Kembali ke Artikel
Fenomenal Wirausaha Millenial: Jangan Punya Mindset Berharap Cepat Kaya Ilustrasi:Freepik
16 Sep/2019

Fenomenal Wirausaha Millenial: Jangan Punya Mindset Berharap Cepat Kaya

16 Sep 2019 Liputan Khusus

PARADASE.ID. Data statistik tahun 2018 menunjukkan,  rasio wirausaha di Indonesia berada di angka 3.1 %. Meskipun angka ini sudah di atas standar internasional yang sebesar 2%, angka ini masih dinilai kalah jauh dengan negara tetangga seperti Singapura (7%), Malaysia (6%), dan Thailand (5%).

 

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 225 juta penduduk masih dirasa kurang dengan angka rasio yang “hanya” 3,1%. Hal inilah yang mendasari pemerintah menggandeng banyak pihak untuk menumbuhkan, memupuk, dan menggalakkan semangat wirausaha. Utamanya di kalangan muda yang sebagian besar merupakan generasi millenial.

 

Baik dari sisi akademis dengan kampus - kampus pencetak wirausaha muda, sisi finansial dengan berbagai kemudahan pinjaman modal produktif, maupun softskill dengan pembekalan ini itu bagaimana baby steps menjadi seorang wirausaha.

 

Keberadaan para wirausaha “baru” diyakini merupakan solusi jangka menengah – panjang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang akan memudarkan kesenjangan social melalui pemerataan ekonomi yang adil. Inilah salah satu optimisme pemerintah menghadapi paparan data indeks pembangunan manusia (IPM) berbagai wilayah di Indonesia yang menunjukkan bahwa kesenjangan di Indonesia masih “cukup” timpang.

 

Kemajuan teknologi juga semakin menyegarkan semangat wirausaha. Ada optimisme bahwa bisnis bisa dimulai dengan modal minim, cara yang mudah, dan memanfaatkan kecanggihan internet. Tak lupa kisah sukses wirausaha muda mengalir melalui manisnya seminar motivasi, sharing session via livestreaming, bahkan stadium general berupa kuliah umum di kampus - kampus. Sukses itu mudah. Sukses itu nyata. Mari menjadi wirausaha.

 

Menjadi entrepreneur a.k.a wirausaha kemudian menjadi mimpi. Hal ini merupakan “penetrasi” pasar atas respon baik masyarakat terhadap semangat wirausaha muda. Tepat sasaran memang menyasar demografi dan psikografi millenial yang notabene adalah para mahasiswa dan fresh graduate. Segmen ini memiliki daya dan upaya mumpuni untuk diarahkan menjadi seorang wirausaha.

Fenomena ini didukung oleh riset yang dilakukan SEA grup. Riset tersebut dilakukan terhadap 14 ribu responden berusia di bawah 36 tahun, selama Juli 2018. hasilnya Sebanyak 24,4% responden memilih menjadi wirausaha. 17,1% memilih menjadi PNS dan 16,5% ingin bekerja di usaha keluarga. sisanya 11,4% memilih bekerja di perusahaan multinasional dan 9,5% di badan amal. Kemudian 8,8% ingin bekerja di perusahaan lokal besar dan 7,1% memilih usaha kecil menengah, sementara 5,2% memilih membangun perusahaan rintisan teknologi. (katadata, 2019).

 

Tapi kemudian, mimpi wirausaha muda ini menjadi salah kaprah. Beberapa kemudian memandang menjadi wirausaha adalah jalan cepat kaya dan menjadi bos. Sebuah keniscayaan yang diamini oleh ego “orang pintar” dan mahasiswa berprestasi yang masih idealis.

Kilau hedon para “senior”, yakni wirausaha yang belum berumur 40 tahun sudah memiliki harta benda yang jikalau menjadi korporat maupun birokrat harus menempuhnya melalui jalur cicilan menjadi cambuk.

 

Kalau dia bisa, aku juga pasti bisa” adalah keyakinan hakiki yang digenggam erat para “calon” wirausaha muda ini. Sebuah kalimat yang tidak asing didengar di seminar motivasi dan berbagai kesempatan berbagi kisah sukses. Benar memang, tipikal wirausaha muda adalah penuh optimisme tanpa rasa khawatir. Berbeda dengan wirausaha kawakan yang cenderung mengandalkan modal, jaringan luas, dan pengalaman dalam mengembangkan bisnisnya.

 

Optimisme tanpa khawatir para wirausaha muda ini didasarkan oleh substitusi modal kapital yang merupakan ciri wirausaha kawakan digantikan dengan ide, hasrat, dan kecerdikan. Inilah yang membuat usaha yang dibangun para wirausaha muda cepat berkembang.

 

Namun mereka yang lebih dulu sukses menjadi wirausaha mengalami keterbatasan durasi untuk bercerita panjang lebar mengenai “sakitnya” menjadi wirausaha. Kalaupun ada waktu, itu tidak jauh dari jargon “jangan menyerah”, “terus berusaha” atau menjual sekelumit kisah paling pilu yang tidak sempat dijabarkan lebih jauh bingkai bersarnya.

 

Mindset Wirausaha

 

Pada tahun 1908, dekan pertama Harvard Business School, Edwin Francis Gay dalam penyambutan kelas perdana  yang berisikan 59 murid  mengatakan bisnis adalah tentang “mendapatkan keuntungan dengan cara yang layak” (Harvard Business Review, 2019).

 

111 tahun kemudian, dalam buku yang berjudul Problem Solving: HBS Alumni Making a Difference in The World” yang ditulis oleh Profesor Emeritus Howard Stevenson, Direktur Proyek HBS Shirley Spence, dan seorang penulis Russ Banham mengungkapkan tentang 200 cerita lulusan HBS yang “dipandang” berhasil mengatasi tantangan tangan sosial dalam kaitannya dengan bisnis.

 

Buku tersebut adalah hasil penelitian selama empat tahun, termasuk hasil survei kepada 13 kelas MBA (manajemen administrasi bisnis), lebih dari 200 hasil wawancara, dan riset data sekunder dari berbagai literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alumni yang mengambil langkah pendekatan pragmatis dalam bisnis cenderung lebih mudah mengimplementasikan ide bisnisnya.

 

Stevenson mengatakan dalam buku tersebut, bahwa para alumni tersebut memulai bisnis berangkat dari mengidentifikasi masalah dimana mereka pikir dengan kemampuan dan sumberdaya yang mereka miliki mereka akan bisa membuat perbedaan. Dan mereka focus pada optimisme bahwa mereka bisa melakukan itu.

 

Endeavor, sebuah organisasi di New York yang terhubung dengan pendiri Linkedin Reid Hoffman menciptakan sebuah kerangka kerja untuk mengidentifikasi jenis - jenis wirausaha. Hasilnya, ia mengelompokkan wirausaha ke dalam empat kelompok. Yang mana ini akan memudahkan untuk penentuan model bisnis dan perjalanan bisnis seorang wirausaha ke depan. (katadata, 2019)

 

Hasilnya ada empat jenis wirausaha, yakni roket, pengubah (transformer), berlian (diamond), dan bintang (star). Roket adalah jenis wirausaha yang terdiri dari pemikir strategis. Bisnisnya biasanya mengarah kepada tujuan efisiensi. Bagaimana memotong rantai pasok agar lebih cepat, lebih murah, lebih mudah, dan lebih - lebih lainnya. Wirausaha jenis ini menerapkan inovasi dalam eksekusinya serta memiliki model bisnis yang sudah jelas teruji mengisi celah pasar dan bersifat scalable. Yaitu memiliki kemampuan untuk membesar secara eksponensial. Contoh wirausaha jenis ini adalah Jeff Bezos dengan Amazon, William Tanuwijaya dengan Tokopedia, dan Achmad Zaky dengan Bukalapak. 

 

Transformer adalah jenis wirausaha untuk mereka yang sudah memegang perusahaan keluarga. Umumnya merupakan generasi kedua. Melanjutkan legacy adalah kata kunci wirausaha jenis ini. Wirausaha jenis ini adalah pemimpin ambisius di sektor tradisional yang bisnisnya sudah mapan. Dalam eksekusinya wirausaha ini menerapkan inovasi dan diferensiasi untuk berekspansi lebih besar lagi.

 

Contoh untuk jenis ini adalah Ray Kroc dari McDonald, Subhan Aksa dari Bosowa Group, Putri Indahsari Tanjung dari CT Corp, dan Riffat Ma’rifah Akhsan dari Borneo Holding. Contoh lain adalah Dian Pelangi yang sukses menjadi innovator di bidang fashion dengan bekal kemampuan desain sehingga mampu mengembangkan pabrik batik Pekalongan milik orangtuanya, dan Gibran Rakabuming Raka yang sukses dengan diferensiasi usaha catering untuk mengembangkan gedung serbaguna milik ayahnya Joko Widodo.

 

Tipe berlian adalah wirausaha yang berangkat dari keresahan sosial sehingga tercipta bisnis yang “menggoyang” pasar yang sudah ada. innovatif yang disruptif. Pragmatis yang optimis. Wirausaha jenis ini memiliki risiko tinggi untuk gagal, karena tidak ada forecasting sejauh mana bisnis ini akan berhasil. Namun jika berhasil, wirausaha jenis ini akan langsung menjadi pemain besar yang masif. Contoh wirausaha jenis ini adalah Mark Zuckerberg dengan Facebook, Nadiem Makarim dengan Gojek, dan Adamas Belva Devara dengan Ruang Guru. 

 

Terakhir adalah jenis star. Bintang. Wirausaha jenis ini bergerak di bidang industri kreatif  dan berfokus pada loyalitas konsumen. Tantangan wirausaha jenis ini adalah menjaga kualitas produk, mempertahankan diri untuk tetap eksis di pasar. Dan perjalanan panjang membangun brand. Contoh untuk jenis ini adalah Bernard Arnault dengan Louis Vuitton, Maria Ruth Fernanda dengan Maruvi, Alan Budikusuma dan Susy Susanty dengan Astec,  Jhonny Andrean dengan Jco, Yukka Harlanda dengan Brodo, dan Anita Lundy dengan Ittaherl.

 

Bekal Sukses Menjadi Wirausaha.

Berangkat dari mimpi ingin menjadi wirausaha dengan ambisi heroik. Disini masalahnya. Penelitian dan paparan di atas menunjukkan bahwa bisnis itu berangkat dari sesuatu yang pragmatis. Mindset inilah yang luput dari fenomena calon wirausaha di kalangan milenial yang amat fenomenal ini. Atas dasar kecerdasan dan idealisme kemudian memunculkan sebuah ide bisnis yang fenomenal, out of the box istilah kerennya. Yang kemudian dieksekusi secara terburu – buru.

 

Tanpa mengidentifikasi terlebih dahulu termasuk jenis wirausaha apa. Hal ini membuat wirausaha muda pemula menjadi kehilangan arah di tengah jalan dan akhirnya menemui kegagalan yang sunyi. Sebuah fenomena gunung es yang tidak akan pernah dibagi dalam sesi kisah sukses.

 

Hal pertama diluar ide bisnis dan kemauan untuk kerja keras bagi calon wirausaha muda adalah siapkan dana darurat. dana darurat yang tidak “menggoyang” kebutuhan harian terlepas naik turunnya bisnis. banyak wirausaha gagal bukan karena ide bisnisnya tidak tervalidasi oleh pasar. tapi karena ia gagal mengelola operasional bulanan untuk kebutuhan pribadi dan rumah tangganya. Memiliki dana darurat membuat wirausaha pemula fokus dalam membangun bisnis. karena bisnis sendiri penuh pasang surut, tantangan, dan kegagalan.

 

 

Kemudian adalah ketekunan dan daya resiliensi. Steve Jobs mengatakan “ketekunan murni ini adalah motor utama dalam bisnis”. tekun artinya siap capek, siap bekerja dengan rajin, dan siap untuk tidak mundur. “jangan menyerah” bagi wirausaha artinya adalah memiliki daya resiliensi. Daya untuk tetap focus dan bertahan untuk mengembangkan bisnis. perjalanan bisnis tidak melulu memberi hasil signifikan. Terkadang ia tidak sesuai harapan. Di titik ini, cukup hasilkan progress yang terukur dari waktu ke waktu.

 

Terus belajar, eksekusi, evaluasi. Menjadi wirausaha di awal – awal artinya harus siap menjadi pembelajar. Harus siap bekerja tanpa libur. Dan menjadi self employee di awal - awal proses bisnis. Lakukan evaluasi berkala pada bisnis dengan parameter yang jelas. Utamanya aspek keuangan. Minimal kuasai tiga dari empat laporan keuangan sederhana : posisi keuangan, arus kas, dan laba rugi. Jika rugi kira – kira kenapa. Jika belum signifikan masalahnya dimana. Jika ternyata salah arah, jangan takut untuk pivot. Mengarahkan sumberdaya yang ada ke tujuan baru yang lebih realistis.

 

Menjadi wirausaha merupakan panggilan mulia. Namun ini bukan hadir tanpa risiko. Menjadi wirausaha artinya menjadi pemilik dari sebuah bisnis. artinya harus bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada bisnis. baik suka maupun duka. Baik konsep maupun implementasi lapangan.

 

Proses bisnis tidak pernah instan. Harta benda dan kebebasan waktu adalah buah dari kematangan bisnis. bisnis yang sudah memiliki tatanan baik sehingga memungkinkan untuk pemiliknya mengambil libur di akhir minggu dan cuti pada waktu tertentu.

 

Menjadi berhasil dalam bisnis alias kaya di mata orang lain bukan berarti tidak memiliki masalah keuangan. Masalah keuangan selalu hadir di seluruh level sosial ekonomi.

 

Bagi pemilik bisnis (wirausaha) sukses. Masalah bukan lagi tentang tidak bisa membeli barang. Tapi tentang legacy. Siapa yang akan meneruskan bisnis. mengkader generasi penerus agar bisnis tetap jaya (sudah banyak bukan contoh bisnis yang lama berdiri pada akhirnya runtuh juga ?).

 

Bagaimana diversifikasi aset. apa yang harus dilakukan jika sentral bisnis meninggal dunia tiba – tiba. Bagaimana menyiapkan surat wasiat yang adil.

Karena bisnis ibarat memiliki, merawat dan membesarkan bayi. Yang mana di masa depan bayi tersebut akan tumbuh, berkembang, berumur, dan menghidupi banyak orang.

 

Menjadi wirausaha sukses bukan hanya tentang rekening prioritas di seluruh bank negara. Bukan tentang menjadi pembicara dan menyebarkan virus sukses untuk menciptakan lapangan – lapangan kerja baru. Wirausaha lebih dari itu. Menjadi bos artinya siap memberi santunan kematian, menyekolahkan anak karyawan, dan membantu terselenggaranya pesta perkawinan layak. Pun siap kepala dingin berhadapan dengan gejolak internal – eksternal dunia usaha.

 

Kalau hanya ingin kaya dan menjadi bos, jalannya tidak melulu harus menjadi wirausaha. Tingkatkan skill, banyak belajar dan berada di lingkungan positif. Ada banyak pekerjaan remote di luar sana yang memungkinkan kamu bekerja dengan pemasukan dollar, pengeluaran rupiah, dan tetap di rumah.  Ada pula kantor – kantor yang mengizinkan karyawannya tidak selalu harus ngantor tiap hari. Menjadi pedagang juga bisa selalu ngendon di toko saja tidak kemana mana karena menerapkan supplier yang langsung antar. Profesi apapun itu sama terhormatnya. Kaya itu buah kesabaran (atau warisan). Setiap orang memiliki privilege masing – masing. Menjadi wirausaha apalagi di usia muda sangat boleh. namun pastikan mimpi dan ambisinya berada di roadmap yang jelas.  Karena keinginan menjadi wirausaha itu berbeda tipis dengan keinginan menjadi pemalas. (***)

 

 

 

 

Penulis                       :Faizah

Editor                         :Akbar

Article Lainnya


UMP 2022 Naik Rp33 Ribu, Wagub Kaltim Minta Pekerja Bersyukur

UMP 2022 Naik Rp33 Ribu, Wagub Kaltim Minta Pekerja Bersyukur

PARADASE.id - Pemerintah telah menetapkan rata-rata kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) nasional se...

31.624 ASN Terima Bansos, Tri Rismaharini: Akan Dikembalikan ke Daerah

31.624 ASN Terima Bansos, Tri Rismaharini: Akan Dikembalikan ke Daerah

PARADASE.id - Puluhan ribu data Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang masih aktif ditemukan sebagai peneri...

Bantu Warga Terdampak Banjir, Rumah Sakit Amalia  Lakukan Pemeriksaan Gratis

Bantu Warga Terdampak Banjir, Rumah Sakit Amalia Lakukan Pemeriksaan Gratis

PARADASE.id - Banjir yang melanda di beberapa wilayah Kota Bontang pada Selasa (9/11/2021) kem...

Toko Tani Indonesia Hadir di Bontang, Wawali Dorong Sistem Pertanian Berkelanjutan Diterapkan

Toko Tani Indonesia Hadir di Bontang, Wawali Dorong Sistem Pertanian Berkelanjutan Diterapkan

PARADASE.id - Wakil Wali Kota Bontang Najirah Adi Dharma meluncurkan Toko Tani Indonesia (TTI). Pelu...

JELAJAH