Kembali ke Artikel
Gaya Kepemimpinan Ilustrasi. (GoogleImage)
15 Oct/2020

Gaya Kepemimpinan

15 Oct 2020 Cerita

Pekarangan gedung sekolah sudah ramai dengan anak-anak bermain sepak bola ketika penilik sekolah tiba. Ia mengenakan kemeja biru langit bergaris dipadu celana kain warna biru laut. Satu demi satu aroma minyak wangi menyergap hidungnya dengan kehadiran orang dewasa, laki-laki dan perempuan berseragam batik. Pagi itu hari Jum’at, para guru tidak mengenali mobil penilik sekolah parkir lebih cepat dari jadwal mereka mengajar pada jam pertama. 

 

Kurniawan sang penilik sekolah menyembunyikan diri namun mengamati kegiatan persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh pengelola sekolah unggulan. Pemandangan umum sekaligus membanggakan adalah penerapan tiga ES salam, senyum dan sapa yang terhayati dalam sikap spontan. Baik antar anak didik maupun antara guru kepada siswa. 

 

Bel berbunyi. Peserta didik mengeluarkan gemuruh diikuti langkah bergegas menuju bangku dalam ruangan kelas berpenyejuk udara. Lingkungan sekolah sunyi, tidak ada satu kaki pun yang melangkah di halaman sekolah yang berhia taman bunga dan pagar hidup terawat apik. Dari tempat duduk dalam kabin mobil, Kurniawan bersiap mengendap untuk mengintip kegiatan belajar mengajar, lalu ia menangkap sepasang langkah tanpa sepatu berlari seperti tertiup angin menuju sebuah ruangan kelas.

 

Siswa perempuan itu menyeimbangkan napas, menurunkan sepatu yang ditentengnya dan menatap pintu kelas yang tertutup dengan perasaan mendua. Yakin namun masih terjerembab ragu di sana. Dia berdiri dan akhirnya mengetuk pintu. Saat pintu dibuka, suara gaduh pecah dari mulut sejumlah siswa. Semacam sorak menyudutkan. Kurniawan meneliti apa yang terjadi melalui pendengarannya yang masih awas. 

 

“Kamu lagi, ini hari ketiga kamu masuk terlambat. Sekarang berdiri di situ.” ujar guru perempuan menendangkan perintah dari suaranya yang garang, di tangannya menimang-nimang penggaris dari kayu, matanya mengiris nyali siswa yang kikuk.  Ruangan yang semula berdengung lalu senyap lebih hening dari awan tertutup kabut.

 

Belum sempat murid yang terlambat membela diri, seseorang memanggil namanya untuk mengajak pulang karena ibunya kecelakaan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. 

 

Lalu kepala sekolah masuk ke dalam kelas dan menyuruh sang murid yang terlambat duduk kembali. Dengan sosoknya yang berwibawa dan percaya kemampuan siswa, ia mengajak isi kelas bertepuk tangan. Setelah menyampaikan penghargaan kepada pemeran lakon, kepala sekolah menyuruh guru yang membentak siswa terlambat mengikutinya menuju sebuah ruangan. 

 

Dari ruangan terpisah yang dihubungkan kaca, di kursi tempatnya duduk Kurniawan  memerhatikan sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ide kepala sekolah boleh juga. (*)

 

Article Lainnya


Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Cerita oleh : Indrayani Indra Bulir-bulir padi berwarna emas. Batangnya bergerak disepoi an...

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Bangunan kampus itu tetap sama seperti saat ia ada di sana, empat pilar utama berwarna hijau pupus m...

Ayunan

Ayunan

Oleh : Indrayani Indra Ratih dan Jamali sepakat berbagi tugas pengasuhan. Ratih akan menidu...

Nasi Campur Prapatan

Nasi Campur Prapatan

Oleh: Indrayani Indra Penampakkan wajah perempuan paro baya itu lebih banyak merupa kerut c...

JELAJAH