengan semesta rasa seorang Bunda. Jalur sukses telah kau jalani, Nak. Teruslah tapaki jalur itu. Umi Ridho.

Sayang ; Tetaplah menjadi anak yang mendengar dan bersabar menghadapi Ibu-mu.”

Article Lainnya


DPRD dan Pemkot Bontang Sepakat Harus Ada Kajian Tandingan Klaim Aman PT IMM

DPRD dan Pemkot Bontang Sepakat Harus Ada Kajian Tandingan Klaim Aman PT IMM

PARADASE.id - Wacana pemanfaatan air dari bekas lubang tambang batu bara PT Indominco Mandiri (IMM) ...

Dalam Bayang-bayang Banjir Musiman

Dalam Bayang-bayang Banjir Musiman

MASIH kental di ingatan Romi Rizka, ia bersama warganya di RT 41 Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontan...

Salah Persepsi Hingga Abai UU Kerap Sebabkan Perselisihan Hubungan Industrial

Salah Persepsi Hingga Abai UU Kerap Sebabkan Perselisihan Hubungan Industrial

PARADASE.id – Perselisihan hubungan kerja masih kerap terjadi antara pekerja dan perus...

Kasus Narkotika Dominasi Persidangan PN Bontang, Banyak Pelaku Tak Jera Meski Dihukum Berat

Kasus Narkotika Dominasi Persidangan PN Bontang, Banyak Pelaku Tak Jera Meski Dihukum Berat

PARADASE.id – Terhitung sejak Januari hingga Juli 2020, Pengadilan Negeri (PN) Kota Bontang te...

JELAJAH