Kembali ke Artikel
Diam Mama Credit: Antonietta Marrocchella/Imagezoo/Getty Images
13 Jan/2021

Diam Mama

13 Jan 2021 Cerita

Oleh: Inui Nurhikmah*

 

Bagaimana asal mulanya, tak seorang pun tahu. Tidak Anton, tidak Sri, tidak juga Bapak.  Mendadak saja Mama diam. Diam seribu bahasa. Walau pun semua pekerjaan rumah tetap dilakukannya seperti biasa, memasak, mencuci, membersihkan rumah.

 

“Aku rasa, kamu bikin kesal Mama!”  Leli menuduh Anton.

 

“Enak aja main tunjuk,” bantah Anton kasar. “Aku enggak berbuat lain dari biasanya. Mbak Sri, tuh!”

 

“Aku? Kenapa aku?” Sri menatap dingin.

 

“Halaah … pura-pura. Beny itu apamu?”

 

“Jangan sok suci! Kau kira aku enggak tahu apa isi laci lemarimu, heh?” Sri mendadak berkacak pinggang menghadapi adik lelakinya.

 

“Jadi kamu masuk kamarku dan membongkari barang-barangku? Pantas ….”

 

“Pantas apa, hayo! Pantas untuk dilaporkan ke polisi?”

 

Wajah Anton memerah. Dengan berang dia membalikkan badan dan keluar dari dapur dengan langkah ribut.

 

Masih dengan napas tersengal-sengal Sri kembali duduk.

 

“Tenang dulu,” Leli menyabarkan. “Kalau setiap diskusi ribut begini, kapan kita bisa dapat jawabannya?”

 

“Habis anak itu kian hari kian menyebalkan. Enggak bisa dibiarin!” Sri mendelik.

 

“Menurutmu, apakah Mama juga tahu perbuatan Anton?” Leli bertanya.

 

“Pasti!”  Sri mengangguk yakin. “Mama sering merapikan kamarnya. Tentu Mama melihat pula isi laci lemarinya. Ganja, obat-obatan dan alat hisap apalah itu.”

 

“Kira-kira, sudah lama Mama tahu?” selidik Leli lebih lanjut.

 

“Entah. Mungkin.”

 

“Nah, jika sudah lama, kenapa baru-baru ini saja Mama marah?”

 

Sri mengangkat bahu.

 

Saat itu terdengar suara memberi salam.  Lalu muncul seorang lelaki di ambang pintu dapur.

 

“Eh, Mas Dino!”  seru Leli.  “Baru tiba?  Sendirian?”

 

“Iya, anak isteriku enggak ikut.   Yuni sudah datang?” 

 

“Belum, Mas, “  sahut Sri.  “Duduk dulu, biar saya bikinkan teh.  Tadi naik bus?”

 

“Naik kereta.  Aduh, gerahnya.

 

“Mana Mama?”  mendadak suara Dino merendah.

 

“Di kamar,”  sahut Sri sambil menyeduh teh.

 

“Kau sudah ketemu?”  tanya Dino kepada Leli.

 

“Sudah.  Pagi tadi begitu tiba di sini, aku langsung bertemu.  Kebetulan Mama lagi masak.”

 

“Bagaimana …”  Dino ragu,  “kelihatannya?”

 

Leli menghela napas.  Wajahnya muram.

 

“Ya, begitu.  Tak sepatah pun bertanya atau membalas sapaanku.  Diaaam … saja sambil kerja di dapur.”  Suara Leli mulai serak. 

 

Dino meneguk teh hangat yang baru dihidangkan di hadapannya. 

 

“Kau bilang di SMS, sudah sepuluh hari ya?”

 

“Dengan hari ini, sudah dua belas hari,”  jawab Sri.

 

“Apa sih maksud Mama,”  desah Dino.

 

“Kurasa Mama marah ….”

 

“Pada siapa?”

 

Sri tak menyahut.  Dia membuang muka.  Tiba-tiba saja wajah Leli dan Dino memerah.

 

“Apakah … sebaiknya kita minta maaf?”  tanya Dino.

 

“Aku … ah, entahlah.  Kita tunggu saja Mbak Yuni.”

 

“Kurasa dia datang sore ini juga.  Di telepon pagi tadi dia bilang begitu,”  Sri menerangkan. 

 

“Bapak mana? Di … di … rumah isteri mudanya?”  Dino bertanya lagi.

 

“Mungkin.  Sejak pagi aku ke mari, sudah tidak ada,”  sahut Leli.

 

“Maukah Mas Dino bicara dengan Bapak?” tanya Sri penuh harap.

 

“Tentang Mama?”

 

“Iya.”

 

“Kenapa tidak kau saja?  Kau setiap hari ketemu Bapak,”  balas Dino.

 

“Aku takut.”  Sri menggigit bibir.  “Jangankan bicara tentang Mama, menyapa saja kadang aku dibentak.”

 

“Mungkin Mama sangat marah pada Bapak?”  Leli bertanya pelan.

 

“Bisa jadi.  Tapi waktu ketahuan kami, maksudku, aku, Anton, Mama, bahwa Bapak beristeri lagi, Mama tidak emosi betul.  Dan itu sudah tiga bulan yang lalu.  Mengapa baru sekarang Mama diam?”  Sri memelintir-melintir ujung bajunya dengan gelisah.

 

“Atau … padamu?”  Leli berkata hati-hati.

 

Wajah Sri memerah.

 

“Tapi Mama sudah lama juga tahu hubunganku dengan Bang Beny.  Waktu baru tahu, Mama memang … marah.  Tapi setelah itu mama menegurku lagi, kok.”

 

“Hubunganmu sendiri dengan Beny itu, bagaimana?”  tanya Dino.

 

“Isteri Bang Beny masih tidak mau diceraikan.  Jadi, ya begitu, aku masih menunggu.”

 

“Kenapa sih mesti suka sama lelaki yang sudah berkeluarga, Sri,”  keluh Leli.

 

Sri tak menyahut.  Rahangnya mengeras.  Lalu tiba-tiba dia berkata pada Dino,

 

“Mas, sini saya bawakan kopernya ke kamar.”  Ditentengnya barang bawaan Dino, lalu keluar dari dapur tanpa berpaling lagi.

 

Leli terdiam sambil memandangi rak piring.  Dino menekuri cangkir kosong di tangannya.

 

“Mandi dulu, Mas.  Sebentar lagi senja,”  kata Leli akhirnya.

 

*   *   *

 

Selepas salat Magrib, Mama keluar dari kamar.  Ditatanya meja untuk makan lima orang.  Leli dan Sri ikut membantu sambil mencuri-curi pandang.  Dino duduk di ruang tamu bersama Bapak.   Ketika semua telah siap, mereka pun makan, dalam kesunyian.  Semua diam.  Sekali Dino menawarkan ikan goreng pada Mama.  Mama mengambil sedikit, tapi matanya menatap ke lain.  Wajahnya tenang.  Seolah dia seorang diri di rumah ini.

 

Usai makan, Mama mencuci piring.  Sri membantu mengangkat ke rak, Leli mengeringkan dan menyusunnya.  Setelah itu Mama kembali ke kamar.  Lalu pintu ditutupnya tanpa suara.

 

Tak tahan lagi, Dino pergi ke beranda, duduk di dekat Bapak yang sedang merokok.

 

“Pak,”  tegurnya.

 

Bapak tidak menyahut.  Dia hanya memandangi kepulan asap yang keluar dari mulut dan hidungnya.

 

“Pak,”  ulang Dino.

 

“Hm … “

 

“Saya tiba sore tadi.”

 

“…”

 

“Saya beberapa kali ditelepon Sri, Leli, dan Yuni juga.”

 

Dino diam.  Bapak juga diam.  Akhirnya Dino melanjutkan,

 

“Kata Sri, sudah dua belas hari Mama membisu.”

 

“Lalu?...”  sahut Bapak.

 

Dino meneguk ludah.  Wajahnya mulai memerah.

 

“Apakah … Bapak tahu sebabnya?”

 

“Tidak.”

 

Dino menggigit bibir.

 

“Bapak tidak mencari tahu?  Bapak membiarkan saja?”

 

“Kenapa mesti sibuk?  Mamamu mau diam, itu maunya dia.”

 

“Oh ya?!”  Dino meledak,  “Suami macam apa itu?”  desisnya.

 

“Kalau kau mau tahu sebabnya, tanya saja sendiri.”  Bapak menatap dingin.  “Atau kau takut?  Malu?” 

 

Napas Dino mendengus-dengus.

 

“Kau pasti malu.”  Bapak tersenyum sinis. 

 

Wajah Dino berganti-ganti merah dan pucat.  Tangannya mencengkeram lengan kursi.  Sementara Bapak kembali mengisap rokok.

 

Saat itu tiba-tiba saja berhenti sebuah mobil di pinggir jalan.  Lalu seorang wanita turun.  Dibukanya pintu pagar, dan masuklah dia dengan riang.

 

“Hai Dino, hai Papa!”

 

Dino beranjak dari kursi, menyambut wanita itu.  Tapi sempat didengarnya Bapak mendengus jijik.

 

“Masuk, Mbak Yuni.”  Dino menarik tangan wanita tersebut.

 

“Papa di sini saja?  Hati-hati lho, banyak angin.  Sri mana?  Anton?  Leli sudah datang?”

 

Yuni memasuki ruang tamu sambil digandeng Dino.

 

“Mama?”  bisik Yuni mendadak.

 

Dino menunjuk sebuah kamar tidur yang pintunya tertutup.

 

“Betul Mama enggak mau ngomong?”

 

Dino mengangguk.

 

Yuni melepaskan gandengan tangan adiknya.  Perlahan dia menuju kamar tidur Mama, lalu mengetuk daun pintu.

 

“Mama?”  panggilnya.  Tak ada sahutan.  Ditunggunya sejenak, lalu diulanginya lagi.

 

“Biasanya tidak dikunci,”  bisik Sri yang tiba-tiba saja muncul bersama Leli.

 

Yuni mendorong daun pintu dan masuk dengan hati-hati.

 

Ruangan remang-remang, tapi tampak jelas Mama berbaring telentang di atas ranjang.  Selimut kain batik menutupi tubuhnya dengan rapi.

 

“Ma, ini saya, Yuni.”

 

Tak sehelaan napas pun kata-kata itu memengaruhi Mama. Dia diam saja.  Tenang, bagai tidur, walau matanya terbuka menatap langit-langit.

 

“Saya bawakan kain kebaya untuk Mama.  Ada juga mangga manis.  Mau saya kupaskan?”  tanya Yuni.  Lalu diambilnya sehelai kain berwarna hijau muda bermotif coklat dan ungu dari dalam tas yang dibawanya.  Kemudian diletakkannya di atas ranjang di dekat kaki Mama.  Tapi Mama tetap diam.  Akhirnya Yuni menghela napas dan beranjak pergi ke luar kamar.  Ketika dirapatkannya daun pintu, dia terisak-isak.

 

“Bagaimana, Mbak?”  tanya Leli resah.

 

“Mama dieeem … aja.  Hik-hik …. Sri, itu kubawakan kalung untukmu.  Hik … ada celana jin untuk Anton.  Mana dia?  Hik-hik ….”

 

Leli menggigit bibir.  Didorongnya daun pintu, lalu setelah masuk, dirapatkannya lagi.  Isak Yuni masih terdengar samar-samar.

 

Leli berdiri sejenak di samping ranjang, lalu berlutut dan diam. 

 

“Ma,”  bisiknya.  “Saya akan bercerai dengan Bang Handi.”

 

Tak ada sahutan.

 

Leli melanjutkan,

 

“Dia tahu … tentang … saya dengan Jerry.  Dia tidak marah, tapi ingin segera berpisah.  Mungkin bulan depan kami ke Kantor Agama.”

 

Leli diam sejenak.

 

“Setelah itu, saya tak tahu harus ke mana.  Boleh … boleh … saya tinggal di sini?”

 

Leli menunggu tak kurang dari tiga menit, tapi hanya napas Mama yang terdengar.  Tak ada selain itu.

 

“Maafkan saya, Mama,”  akhirnya Leli berdiri dan beranjak pergi.

 

Muncul di ambang pintu, tiga pasang mata menyergap Leli.  Tapi dia tak membalasnya.  Dia berjalan cepat ke dapur dan duduk disana.

 

Dino menghela napas dua-tiga kali.  Dikepalkannya tangannya.  Lalu sekali lagi dia menghirup napas panjang, didorongnya daun pintu.  Mama masih berbaring telentang di keremangan.

 

Dino duduk di pinggir ranjang, di dekat kaki Mama.

 

“Saya tiba sore tadi.  Maria titip salam.”

 

Mama bergeming. Tanda bahwa dia masih hidup, hanya alunan gerak napas di dadanya.

 

“Semua barang, juga rumah kami, disita.  Selesai pengadilan, kami akan pergi jauh.  Mungkin Papua, mungkin Kalimantan.”  Dino diam sejenak.  Disentuhnya jari-jemari Mama yang terlapisi selimut.

 

“Mama ada nasihat untuk saya?”

 

Tak ada sahutan.

 

“Mungkin nanti lama sekali kita tak akan bertemu.  Tidakkah … tidakkah … Mama ingin mengucapkan sesuatu pada saya?”

Hening. (*)

 

Samarinda, 12 Januari 1992-10 Januari 2020

 

*Sejak remaja, penulis telah rutin menulis cerita roman serta artikel, dan sempat dimuat di beberapa majalah dan koran. Sempat terhenti hingga kini mulai aktif lagi menulis. Di sela tugas pada Dinas Perpustakaan Kota Samarinda, juga menjadi mentor pada grup menulis daring. Diam Mama adalah cerpen lama yang ditulis ulang dan dirampungkan setelah dua puluh delapan tahun kemudian.

Article Lainnya


 Menulis Setelah Luka

Menulis Setelah Luka

Cerita Oleh : Indrayani Indra Membuat karangan ? Meskipun tema bebas, itu tetap saja harus ...

Lelaki dari Shift Malam

Lelaki dari Shift Malam

OLeh : Indrayani Indra Sabtu. Akhir pekan yang lengang. Jalan raya kesepian dan alun-alun k...

Mawar Putih Persahabatan

Mawar Putih Persahabatan

CERITA : Oleh Indrayani Indra Rumpun bambu bergesekan diterpa angin pukul 16.00. Daun bambu yang hi...

Kicau Anisa

Kicau Anisa

CERITA : Oleh Indrayani Indra “Aduuuh, kenapa datang lagi ?” kata A...

JELAJAH