Kembali ke Artikel
Dinding Bata dan Sesap Kopi
25 Oct/2020

Dinding Bata dan Sesap Kopi

25 Oct 2020 In Way

Inway # 118

 

Oleh : Rusmiati Indrayani 

 

Di masa pandemi bisnis penjualan kopi seperti sama sekali tidak tersentuh kemurungan. Bukan hanya pandai  bertahan, kafe pinggir jalan bahkan subur 200% dibandingkan sebelumnya. Anjuran mematuhi protokol kesehatan bagi penggemar kopi pun tidak luput perhatian supaya penikmat kopi aman dari razia karena melanggar aturan. Hampir setiap minggu plang bergambar cangkir atau butir biji kopi dengan penamaan yang kreatif menghadang penglihatan setiap melintas di jalan lapis pertama.

 

Kafe identik dengan pencahayaan sedang. Kalau diamati hampir seluruh kafe kekinian menawarkan kopi sebagai menu unggulan. Di sepanjang jalan lapis utama ada kafe teras kota, kopi janji jiwa dan tersedia juga kopi rasa sayang. Teknik pembuatan pun beragam ; dari sachetan digrujuk air bersuhu maksimal atau kopi lokal yang digrinding olah kecakapan seorang barista. Kopi selain perkara harga dia semata-mata masalah selera. Penggemar kopi akan menemukan kelasnya sendiri ketika lidah menyesap aroma yang kawin dengan rasa kopi sejati. Kopi bukan selesai pada gengsi. Karena kopi menawarkan sensasi istimewa dalam setiap sesap yang sempurna.   

 

Urusan sempurna inilah yang membedakan derajat penggemar kopi satu dengan lainnya. Konon masalah kopi adalah masalah hati. Beberapa perkara cukup tuntas setelah menyeruput secangkir kopi. Jadi selain soal selera masalah kopi ada pada daya penyembuh luka. Penawar yang dapat membuat pikiran menjadi terbuka lalu pulang ke rumah menenteng hati yang bahagia.

 

Beberapa pekan di belakang, saya dan Fatima menghabiskan akhir pekan di jalan kota yang mengulurkan tirai temaram. Ketika membelokkan roda mobil di sebuah area parkir restoran berkonsep etnik, kami merasakan satu hal sama ; menghabiskan senja hingga malam di hadapan secangkir kopi. Adzan yang bergema merdu dari masjid besar istoqomah membuat perasaan terdalam dibungkus kesejukan berlimpah.

 

Duduk di kafe dengan kaki lurus menjulur, kami mengambil area yang menatap dinding bata, sengaja memilih sebuah pojok di area terbuka. Di sana bermandi cahaya lampu, deretan batang bambu bersandar pada dinding batu. Tidak diplester dibiarkan terbuka begitu saja.

Lalu Fatima mengamati daftar pilihan makanan dan minuman, dia memesan kopi toraja kalosi. Kopi ini berasal dari dua daerah yang berbeda. Biji kopi toraja kalosi ditanam di daerah pegunungan tinggi Sulawesi. Sedangkan Kalosi adalah nama daerah di sebuah kota kecil Sulawesi Selatan yang menjadi tempat pengumpul kopi dari kawasan sekitarnya. Toraja adalah daerah di Sulawesi tempat di mana kopi tersebut tumbuh. 

Nama lain yang disematkan kepada kopi toraja adalah “Queen of Coffe” Queen yang memakai mahkota Tiara bersusun tiga karena memiliki taste seimbang dan rasa unik dengan tingkat keasaman rendah. Bertekstur lembut digenapi kekuatan floral dan fruty pada  setiap sensasi sesapnya.

 

Di hadapan secangkir dan secangkir kopi, kami menjemput malam dan bercerita macam-maca. Berbicara tanpa rahasia bagai sepasang sahabat lama. Saling mendukung perasaan dan memberikan kekuatan menyongsong setiap langkah kecil yang kami jejakkan. Singgah di pendengaran, alunan musik sayup menyela telinga dengan liriknya yang melenakan dan bunyi blender bersahutan. Kami berbincang hingga kedalaman jiwa. 

Dari sekedar mengulas politik praktis hingga konsep diri dan pengaruh perasaan terhadap kesehatan mental.

 

Di menara masjid yang sama kumandang azdan isya menjadi penanda malam datang bersungguh-sungguh. 

Senja sudah jauh tertinggal dan membiarkan malam membawa persoalannya sendiri. 

Satu yang pasti selalu dengan kopi. 

Kopi seperti sebuah jawaban dan janji hati. Jawaban untuk sebuah persoalan beserta cara supaya kaki tegak berdiri. Kopi juga menjadi semacam janji hati yang berani berterus terang dan tumpuan rasa percaya pada diri sendiri. Tentang sebuah takdir yang harus dijalani. 

Suka atau tidak kita hanya perlu berjalan dan jangan sekali-kali berhenti. 

Jika perlu rehat, carilah sebuah tempat istirahat yang menyediakan kopi yang berkhasiat menyembuhkan.

Article Lainnya


Marak Aksi Pengawasan, Bawaslu Larang Warga Lakukan Penindakan

Marak Aksi Pengawasan, Bawaslu Larang Warga Lakukan Penindakan

PARADASE.id - Tingginya animo masyarakat dalam mengawasi jalannya Pilkada Bontang 2020 dianggap sang...

Weighted Blanket : Cara Baru Menyayangi Diri Sendiri

Weighted Blanket : Cara Baru Menyayangi Diri Sendiri

ada cara baru menyayangi diri sendiri : weighted blanket namanya. dalam situasi pandemi beg...

Survei INDO Barometer: Neni-Joni Unggul 53 Persen, Sebutkan Warga Bontang Puas Kinerja Neni Moerneini

Survei INDO Barometer: Neni-Joni Unggul 53 Persen, Sebutkan Warga Bontang Puas Kinerja Neni Moerneini

PARADASE.id - Lembaga Survei Indonesia (LSI) Indo Barometer (IB) merilis hasil survei elektabilitas ...

Jelang Natal dan Tahun Baru, Polres Bontang Siapkan 3 Posko Pengamanan

Jelang Natal dan Tahun Baru, Polres Bontang Siapkan 3 Posko Pengamanan

PARADASE.id - Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2021, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bonta...

JELAJAH