Kembali ke Artikel
Bunga untuk Pagi Ilustrasi. (Net)
18 Sep/2020

Bunga untuk Pagi

18 Sep 2020 Cerita

SINAR pagi yang menenangkan belum muncul ketika aku menggeret motor, berjalan agak memiring, melalui teras samping mepet dinding. Lebar jalur keluar meraih pintu depan hanya muat dua orang. Menuntun motor ke depan pagar dan berkendara menemui jalan Ahmad Jazuli di kawasan Kota Baru pagi hari, tidaklah sering aku lakukan. Apalagi keperluannya mematut-matut bunga. Jalan Ahmad Jazuli masih selemparan batu kerikil dengan area Masjid Syuhada.

 

Suasana di dalam ruangan masjid syuhada begitu syahdu saat melabuhkan kepala untuk sujud di malam buta. Pernah sekali-dua kali aku merapat ketika waktu penggiat ibadah malam tiba. Bangun pada waktu seperempat gelap terakhir perlu diperjuangkan, sebab kata ibuku bukan tentang jumlah rokaat dalam sholat tahajud dan witir, tantangan terbesarnya ada pada kesanggupan berdiri tegak dan mengangkat takbir dan berzikir tanpa disela kantuk. Itu berat, kecuali situ begitu sungguh-sungguh tirakat. Ketika mendaratkan sujud di masjid syuhada, aku ingat itu terjadi dua kali. Pertama ; pulang  rapat di markas PMII. Hujan lebat dan aku  tidak dapat akses masuk kost. Kedua dari begadang di emperan Malioboro. Sebagai mahasiswi semester akhir,  tugas merampungkan skripsi menguras perhatian dua-tiga tingkat ketimbang duduk kuliah. Jadi ketika pada suatu malam aku diajak lek-lek-an* di emperan jalan Malioboro, yo hayo. Mengandalkan modal membayar secangkir teh tubruk dan gorengan, kami mendapat kapling duduk hingga batas pedagang gudeg menghentikan lapak. Itu terjadi jelang adzan subuh. Tetapi kami pulang lebih awal sekira waktu fajar kadzib. Untuk merusak kantuk selama menyudahkan malam, aku mengayuh langkah ke masjid di komplek gedung DPRD kota Yogya. Mendaratkan kepala dan bertaubat untuk  kejahatanku menyanyi dan menghitung jumlah orang lalu lalang.

 

Saat malam semakin dekat di pintu subuh, mesin kendaraan yang meretas semakin langka memecah sunyi. Dari pinggir trotoar di seberang jalan, telinga menangkap sayup-sayup kelepak ujung pecut dipukul ke wajah tanah oleh pemain kesenian tradisional, jaranan*.

 

Sepenggal cerita tentang tikar yang digelar di depan emperan toko-toko jalan Malioboro telah berlalu. Sekarang aku tidak begitu. Selain beberapa kawan telah lulus dan pulang kampung. Aku juga menikah dan kembali ke kampus hingga ujian skripsi.

 

Pagi itu, nadi kali gajah wong mengalirkan hawa segar subuh hari. Penjual gudeg kaki lima mengijabkan dagangan dengan cara bersahaja. Aroma khas gudeg Yogya mengusik perut yang belum sarapan. Di kawasan pasar kembang, lapak bunga potong masih sepi. Toko buka setengah jam lagi. Aku memarkir kendaraan di depan sebuah kios bunga. Seorang wanita membenahi mawar setelah mengenyahkan bungkusan koran. Rambut sebahunya basah akibat keramas. Beberapa air masih menetes di bilah yang terurai. Aku mendeguk, dia menyibak rambut dari sisi wajah lalu mengibas lalu mengarahkan pandangan kepadaku yang tepat berdiri di samping tangkai bougenvile.

 

“Cari apa, Mbak?”

 

Aku diam tetapi menjawab pertanyaannya dengan membungkuk di depan rumpun lili. Lalu mengelus dan tanganku berpindah membelai kelopak mawar warna-warni. Bentuknya merah, rekah dan menitikkan dua tetes embun. Parasnya berseri. Aroma wanginya hadir lembut sekali. Menyusup jauh hingga merasuki ruang rindu.

 

“Itu baru tiba,” kata wanita penjual bunga menunjuk dengan bibir semawar. Tangannya merapikan kuntum sedap malam. Aroma bunga melegakan perasaan.

 

Aku menginginkan bunga sedap malam dan mawar dan apa saja yang mengubah tampilan pot bunga berbentuk segi empat dalam kamarku semerbak. Untuk menyambut seseorang yang bertandang. Menempatkan aroma bunga akan mengamburkan kesan intim dan menguatkan percaya diri.

 

“Apa saja, Mbak?” kataku asal jawab.

 

Tamu itu, Ia bukan seseorang yang mengerti masalah bunga. Tujuan satu-satunya datang adalah mendapatkanku. Ia juga bukan pengaggum rona kembang.

 

Tentang Ia menghadiahkan sekuntum mawar di hari ulang tahunku, aku menangkap perhatiannya. Jika tidak, bisa jadi perasaanku tertimpa kecewa karena mendapatkan satu batang mawar gundah berselimut plastik dalam polybag yang masih terdapat sekam berceceran. Untuk urusan bunga, ia  pasrah tanpa pilihan. Ia tidak peduli dengan lili atau cempaka. Tidak mengerti untaian melati atau anggrek bulan dan tidak peduli aku menyukai sedap malam. Bunga sama sekali bukan perhatiannya. Aku memetik bunga pagi sekali ke seputaran kota baru, sesungguhnya untuk menghamburkan kesegaran aroma menyambut pelukannya.

 

Wangi bunga memanggil fantasi dan melonggarkan rasa dalam hati dan menyembuhkan rindu dan aku akan menata bunga dan menikmati sentuhannya saat tiba.

 

Wanita penjual bunga memihak kuntum yang aku suka. Tentang sedap malam adalah pilihan dan dia menambahkan untuk memberi penguatan. Dengan cekatan mengemas rangkaian tangkai terpilih. Seraya berdecak karena mendapatkan kenyataan melampaui harapan aku menyangka ini pertanda baik. Tetapi…hei, saat itu pukul delapan. Sang tamu, Ia mendarat di bandara Adi Sutjipto tadi malam. Meskipun diserang lelah perjalanan, aku yakin ia tidur tidak nyaman.

 

Sinar pagi membentang terang dengan tenang. Roda dua ku pacu berkecepatan lamban. Ada rangkaian bunga yang harus diawasi dan untuk mengawetkan keceriaannya perlu menaruh sejumput garam dalam genangan air merendam batang.

 

Jalan di depan kost mulai ramai oleh mahasiswa yang masuk kuliah pagi. Ibu kost menggelar ritual menyiram bunga di halaman. Lalu tangannya yang cekatan akan menggunting daun dahlia yang kering dan mencungkil tanah untuk dideraikan lalu memberi cukup pupuk pada kaki batang yang butuh perawatan. Tanah yang tertutup rumput lembut di halaman rumah tersambung dengan lantai ruang tamu terbuka akan mendapatkan lembap dari semporotan selang yang dikucurkannya.

 

Daguku meretak akibat abai pakai jaket. Paparan sejuk yang ditebar hawa merapi mengurung niat mandi. Aku berjalan menunduk. Lalu…”Assalamu’alaikum,” katanya. Seseorang berdiri. Berkemeja biru laut. Lengan baju digulung hingga siku. Aroma parfum yang dibubuhkannya mengundang hasrat. Ia di situ setelah duduk dan menyeruput teh tubruk bersama tuan rumah dengan perasaan tidak sabar.

 

Di tempat berdiri, aku terkesima. Antara gembira dan mendadak malu. Selain belum mandi, riasan pagi dari memburu bunga belum patut menyambut kedatangan suami. Suami yang mengucap akad dua minggu lalu.

 

Tanganku menampang tangkai bunga. Ia mengerling, menggoda dengan tatapan dan senyumnya. (*)

 

Catatan :

 

*Lek-lek-an : arti harfiah ; membuka mata. Dalam konteks kalimat artinya : begadang.

 

*Jaranan : permaian tradisional kuda kepang atau kuda lumping dengan peserta yang memertontonkan atraksi makan beling (memasukkan pecahan kaca ke dalam mulut).

Article Lainnya


Rumah Tidak Membakar Kenangan

Rumah Tidak Membakar Kenangan

Sebuah rumah tinggal asal belum dilahap api walaupun berlumut dan bagian kayu dinding dan lantainya ...

Menyewa Tukang Adzan

Menyewa Tukang Adzan

DUA minggu ini selalu teriakan Alpiansyah yang memekak telinga melalui alat pengeras suara musholla....

Bulan Dalam Cangkir

Bulan Dalam Cangkir

Kafe dengan penerangan sedang itu buka lebih awal dari biasanya. Letaknya yang agak sedikit masuk da...

Balapan Liar

Balapan Liar

Sebuah balapan liar mengamuk dan membenturkan satu kepala ke pucuk median jalan di atas akar tiang l...

JELAJAH