Kembali ke Artikel
Cara Mengucapkan Maaf Ilustrasi. (GoogleImage)
16 Dec/2020

Cara Mengucapkan Maaf

16 Dec 2020 Cerita

CERITA : Oleh Indrayani Indra

 

Ruangan supermarket itu luasnya setengah lapangan sepak bola bagai yang terletak dua blok dari flat mereka. Ketika memasukinya, hawa serupa di daerah pegunungan saat musim semi menyergap permukaan lengan Kay. Gadis kelas enam sekolah dasar itu menaikkan kerah baju hingga batas leher dan mengulurkan penutup kepala. Di tempatnya berdiri, ayah mereka mulai berbelanja barang-barang keperluan hidup selama satu minggu. Saat turun salju, mereka tidak leluasa berbelanja ke kota. Kakak perempuan Kay, Gerda namanya, dia membantu Geral sang ayah menurunkan sabun mandi, sikat gigi dan pasta gigi lalu menaruhnya di dalam trolly. Namun karena letak pasta gigi terlampaui tinggi, maka tangannya sedikit kewalahan menjangkau. Lalu byarr… barang-barang yang tersusun rapi di etalasi jatuh menimpa wajah lantai.

 

Kay bersiap membantu. Tangannya terbuka dan menangkap satu buah sabun mandi. Namun dari arah belakang, seorang perempuan berambut panjang berjalan terburu-buru dan menabrak punggungnya. Kay terhuyung, ruyung dan ayah berbalik. Lalu huupp, ayah mendapatkan kedua bahu Kay. “Dia harus meminta meminta maaf, “ kata Kay menunjuk punggung perempuan yang menubruknya. Langkah kaki perempuan itu menjauh namun belum terlalu jauh.

 

“Sudah, biarkan saja.” kata ayah menenangkan, namun Kay tidak bisa melepaskan perempuan seusia ayahnya berlalu begitu saja. “Hentikan dia.” teriak Kay menunjuk ke arah si rambut pirang. Seorang  perempuan yang berjalan menyusuri lorong makanan ringan. Suaranya terus bersambung laksana gerbong berbicara melalui telepon.

 

Ruangan supermakert itu dipasangi lampu berwarna putih. Terangnya sangat nyalang sehingga memunculkan efek kuat pada setiap warna benda yang disorotnya. Setelah mengamankan kedua anak perempuannya di sisi sebuah dinding, Geral mengikuti langkah perempuan yang tidak sengaja menyerempet anaknya dan berlalu demikian rupa. Ketika perempuan itu melambatkan langkah kakinya, ayah mendekati dan berkata “Permisi, Nyonya belum meminta maaf kepada anak saya.” kata Geral yang sudah berdiri di samping kanan sang perempuan. Kay mengamati sejarak tujuh  depa dari tempat dia dan Gerda berdiri.

 

“Apa ? Saya harus meminta maaf ? katanya dengan suara yang dapat didengar oleh petugas kasir di samping pintu. “Ya, hallo. Iya sampai di mana tadi ?” katanya bertanya kepada lawan bicara dengan suara bagai seseorang yang berteriak. Matanya menatap Geral dengan perasaan kesal. “Jangan membuat saya semakin tidak menyukai anda.” katanya kepada di antara percakapan telepon tanpa menurunkan volume suara.

 

“Anda hanya perlu mengucap maaf saja.” kata Geral dalam nada lunak.

 

“Dia hanya anak kecil !” sahut perempuan itu dengan tatapan meremehkan, tangannya menyibak rambut halus yang menjulur di atas keningnya dan mematikan hanphone. Hidung mancungnya mengembang dan area kulit wajahnya merah agak marah. Kulit putihnya semakin pucat diterangi sorot lampu ruangan.

 

“Karena anak saya masih kecil maka anda harus meminta maaf.”

 

 

Ahahaha…tawanya berderai, lagak seseorang yang tidak melakukan sebuah kesalahan.

 

“Baiklah jika anda menolak.” kata Geral berlalu. Wajahnya datar, tidak terbit amarah dari sana yang mengubah kulitnya laksana udang matang. 

 

Saat itu akhir pekan, banyak keluarga yang berbelanja untuk persiapan  bertahan selama musim dingin.  Di luar ruangan,  butiran salju mulai turun sejak seminggu lalu. Untungnya suhu udara di dalam ruangan lebih hangat ketimbang di luar beradu salju.

 

Kay dan Gerda menunggu ayah mereka di tempat semula. Dua kakak beradik yang libur sekolah itu tidak beranjak satu inci pun. Mereka tetap di tempat sampai ayah mereka kembali. Pesan “Jangan ke mana-mana, tunggu ayah di sini” , adalah perintah yang mereka berdua mengetahui apa makna sebenarnya. 

 

Seorang  ayah, jika memerintahkan sesuatu kepada anak-anaknya adalah sebuah perintah yang menuntut kepatuhan.  Apapun yang terjadi di tempat itu, mereka berdua  geming hingga sang ayah datang menghampiri. Dengan keadaan mereka yang hidup tanpa kehadiran seorang ibu, ayah adalah ayah sekaligus ibu.

 

Gagal berbicara baik-baik dengan perempuan kulit putih, empunya sorot mata biru dan rambut pirang sepinggang, Geral menyerahkan urusan kepada dua orang satpam gedung supermarket.

 

Kemudian dua orang lelaki dewasa berbadan gempal dan mengenakan seragam dan berjalan mengarah kepada perempuan dengan ciri-ciri yang disebutkan Geral. Di depan petugas kasir, dua orang lelaki berkumis, pemilik lengan pejal itu merengsek, menghimpit lalu menggamit lengan sang perempuan di kiri dan kanan. Muka perempuan itu berubah warna. Sorotnya matanya antara terkejut dan takut terpancar dari sana.

 

“Ada apa ini ?” kata sang perempuan berambut pirang ingin melawan.

 

Dari tempatnya berdiri, Kay berlari menghampiri ayahnya.

 

Mata perempuan itu meminta pengampunan kepada Kay.

 

Seorang gadis usia kelas enam sekolah dasar berlari mendekati.

 

Di tempat mereka berdiri, berpuluh-puluh pasang mata menyaksikan. Kay dan perempuan kulit putih bertatapan langsung di sisi etalasi sebelah petugas kasir.

 

Kay mengatakan sesuatu dan perempuan itu membungkuk ingin tahu.

 

“Ucapkan maaf,” kata Kay. Lantas gadis sebelas tahun itu menunjukkan caranya. Mula-mula dia melonggarkan mulut lalu sedikit dibuka, sekira ada ruang untuk udara. “begitu caranya,” kata Kay sesudah selesai menyontohkan. “Buka mulut dan ucapkan maaf. Maaf hingga Miss rasakan embusan udara diantara kata maaf tersebut.”

 

“Dari mana kamu mengetahui cara ini ?” kata sang perempuan yang saat itu membungkuk di hadapan Kay.

 

“Ayahku yang mengajarkan. Kami harus untuk meminta maaf setiap melakukan kesalahan.”

 

“Bagaimana jika ayahmu yang bersalah.”

 

“Ayah juga meminta maaf dan beliau baik-baik saja saat melakukannya.”

 

Di luar gedung, salju turun, berserak dan memutih. Butirannya menutupi badan jalan raya. Udara musim salju meniupkan beku. Namun rasa hangat yang berpendar dari napas maaf mencairkan suasana dan menyusupkan kehangatan jauh ke sudut perasaan, saat Kay mengalungkan tangannya di leher Miss pirang yang membungkuk memeluk.

 

 

 

 

 

 

 

 

Di luar salju turun memutih, butirannya menutupi permukaan jalan raya. Udara musim dingin meniupkan beku lebih bersemangat. Namun hangat mencairkan suasana dan menyusup lebih dalam hingga sampai di sudut perasaan.

Article Lainnya


Sang Penatap

Sang Penatap

Oleh : Indrayani Indra “Pergi gak, gak, pergi, pergi gak ya. Kalau pergi gimana kalau...

Tragedi Minum Susu

Tragedi Minum Susu

Oleh : Indrayani Indra Umurku sekira enam saat itu. Saat doa terkabul hingga aku bertemu pa...

Pelajaran Mengarang

Pelajaran Mengarang

Cerita Oleh : Indrayani Indra Ruangan kelas bersalut riang sebelum dia datang. Sepasang dau...

 Menulis Setelah Luka

Menulis Setelah Luka

Cerita Oleh : Indrayani Indra Membuat karangan ? Meskipun tema bebas, itu tetap saja harus ...

JELAJAH