Kembali ke Artikel
Gotrek Untuk Tilik
24 Aug/2020

Gotrek Untuk Tilik

24 Aug 2020 In Way

Inway#109

 

JEJAK tawa kami seketika redup bagai siang ditekan malam. Saya yang sepanjang durasi tontonan penuh gelak menyaksikan action pemeran Bu Tejo— dan akan memikirkan mengganjar nilai berapa untuk keakuratan berita yang dibincangnya—terdiam dengan satu kesimpulan paripurna tentang karakter Dian. Dian yang dighibahkan majelis gotrek ibu-ibu yang akan “tilik”— dalam film pendek TILIK berdurasi 32 menit— itu cukup membungkam sebagai twist yang mencengangkan. Bukan tentang fitnah yang ditimbul tenggelamkan melainkan tentang tutupan sosok Dian sempurna di ujung cerita. Ini bukan sebuah kisah bagus, maksud saya eee… siapa saja jangan terlalu gemas bermaksud meremas sajian film pendek yang tengah viral sejak diunggah youtube lima hari lalu.

 

Pertama kali mengetahui “Tilik,” saya baca dari status fesbuk yang ditulis oleh Iqbal Daryono Penulis asal Yogya. Selanjutnya laman media sosial lintas usia itu ramai menggosipkan tilik dari segenap penjuru sudut pandang. Iqbal sendiri yang asli orang Mbantul menyasar perilaku jilbab para perempuan sebagai sebuah kepantasan. Dalam perilaku sosial kaum perempuan di atas gotrek itu ada benarnya bahwa jilbab bukan sebuah garis lurus yang berujung pada ketaatan beragama. Penutup kepala yang lebih rapat dari tudung yang dikenakan masyarakat era tahun tujuh puluhan itu, lebih erat bersemayam di kepala tanpa kerepotan penggunanya merapikan untuk memertahankan posisi yang benar.

 

Film pendek “tilik” yang mengambil setting kota Bantul Yogyakarta. Tokoh Bu Tejo, Yu Ning dan Yu Sam menggerakkan pusaran cerita. Bukan lantaran posisi berdiri mereka yang berada di bagian tengah truk tetapi lebih karena “nyinyiran” Bu Tejo mendekati angka sempurna. Maksud saya faktanya memang demikian adanya. Saya gemes sekali melihat raut muka Bu Tejo saat dia berbicara, ingin sekali rasanya menjarum atau menyihir mulutnya supaya bisu mendadak supaya ia berhenti membincangkan Dian supaya ia menyetop nyinyirannya yang kelewatan. Alih-alih menyihir yang saya tidak memiliki kekuatan itu, saya malah menikmati peran yang disuguhkannya dalam cengkok jawa yang lumayan lezat. Penghayatan "Siti Fauziah Ozie", memang tidak tanggung-tanggung memerankan karakter Bu Tejo.

 

Bu Tejo, adalah sosok antagonis yang memiliki pasar penggemar dan pemandu sorak sendiri. Ia dicintai sekaligus dibenci. Menyebalkan dengan perkataan yang diucapkan tapi hampir mendekati kebenaran. Saya mungkin sedikit menilai dari  melihat bahasa tubuhnya yang nyaman bergosip, siapa saja muncul perasaan sebel. Perasaan lumrah yang mesti ada pada mental seseorang insan beriman. Sosok Bu Tejo mewakili realitas sosial. Kita tidak membantah bahwa orang-orang seperti itu ada dan jamak. Mereka mewartakan gossip murah namun tidak murahan. Mungkin jika sedikit menyertakan aksiologis (dalam filsafat ilmu), “nyinyiran” Bu Tejo bisa menghasilkan sebuah penelitian sosial tentang perilaku “DIAN” secara lebih ilmiah. Dalam upaya membuktikan“Nyinyiran”,  seorang peneliti akan menggali kebenaran data yang bisa dipertanggung jawabkan. Jadi menurut saya “nyanyian” Bu Tejo adalah pembuka tutupan gunung es yang terlihat sepele padahal kenyataannya telah membentuk gugusan penyakit sosial di bawah permukaaan.

 

Film pendek TILIK menyangkutkan pesan moral yang  kuat dan sayangnya itu tersampaikan telak di delta cerita. Tepat pada satu menit terakhir. Saya tidak menyangka penulis cerita tega menyusupkan punchline sebaik itu dan saya juga “berdoa” Bu Tejo tidak sempat menonton film ini. Jika tebakan saya salah, dia dengan gagah melenggang maju dalam pemilihan lurah mengggantikan Ibunya Fikri yang disimpan di ruangan ICU. Gorengan yang dijualnya, apalagi kalau bukan DIAN. "Supaya setiap keluarga jaga-jaga. Ya Allah nurani mbok dipakai, tu YAN, empati dikit nopo ?!"

Ya Allah. Ya Allah.

Article Lainnya


Diary of Auckland : Meet The Heroine

Diary of Auckland : Meet The Heroine

Menjadi berbeda pun, Tuhan beri jalannya.... Nun jauh di negeri kiwi sana. seseorang mengan...

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PARADASE.id -Lesunya sendi-sendi perekonomian akibat pandemi, tentunya berdampak pada penurunan Pend...

Pomodoro

Pomodoro

Inway #115 Selamat Hari Ulang Tahun Si Kembar. Tulisan ini terlambat. Seharusnya t...

Hari Pertama Bertugas, Pjs Wali Kota Bontang Riza Kumpulkan Kadis, Camat dan Lurah

Hari Pertama Bertugas, Pjs Wali Kota Bontang Riza Kumpulkan Kadis, Camat dan Lurah

PARADASE.id - Riza Indra Riadi mengajak seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat da...

JELAJAH