Kembali ke Artikel
Fungsi Orangtua di Pagi Hari
26 Jul/2021

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

26 Jul 2021 In Way

Inway #149

 

Oleh Rusmiati Indrayani

 

Sungguh, seandainya setiap orangtua memiliki pikiran yang sama tentang wajibnya sholat bagi anak-anaknya adalah seperti wajibnya sholat bagi dirinya, maka manusia harus berterima kasih kepada Nabi Ibrahim alaihissalam.

 

Baik. Edisi inway kali ini sebagai orangtua dari ke-empat putra putri saya mengungkapkan rasa syukur, terima kasih dan penghargaan kelas puncak kepada khalilullah Nabi Ibrahim alaihissalam. Berkat kecerdasan spiritual dan penghayatan beragama Beliau mengajarkan para orangtua berdoa dengan mendalam. Al-qur’an mengabadikanny dalam surah Ibrahim ayat 40. 

 

“Ya Allah, jadikan aku dan anak-cucuku sebagai orang-orang yang menegakkan sholat.”

 

Kata menegakkan tidak berdiri sendiri. Ada keterlibatan proses yang rumit untuk sampai pada “Tegak”, apalagi menegakkan sholat.” Menegakkan artinya telah dilakukan upaya sistematis dan terukur dalam waktu panjang untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya ada namun belum kokoh. Contoh. Jika seseorang akan menegakkan pohon, maka faktanya adalah : pohon sudah ada dalam posisi rebahan, atau berdiri tetapi keadaanya miring, atau sudah ditanam dalam tanah namun posisinya masih perlu ditopang oleh bahan lain dan seterusnya. 

 

Menegakkan sholat adalah tujuan sekaligus alat. Sholat yang dikerjakan dengan benar akan menjalankan fungsi (alat) untuk memberitahu supaya manusia mulus menjalani kehidupan yang penuh perubahan. Dalam hidup, perubahan selalu terjadi dan sayangnya beberapa perubahan sulit diantisipasi. Sholat sebagai alat bermanfaat untuk mengasah kemampuan manusia membaca peta kehidupan yang menunjukkan cara mengelak tantangan. Ibarat roda yang senantiasa berputar, kehidupan terus berjalan, tidak bisa dihentikan. Untuk selamat hingga tujuan, sambil tetap berjalan manusia diharuskan sedikit memutar, mundur beberapa langkah ke belakang, atau kalau diperlukan dapat mengambil jalan menikung menghindari bahaya yang mengancam. 

 

Jika sholat adalah bagian dari  dari strategi menjalani hidup, maka keahlian manusia membaca peta kehidupan adalah dengan menjalankan sholat untuk menegakkannya. Semakin terasah kemampuan seseorang, semakin lembut nalurinya untuk mengikuti jalan kebenaran yang akan mengantarnya mencapai kebahagiaan.  Sampai di sini kita semua sepakat bahwa untuk melaksanakan sholat dibutuhkan seperangkat alat pengetahuan dan komitmen. Sebagai sebuah kebiasaan sholat wajib dilakukan dengan niat dan menyempurnakan rukun-rukunnya. Pelaksanaanya sampai batas umur saja. Selama hidup di dunia. Kalau sudah tiada maka manusia tidak lagi sholat melainkan disholatkan. Lagi pula apa jadinya jika orang mati ikut sholat lagi ? Selama ini tidak pernah ada kasus orang mati menyolatkan diri sendiri. 

 

Menegakkan sholat adalah perkara membangun kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan membuat pelaksanaan sholat relatif lebih mudah. Saya tidak mengatakan bahwa menegakkan sholat adalah mudah. Sedikit saja abai, pikiran meninggalkan sholat mengerubungi sel-sel saraf kepala.

 

Dalam hal ini, menjadi orangtua memiliki kewajiban ganda terkait ibadah sholat. Satu untuk dirinya, dua untuk keluarganya (anaknya). Melaksanakan rutinitas sholat dalam keluarga, secara bersama-sama antara anak-anak dan orangtua meskipun sendiri-sendiri atau berjamaah, akan memudahkan pekerjaan “menegakkan” itu sendiri. 

 

Menegakkan bangunan sholat membutuhkan kekuatan lahir batin. Dari struktur fisik melaksanakan sholat mengharuskan pelakunya memenuhi prasyarat sebagaimana digariskan dalam hukum fiqih seperti berwudhu untuk menyucikan diri dari najis, menghadap kiblat, menutup aurat dan mengetahui tata cara pelaksanaan. Secara kejiwaam mengerjakan sholat membutuhkan kesiapan mental spiritual supaya pelakunya tetap di jalur khusyu’. Memosisikan diri dalam level khusyu’ ini juga menuntut keterampilan dan kiat khusus agar manusia terhindar dari sindirian al-qur’an : sholat dalam keadaan mabuk. Secara fisik melakukan gerakan namun pikiran dan hatinya berkeliaran di jalan raya kehidupan.

 

Melihat prasyarat yang dibutuhkan dalam menegakkan sholat, maka bersyukurlah bagi orangtua dengan wawasan yang terbuka tentang psikologi manusia sehingga dapat menyiapkan diri untuk menolong ibadah anaknya.

 

Dalam menjalani kehidupan di awal hari, saya mengatakan tugas utama menjadi orangtua di pagi hari adalah ; memastikan anak sholat subuh dalam waktunya. Ini tidak ringan tetapi masih terjangkau dilakukan. Setiap orangtua memiliki trik, dari yang unik hingga keren dalam urusan rumitnya “menghidupkan” manusia di pagi hari. 

 

Dalam menunaikan tugas  ini, saya mengalaminya sepanjang perjalanan menjadi ibu. 

 

Ketika anak-anak masih kecil, membangunkan anak pagi hari adalah pekerjaan vital sambil menyiapkan sarapan pagi mereka. Tentu saja saya sudah sholat subuh. Di lain waktu ada masa saya mengancam tidak akan sholat subuh sebelum anak-anak membuka mata dan bersiap menuju tempat sholat untuk menunaikannya. Di lain waktu saya cuek saja karena saya berpergian ke luar kota atau berada di rumah namun kondisi anak dalam keadaan sakit atau pada hari libur. 

 

Artinya sampai hari ini kefardhuan membangunkan anak sholat subuh masih berlangsung. Tugas luar biasa yang sudah terbiasa. Sama biasanya  seperti melaksanakan perintah itu sendiri. Jika apa yang saya rasakan dirasakan juga oleh para ibu yang lain, keadaan yang terjadi pada anak mungkin lebih berat lagi. Anak saat mereka sedang asyik dibuai mimpi, atau tengah berada pada kualitas tidur yang baik kemudian orangtua datang membangunkan untuk sholat subuh, keadaan ini kadang-kadang tidak menyenangkan bagi kedua belah pihak. Anak merasakan adanya gangguan sedangkan orangtua menganggap jika tidak dibangunkan maka anak berpotensi meninggalkan ibadahnya. 

 

Menurut saya sebagai orangtua kesadaran kita perlu ditengok kembali, dalam hal bangun pagi untuk bersujud jam terbang anak menjalani ritual ini tidak seluas pengalaman orangtua. Orangtua dengan tanggung jawab dan kebiasaan yang dibangunnya sejak lama, bisa jadi dalam dirinya telah terbangun kebiasaan hingga mengerjakan ibadah malam. Artinya keadaan terjaga bagi orangtua telah menjadi rutinitas yang disadari sebagai kewajiban terhadap diri sendiri dan kepada Tuhannya. Sebagai orangtua yang bijak tugas kita hanyalah memudahkan anak mengerjakan sholat dan meolongnya menegakkan kewajiban. 

 

Setiap orangtua menginginkan anak sholat sempurna, tepat waktu dan benar total. Tetapi… Ah. Hidup tidak harus sedrama itu jika akibat perlakuan kita dalam membangunkannya di pagi hari akan merusak suasana nyaman yang dibutuhkan sepanjang hari.

 

Manusia dengan sifat bawaannya untuk mengajak kepada kebaikan hanya bertugas mengajak. Mengajak dengan penuh kearifan, kebijaksanaan, dan berkeadilan. Sebab ada beberapa anak yang sulit sekali bangun dan melaksanakan sholat subuh. Untuk kasus seperti ini, orangtua hendaknya tidak membiarkan diri dikuasai oleh perasaan negatif. Perasaan buruk dan mengeluarkan kalimat berisi amarah dan rasa kesal. Semoga itu tidak terjadi. Faktanya rasa menuntut memang ada namun alih-alih memarahi anak yang sedang tidur, sebagai orangtua mungkin bisa melakukan trik ini. Ambil napas baik-baik, Tarik, tahan, kemudian embus pelan-pelan. Kenali, sadari, nikmati, syukuri bahwa bisa bernapas lega adalah wujud hidup yang seharusnya membuat bahagia. Bayangkan jika tadi malam anda tiada, maka siapa yang akan membangunkan anak sholat subuh ? Anak tetap bangun dan sholat subuh namun juga bersiap untuk sholat jenazah atas jasad ibu atau ayahnya. 

 

Membangunkan anak di pagi hari adalah karunia hidup diawal membuka mata yang pahalanya tidak terkira. Sebab tanpa anak orangtua akan membangunkan siapa ?

 

Dalam menjalankan fungsi orangtua di pagi hari, duhai para orangtua ; ayolah lakukan merafal mantra doa. Mendoalah semoga Allah melimpahkan kelembutan hati supaya anak tergerak bangun dan melaksanakan ibadah subuh. Amalan sepele namun penting. Jika rutinitas ini dilakukan dengan ketulusan maka anak belajar dari kehidupannya. Pewarisan nilai-nilai tengah berlangsung dan kita para orangtua berusaha lagi dengan mendoa semoga anak akan menerapkan kesabaran yang sama terhadap generasi di bawahnya. Mengacu pada strategi menanamkan keimanan yang dilakukan Lukmanul Hakim. Beliau berpesan kepada anaknya tentang tiga hal :  (1) sucikan Allah. Jangan menyekutukannya. (2) Tegakkan sholat, (3) tunjukkan perilaku baik dalam pergaulan hidup dengan manusia. Membangunkan anak di pagi hari dengan cara ma’ruf adalah sedekah. 

 

Anak belajar dari kehidupannya ? Anak membutuhkan sikap bijaksana dan kasih sayang orangtua dalam usaha membangunkannya untuk sujud di pagi buta. Melaksanakan ibadah subuh bagi beberapa anak adalah masalah dan masalah dimulai dari kesulitannya membuka mata.

 

Kesabaran orangtua dalam membangunkan anak menjalankan ibadah subuh akan menjadi kenangan manis dalam pikirannya. Pola pendidikan akan berulang karena kelak di masanya anak akan membangunkan anaknya juga dan cara-cara yang ma’ruf berinteraksi dengan anak di pagi hari akan diingatnya sepanjang membuka mata. Akan lebih baik jika anak mengenang orangtua dengan cara yang manis bukan orangtua yang menyuruh sholat subuh dengan cara yang bengis.

 

 

Article Lainnya


IPLB Gelar Mini Tournamen Futsal, 10 Tim Perebutkan Total Hadiah Rp 10 Juta

IPLB Gelar Mini Tournamen Futsal, 10 Tim Perebutkan Total Hadiah Rp 10 Juta

PARADASE.id - Ikatan Pemuda Lok Tuan Bersatu (IPLB) menggelar Mini Turnamen Futsal Tahun 2021. Turna...

Kafe di TV

Kafe di TV

Inway #155 Oleh : Rusmiati Indrayani Penyebaran wabah covid-19 mulai melandai. Pem...

WBP Terlibat Peredaran Sabu, Lapas Kelas IIA Bontang Akui Kekurangan Personil untuk Awasi Napi

WBP Terlibat Peredaran Sabu, Lapas Kelas IIA Bontang Akui Kekurangan Personil untuk Awasi Napi

PARADASE.id - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang berhasil mengungkap peredaran narkot...

Walk Out, BW Geram DPRD Tak Dilibatkan dalam Pembahasan DED Jalan Lingkar

Walk Out, BW Geram DPRD Tak Dilibatkan dalam Pembahasan DED Jalan Lingkar

PARADASE.id - Anggota DPRD Bontang Bakhtiar Wakkang geram dengan sikap Pemerintah Kota yang tidak&nb...

JELAJAH