Kembali ke Artikel
Gua Pengakuan Ilustrasi oleh Davies/BBC
15 Sep/2020

Gua Pengakuan

15 Sep 2020 Cerita

TERCEKAT lalu senyap. Dalam kegelapan, setiap orang di antara mereka bertiga menjadi hipersensitif terhadap diri sendiri. Semua kejadian dengan alasan. Karena satu alasan itulah maka ketiganya ada di sana. Mengakui.

 

Rupanya seseorang telah berteriak lantang sebelum pintu gua menutup. Lalu “TDEEEAAR!” Benturan hebat mengunci pintu gua seperti sebuah sejarah yang tidak pernah terkuak. Ada napas manusia tertinggal di sana. Mereka datang dari kota, bermaksud mengurai pesona liang gua dalam keahlian masing-masing. Namun sebuah batu yang bertengger di pucuk bukit menggelinding  berlari menuju muka tanah, terhempas lalu terpuruk malang di bibir gua. Sementara keadaan di dalam sana, tidak ada beda antara membuka atau menutup mata. Kegelapan meraung di celah slataktit yang bisu selama jutaan minggu. Ratusan kelelawar berkepak gaduh karena terganggu. Sayapnya menerbangkan debu dan tungkau dan rintihan ketakutan paling menderu.

 

Mereka tidak saling kenal, nasib menghampirkan raga ketiganya dalam batas waktu tidak tertentu. Napas mereka bernyanyi nyaring. Batu penghalang, kecuali ada kekuatan super dahsyat meminggirkannya. Jika tidak, mungkin rahim gua menjadi peti mati ketiganya. Tidak bisa dipastikan kapan lagi mereka bisa menikmati kemewahan cahaya. Gua dan kegelapan menaklukkan kepintaran hingga batas paling bawah. Lalu mereka terdiam dalam bisu panjang. Masing-masing memaksa bilik ingatan untuk mengeluarkan cara pulang baik-baik dari kegelapan dan gelagat maut yang diancamkan.

 

Ujung runcing yang menukik di langit-langit gua menitikkan air mata. Dalam situasi normal, setiap tetesan dari gigi batu dapat dijelaskan oleh kilat kamera, kata-kata manis seorang penulis dan tangan magis seorang pelukis.

 

“Aku ada pikiran,” kata orang pertama. Ia adalah seorang pembuat konten kehidupan binatang liar yang melepaskan karya di channnel National Geographic. Karyanya sudah mendunia

 

“Sebutkan nama,” kata orang kedua yang ahli melukis abstrak. Dengan tangan kiri yang ukuran panjangnya lebih pendek ketimbang tangan kanan, sekali saja ia mencakar cat minyak di atas kanvas, pemburu lukisan berani melepas dana berapapun ia minta.

 

“Sebutkan sebuah pengakuan paling menggetarkan, siapa tahu Sang Maha Mendengar mengasihani kita bertiga.” Suara orang ketiga membuhul nada paling pasrah. Seorang penulis menggemakan usul. Semacam cara menemukan  pintu keluar gua, melalui ritual pengakuan dosa. Dalam keyakinan si penulis, semua peristiwa terjadi di bawah titah tuhan pengarah rahasia baik. Bukan kebetulan. Keyakinannya menuntun pemikiran ; semua yang terjadi di dalam semesta tidak menganut hukum kebetulan. Kebetulan hanya retorika yang dilemparkan seseorang yang malas memanjangkan rasa syukur. Penulis ini bukan seperti kedua lelaki sebelumnya. Ia menulis asal saja. Seperti seseorang yang berpura-pura menjadi penulis. Media yang setia menyambut tulisannya adalah dinding fesbuk. Untung saja sekira ribuan like dia dapatkan saban membuang satu pokok pikiran. Bagi penulis tersebut, sedikit melegakan ruang pikiran setiap melepaskan tulisan sehabis melahap isi sebuah buku.

 

Orang nomor tiga, si penulis itu memaksa turun bunyi  “mengasihani”. Kata ini menarik perhatian malaikat Rahmat yang mengawasi.

 

Di tempatnya memerhatikan laku ketiga penghuni gua, malaikat tersenyum dan menyebutkan “teruskan”. Ia berbicara kepada penulis yang mengulangi perintah “teruskan.”

 

“Teruskan apa ?” kata orang kedua. Ia tidak mendengar langsung suara malaikat Rahmat. Ia heran ada seseorang yang berani mengeluarkan kata teruskan. 

 

"Siapa harus meneruskan?” sembur si pelukis.

 

“Aku duluan,” kata orang pertama menguak jalan keluar kepelikan mereka.

 

Terdengar ia mengangkat naik napas terlebih dahulu setelah berseteru dengan ragu lalu mulai membuka bungkusan pengakuan.

 

“Aku tidak pandai melisankan kata-kata walaupun karya yang ku hasilkan mendatangkan dentingan uang berlebihan. Namun ketika suatu hari aku terdampar di sebuah hutan sendirian, aku melihat seekor induk rusa dan mengepungnya. Ketika mata kami bertemu, rusa itu menghibakan pengampuan. Egoku tidak menampung daya belas. Rusa itu mengujarkan dengan tatapannya “ aku pulang dulu menyusui anak lalu kembali kepadamu mengembalikan nyawa.”

 

Aku tertawa. Lebih mirip sebuah seringai memupus harapan hidup induk rusa. Lalu dengan nafsu liar aku panggang rusa betina di perapian. Matanya masih memohon iba di antara sengal. Aroma daging panggang, warna hangus dan sudut mata yang meminta hidup serta suara memelas itu meletup lirih tetapi aku lebih mendengarkan keretak kayu bakar mematangkan dagingnya.

 

Pencerita pertama bergidik. Merasakan salah mencabik nurani. Rasa yang menjalar, mencabut helai bulu di sekujur tubuhnya. Lalu kosong. Dirinya dimangsa penyesalan. Adakah yang paling berat selain membeban sebuah penyesalan ? Jadi, kepada orang bersalah, hendaknya jangan diserang penghakiman. Ketika sebuah rasa sanggah pecah dalam diri, penyesalan itu sendiri adalah sebuah hukuman. Hukuman paling kejam oleh diri sendiri yang terbit dari dalam diri sendiri hanya membutuhkan pemakluman.

 

Gelap masih leluasa. Belum  ada tanda-tanda sebuah kekuatan mendekati batu apalagi menggesernya. Seperti sebuah janji jiwa. Ketiga penghuni gua adalah manusia dengan akal sempurna. Produktif berkarya hingga sanggup membiayai gaya hidup dengan duit yang meluntur dari jerihnya.

 

Dalam hening menyergap. Tetesan dari stalaktit mendentingkan kidung nelangsa dan menggugah taubatan nasuha dalam waktu bersamaan. Sehingga mereka tidak memiliki pilihan selain membongkar kerak pengakuan.

 

“Cat minyak adalah tali nyawa. Aku pernah mencintai seorang perempuan. Kami berkenalan di dunia maya dan menjalin asmara. Aku tahu dia sisiannya orang, namun hasrat menaklukan hatinya tidak bisa ku kemudikan. Dari sekadar tertarik seperti ulahku pada perempuan-perempuan yang meneguk racun cintaku. Namun dengan Rania. Pada kata Rania. Si penulis tersedak mendengarnya. 

 

“Rania. Nama perempuan itu. Aku kena batunya dan menjadi jatuh cinta. Sialan." katanya menghempas tangan ke udara. " Kami memadu rasa dalam dunia maya. Seperti mencintai sosok dalam sebuah karakter fiksi. Aku lupa diri menyeret sepotong hati seorang istri baik-baik ke dalam luapan cinta. Eh bukan cinta hampa walapun aku tahu kesudahan ceritanya. Maksudku aku sungguh-sungguh mencintainya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa Tidak Jadi Memasukkan aku ke neraka.” katanya merasa naif sekaligus menyudahi pengakuan paling aib.

 

“Apa pengakuanmu ?” kata pelukis abstrak kepada  penulis.

 

Mereka bertukar tatapan dalam gelap yang menggigit. Tidak bertemu wajah namun muka penulis bersemu merah.

 

“Aku tidak menghasilkan duit dari menulis. Tetapi bukan itu yang akan ku ceritakan.” katanya mematut-matut kata awal untuk sebuah kalimat pemaafan. Aku tahu yang dilakukan Rania. Istriku yang lugu dan tidak pandai berdusta. Ia mengakui segalanya dan meminta pengampunan.

 

“Apakah kamu mengampuninya?” kata si pelukis abstrak terperanjat.

 

Sang penulis menatap batu dan mengharapkan cahaya. “Aku juga memaafkanmu.” katanya. Suaranya serak beririsan sesak.

 

Gelap kehidupan masa lalu mereka menyalakan pelita dalam setiap jiwa. Dari geta tempatnya bertahta malaikat Rahmat terenyuh hatinya. Di luar gua, suara petir melecut angkasa. Airmata murka merajalela. Hujan menumpah amarah lalu lega.  Di antara durja dan gelojak rasa, si penulis tertabrak kenyataan, ia sama sekali tidak menyangka.

 

“Aku mengampuninya,” kata penulis menjawab tantangan malaikat Rahmat.

 

Di tempatnya bersandar, malaikat menimbang-nimbang untuk memberikan balasan keutamaan pada kejujuran, penyesalan mendalam dan kesanggupan penulis melumpuhkan ego. (*)

Article Lainnya


Rumpang Perkawinan

Rumpang Perkawinan

BERPIKIRLAH tidak realitis menjalani hidup, supaya hidup menjadi realistis. Sangat realistis. Sebab ...

Gosip Seputar Alat Berat

Gosip Seputar Alat Berat

Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah kemesraan rawa berpayung langit biru, jika sedang ti...

Telaga Pekerti

Telaga Pekerti

DARAH segar pasti keluar lagi dan menempel pada bagian luar celana dalam Bapaknya yang dikenakan kem...

JELAJAH