Kembali ke Artikel
Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya Ilustrasi. (Google Image)
20 Nov/2020

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

20 Nov 2020 Cerita

Bangunan kampus itu tetap sama seperti saat ia ada di sana, empat pilar utama berwarna hijau pupus menyangga gedung bagian depan dengan dinding berwarna putih sebagai latarnya. Terletak di tepi jalan lapis pertama, suasana lingkungan kampus beradu sibuk dengan hiruk pikuk kendaraan yang melintas sepanjang jam kerja. Seorang lelaki dengan rambut kepala memutih dan hampir tidak menyisakan dua tiga helai ruang rambut hitam, duduk di kursi penumpang sebelah sopir yang mengawaki kendaraannya. “Pelan-pelan,” katanya memerintahkan melalui isyarat tangan tanpa suara. Sopir tersebut lantas memelankan laju kendaraan dan mematuhi kemauan sang majikan tanpa pertanyaan. “Masuk ke kampus” katanya menunjuk, tidak mengubah arah pandangan mata yang sepanjang jalan lebih banyak lurus ke depan.

 

Roda empat memasuki kawasan kampus, dari kaca jendela lelaki itu mengamati bangunan gedung dan deretan pohon pinus yang derak pucuknya mengundang rasa rindu pada masa lalu. Lelaki yang pernah berjaya di masanya, menyandarkan punggung lebih dalam seraya menarik napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Ia menutup kelopak mata yang sarat keriput untuk memanggil kenangan, pulang sesaat ke masa muda meski semuanya tidak lagi sama. Usianya telah membatasi pengabdian yang harus dicukupkan oleh seorang pengajar di kampus berwarna hijau pupus dengan latar putih yang menyejukkan mata.

 

Ia pernah menduduki kursi pimpinan di sana. Sepuluh tahun memimpin kampus dan mendapatkan pengakuan setara perguruan tinggi negeri dengan akreditasi A.” Sumbangsihnyanya untuk kampus terkemuka di kota itu tidak terlupakan walaupun ruang kabin mobil senyap. Hening lantas lantang berteriak di antara mereka. Sementara roda kendaraan tetap melaju lamban menyusuri sepanjang kawasan hutan, kemudian berbelok mengitari sisi danau dan semakin memelan. 

 

Dua orang yang sedang berbincang di tepi jalan menghentikan obrolan dan dengan sikap tubuh yang sudah dikoreksi keduanya serentak membungkukkan badan, memberi penghormatan kepada sang penumpang. “Selamat siang Prof.” kata mereka hampir bersamaan. Penumpang mobil yang disapa Prof. mengangkat tangan dan menyunggingkan senyum ramah. Senyum yang meneduhkan. Senyum itu dalam banyak keadaan menjadi sebuah kebijaksanaan yang dilahirkannya tanpa banyak mengeluarkan omongan.

 

Mereka melanjutkan perbincangan sambil berjalan masuk ke sebuah ruangan.

 

“Saya tidak pernah bisa melupakan kebaikan Prof,” kata yang berwajah muda.

 

“ Sama, saya juga.” kata rekan kerja yang di punggungnya melekat sebuah ransel berisi laptop dan kabel charger.”

 

“Saya pernah terlambat dan memohon untuk diterima di kelas mata kuliah beliau.”

 

“Siapa yang tidak tahu bahwa Prof. adalah seseorang yang paling menjaga waktu. Beliau jika terlambat 15 menit maka jadwal kuliah dianggap kosong.”

 

“Tapi,” kata rekannya yang berwajah muda.

 

“Saya pernah terlambat dan memohon tetap ikut kelas beliau.”

 

“Dan jawabannya adalah boleh tapi tidak bisa mengisi daftar hadir.”

 

Mereka berdua tertawa dan suasana menggiring perbincangan tentang seseorang yang terus dikenang meskipun yang bersangkutan tidak memimpin kampus itu lagi.

 

Di tepi danaun itu desau angin siang mengirimkan aroma daun pinus tiba di ujung penciuman. Wanginya lirih menyela sekitar hidung dan mendatangkan kesegaran. Beberapa buahnya yang bercokelat berjatuhan di permukaan tanah dan terinjak oleh para pejalan kaki. Angin berderak menggerakkan batang tubuh pinus yang lansing. Gerakannya membuat angin semakin gemas atas nyanyian pucuk pinus yang mengajak ingatan pulang ke masa silam.

 

“Saat itu, sebelum memutuskan saya boleh atau tidak mengikuti mata kuliah, beliau menanyakan pendapat anggota kelas—“

 

“Kesepakatannya adalah boleh bergabung namun tidak dapat mengisi absensi kehadiran.”

 

“Benar sekali. Dan kesepakatan itulah yang berlaku.  Kebijaksanaan yang melegakan.

 

*

 

Roda mobil tetap melaju di jalan hingga menyentuh jalan buntu.

 

“Kembali ke jalan tadi.” kata sang penumpang seperti mengingat sesuatu.

 

Kendaraan kembali memelan di sepanjang kawasan kampus hijau pupus dan warna putih yang menenangkan.

 

Meskipun roda empat memutar dan kembali ke tempat di mana sang penumpang bertemu dengan dua orang mahasiswanya, namun bagaimanapun segalanya tidak lagi sama.

 

Dirinya sendiri tidak lagi mampu meraih lantai gedung utama kampus secara mandiri. Keberadaannya harus bergantung pada sebuah kursi roda dan bantuan orang lain yang mendorong kursinya menyusuri jalan yang ingin dilalui oleh kenangannya.

Article Lainnya


Diam Mama

Diam Mama

Oleh: Inui Nurhikmah* Bagaimana asal mulanya, tak seorang pun tahu.Tidak Anton, tidak...

Cara Mengucapkan Maaf

Cara Mengucapkan Maaf

CERITA : Oleh Indrayani Indra Ruangan supermarket itu luasnya setengah lapangan sepak bola ...

Pagi di Hari Pilkada 

Pagi di Hari Pilkada 

Oleh : Indrayani Indra Sinar matahari dhuha mengganggu mataku. Kuningnya menyilaukan. Penda...

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Cerita oleh : Indrayani Indra Bulir-bulir padi berwarna emas. Batangnya bergerak disepoi an...

JELAJAH