Kembali ke Artikel
Diary of Auckland - Mendaki Puncak PhD
27 Sep/2021

Diary of Auckland - Mendaki Puncak PhD

bagi beberapa orang, studi doktoral serupa mendaki Gunung Kelua. beberapa yang lain, rasanya seperti mendaki Gunung Everest. tergantung kekuatan pendaki, tinggi gunung, mental yang kuat, bekal yang cukup, dan persiapan yang matang. dalam perjalanannya, ada yang bekalnya sangat cukup dari awal hingga akhir. tidak jarang yang bebannya semakin menjulang, sementara bekalnya semakin menipis. atau bekal habis di tengah jalan, sehingga memutar otak sedemikian rupa agar tetap bertahan di jalan doktoral.

 

saya, adalah yang kehabisan bekal di tengah jalan. tepat 48 bulan setelah menginjakkan kaki di Auckland, bekal saya habis. saya lalu memutuskan bertahan di Auckland demi menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. saat itu oktober 2019, Allah the nourisher memelihara harapan saya dalam perjalanan doktoral ini. saya, dipelihara Allah untuk tetap sekolah melalui penghasilan non permanen sebagai Student Centre Assistant. tak lama berselang, di bulan Juni 2017 saya diberi amanah sebagai pegawai tetap untuk posisi Academic Service Coordinator hingga saat ini. dari sinilah Allah selamatkan sekolah dan piring nasi saya. menjadi tulang punggung keluarga, mendampingi suami yang menjalani ujian penyakit kanker, menyelamatkan Najwa, bertarung hak asuh, sembari langkah - langkah kecil ini tak henti mengayuh progress sebagai PhD student.

 

kata supervisor saya, meraih gelar doktor itu seperti orang melahirkan. pembukaan 1, pembukaan 2, kontraksi semakin cepat, semakin kuat, dan deadline semakin rapat. dan kita, harus kuat melewati proses demi proses tersebut. kadang kau tidak tidur semalaman demi menyelesaikan appendix. atau, dalam satu hari kau bisa submit tulisan sampai tiga kali. yang artinya, harus mau merevisi dalam waktu singkat. butuh komitmen, kemauan, dan keberanian untuk menyelesaikan PhD. sama persis seperti orang yang mau melahirkan. and sometimes, all you need is one PUSH untuk melahirkan bayi tesismu. saat itulah, kekuatan bertahanmu diuji. apa yang mampu kau kerahkan di saat tenagamu sudah hampir habis. kau harus mengeluarkan tenaga besar untuk last push itu. tapi setelahnya, seperti layaknya melahirkan bayi. begitu bayi tiba di tanganmu, seluruh lelah dan tangis perjuangan melahirkan itu sirna. berganti dengan kebahagiaan akan lahirnya dirimu yang baru. kau akan berubah dari Master menjadi Doktor.

 

penelitian doktoral saya adalah tentang Green Chemistry Education and Chemical Literacy. secara sederhana penelitian saya mengenai prinsip green chemistry. yaitu : mengganti yang beracun, mengurangi yang berbahaya, dan mengeliminasi limbah. prinsip ini hanya akan bisa bermakna melalui medium edukasi yang baik. ketika prinsip sudah berjalan dengan baik melalui pendidikan, maka akan muncul kekuatan untuk melakukan ecoreflexive action di karakter para pelajar. ketika ini jalan, maka pelajar akan memiliki kemampuan yang dinamakan critical scientific literacy. sehingga sebagai pelajar sampai seterusnya dia nggak hanya menghapal sains saja. namun juga bisa menggunakan sains tersebut untuk mempengaruhi keputusannya di bidang ekonomi, politik, dan sosial.  

 

PhD saya bukan kuantitatif. yang flow nya membuat hipotesis,  mengumpulkan data, masukkan software. lalu keluar hasil, hipotesis diterima atau ditolak. kemudian membuat argumen kenapa hasilnya begitu. penelitian saya kualitatif tentang perspektif guru. yang dikaji tidak hanya satu, tapi dua : chemical literacy dan green chemistry education

 

untuk chemical literacy mungkin sudah banyak framework bertebaran, tapi untuk green chemistry education, saya harus mengembangkan framework sendiri yang mana framework ini harus bisa bekerja secara kualitatif untuk menganalisa pendapat guru. literatur review saya juga bertambah dari yang tadinya satu menjadi dua.  latar belakang masalah saya berangkat dari tambang di Samarinda dan hubungannya dengan socio eco justice value.

 

background akademik saya selama ini adalah positivist. biasa bermain di angka dan eksak. sekarang, penelitian saya mengarah ke analisis pandangan manusia di bawah paradigma interpretivist yang liar sekali terjemahannya. kenapa liar ? karena saat saya analisa satu hal sebagai A, saya selalu ditanya balik kenapa bukan B. ketika saya mulai merasa B lebih masuk akal, kembali ditantang kalau C bagaimana ? inilah beratnya penelitian kualitatif.

 

penelitian saya ini memacu saya membawa science across sector. mulai dari politik, feminisme, agama, dan ekonomi. bukan lagi di level model belajar A atau B. namun, sudah harus berupa framework yang bisa jadi dasar untuk model pembelajaran - pembelajaran itu.

 

Resilience, a Word That Makes Someone Become a Doctor

 

ada hantu di tesis PhD saya : namanya finding chapter 7. bab ini tidak berisi banyak kata. hanya sekitar 11.000 an kata saja. namun untuk membuat ia yang tadinya hantu menjadi nyata adalah melalui serangkaian tangisan dan ketabahan untuk menyusun teori yang solid. 

 

saat itu saya sudah menulis dengan seluruh kemampuan saya. mambangun framework yang hanya berakhir dirombak total oleh supervisor karena dianggap tidak bisa berjalan. saya mengerjakan bab tersebut mulai dari bulan maret sampai september.  saya terisak, menerima kenyataan kerjaan saya masuk ke dalam unused folder sembari membatin "ini kapan selesainya ya ?" ditambah "kayaknya saya adalah manusia terbodoh di dunia".

 

chapter finding ini benar - benar hantu gila bagi saya. karena hasilnya bukan angka, tapi interpretasi. yang harus didukung argumen dan bukti. terus harus bisa memahamkan pembaca, yang dalam hal ini adalah supervisor saya bahwa saya percaya A adalah A. bukan B,C,D, atau E.

 

masya Allah, berdarah sekali pokoknya.

 

nah setiap chapter itu ada tantangannya sendiri - sendiri. di finding chapter ini, saya bertemu dengan tantangan berupa interpretasi data. saya taruh sebuah statement di grup A, ditanya kok nggak di grup B. belum lagi terjemahan dari kalimat bahasa asli yang membuat saya tersesat dalam lost in translating (salah satu kelemahan penelitian kualitatif). belum lagi discussion parallel dengan literature review. ada lagi masalahnya, paragraf kurang nge-flow. argumen kurang tajam. hubungannya dengan rumusan masalah nggak ada.

 

haha. asem.

 

tempaan nya horor sih, digilas, digulung, diratakan lagi, ditempa sampai mengkilat. 

 

lain lagi cerita chapter 2. ceritanya saya mau ambil quote Mahatma Gandhi. karena chapter 2 ini akan menghubung ke environmental destruction di Kaltim. setelah saya submit ke supervisor, eh kena komen lah. rombak lagi chapternya. quote nya diminta ganti juga. diarahkan ambil quote punya Tyson karena quote tersebut tentang pengertian dan pemberdayaan yang dirasa dekat dengan chemical literacy. kata beliau kalau kita nggak tau trus jadi tau, itu menciptakan sense of empowerment karena kita merasa kita bisa. itulah foundation argument kenapa lebih baik pakai quote dari Tyson daripada Mahatma Gandhi. 

 

itu baru quote. kemudian di tengah chapter disuruh rombak lagi. bagian demi bagian di lay-out biar nyambung. lalu paragrafnya harus nge-flow. kalau modal copy - paste pasti kena detect plagiarisme. jadi agar selamat harus bisa inferensi sambil memilih bagian - bagian literatur yang pas untuk mendukung argumen.

 

kalimatnya harus tepat, padat, jelas. mengulang hal yang sama juga jadi jebakan batman. karena kita sebagai penulis cenderung mengulang padahal isinya sama aja. lalu menyusun chapter thesis doktoral itu bukan seperti tulisan ilmiah biasa. harus ada "cerita' nya. pusing dah.  

  

It is a Painful Process, Nurul. But I am Shaping You for The World..

 

butuh waktu satu tahun hanya untuk proposal. satu tahun lain untuk ambil data dan transcribing plus translating. dua tahun lainnya habis hanya untuk menulis metodologi plus findings chapter. terakhir, masuk ke tahap discussion. itupun belum digabung semua chapter - chapternya. nanti kalau digabung semua, pasti ada masalah lagi dengan coherency nya. setelah submit pun dengan seluruh dramanya akan ada ujian lagi dari luar New Zealand. lalu revisi lagi sebelum akhirnya menyandang gelar Doktor. 

 

iya, sebuah perjalanan panjang dan terjal dalam upaya meraih gelar doktor.

 

namun, perjalanan ini mengajarkan saya bahagianya merayakan kemajuan sekecil apapun itu. rasanya benar - benar luar biasa mendengar komentar supervisor saya ; seorang pakar penelitian kualitatif di science education, mengatakan "good work", "well done", "nice link", "very good", "great analysis", "good interpretation". apalagi setelah itu beliau mengambil salah satu buku karya beliau lalu mengarahkan saya untuk membaca buku tersebut untuk menghaluskan bagian akhir bab tersebut.

 

apresiasi yang mungkin terasa biasa saja, toh setelah itu masih harus merombak beberapa bagian lagi dan merevisi bagian lainnya. namun peristiwa di atas adalah satu dari pencapaian - pencapaian yang menjaga api dalam langkah kecil ini

 

at the end of the day, life is about trial and error. yang penting no matter how many errors we got, do not stop trial. coba aja terus, ntar pasti kena. capek boleh, berhenti jangan. PhD ada bukan untuk memenuhi ego akademisi. tapi ia ada untuk membentuk versi terbaik diri kita dalam hidup.

 

kalau kata Albert Einstein, “The more I learn, the more I realize how much I don’t know”, jangan berharap ingin pintar dari PhD. karena di atas langit masih ada lagit. penerima hadiah nobel, peneliti senior, peneliti bergengsi yang mengubah dunia, banyak mereka yang masih hidup dan bertebaran di bumi ini.

 

namun, esensi belajar itu seperti padi. semakin berisi semakin merunduk. satu hal yang bisa saya bilang : PhD akan membuat kamu bijaksana. kamu akan tahu bahwa kamu tidak tahu atau baru sedikit tahu. atau tahu bahwa kamu pernah berpikir bahwa kamu tahu, tapi ternyata tidak begitu tahu. atau tahu bahwa tidak semua yang kamu tahu itu benar."

 

bukankah ide pendidikan dan penelitian pada awalnya adalah belajar bagaimana caranya belajar ?

 

a little note for pursuing a PhDwell done untuk terus menulis meskipun hidup tidak mudah. well done untuk tak pernah menyerah dan terus berjuang di PhD ini. we are sure, on the day you put that doctoral regalia on your shoulder, you know you have earned your PhD

 

udah ya, nerve releasing nya. saya lanjut lagi nulis thesisnya.....

 

terima kasih sudah membaca

 

 

Cerita : Nurul Kasyfita

Narator : Faizah Riffat

Editor : Ibob Baros 

Seri : Diary of Auckland 

Article Lainnya


Diskominfo Bontang: Ada Warga yang Menolak Pemasangan WiFi Gratis

Diskominfo Bontang: Ada Warga yang Menolak Pemasangan WiFi Gratis

PARADASE.id - Kepala Bidang Penyelenggaraan e-Government Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominf...

Penanganan RTLH di Kaltim Capai 15.072 Unit

Penanganan RTLH di Kaltim Capai 15.072 Unit

PARADASE.id - Gubernur Kaltim Isran Noor, menyerahkan bantuan program Rumah Layak Huni (RLH) melalui...

Tema Kafe Dakwah

Tema Kafe Dakwah

Inway#159 Oleh : Rusmiati Indrayani Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra p...

Asik Main, Seorang Anak di  Kampung Mandar Lok Tuan Diserang Buaya

Asik Main, Seorang Anak di Kampung Mandar Lok Tuan Diserang Buaya

PARADASE.id - Buaya di Kampung Mandar Kelurahan Lok Tuan kembali berulah. Bocah berusia 6 tahun yang...

JELAJAH