Kembali ke Artikel
Bulan Dalam Cangkir Ilustrasi. (brl/tin)
08 Sep/2020

Bulan Dalam Cangkir

08 Sep 2020 Cerita

Kafe dengan penerangan sedang itu buka lebih awal dari biasanya. Letaknya yang agak sedikit masuk dari jalan raya, tepatnya berada pada jalan lapis kedua dengan sekali belokan ke arah kiri dari persimpangan jalan berbentuk huruf ES menjadi alternatif menjauhi kemacetan di lampu merah. Kafe itu sasaran persinggahan malam yang mendinginkan pikiran dan perasaan. Sekalipun gemuruh rasa melindas tiada tara, bagi penikmat suasana, kafe di pinggir jalan yang letaknya sedikit masuk dari jalan raya itu menawarkan lingkungan menenangkan. Instrument musik yang diputar dari USB meningkahi kegelapan di sekitarnya merupakan kemewahan gaya sekaligus menunjukkan kelas sebuah selera.

 

Seorang lelaki paro baya, usianya merangkak malas pada angka 37 namun remang pencahayaan menabur semburat awet muda pada wajahnya. Siapa saja hampir tidak percaya ketika lelaki itu menyebutkan angka pasti jumlah usianya. Seorang perempuan lajang dengan usia mendekati angka 30 terkesima tetkala lelaki pengelola itu membuka bungkus usia dirinya.

 

Perempuan itu adalah seorang tamu yang hampir saban malam menandaskan sisa lelah menyeruput kopi buatan kafe yang bersebelahan dengan tiang listrik di tepi jalan. Menemani malamnya, secangkir kopi berasap tipis dan gula yang less setia di antara tarikan napas berbau tembakau dihisap kuat dan dalam. Perempuan yang matanya selalu tertancap pada layar laptop duduk berdekatan dengan colokan. Dia  abai terhadap badai pengunjung. Atau pada musim kunjungan memarau yang di sana hanya ada dia dan laptopnya dan secangkir kopi gayo. Hempasan asap  menyela di antara kepul rokok bercumbu gugusan kabut tipis dari cangkir tempat cairan pekat itu dituangkan.

 

Perempuan itu, sebut saja namanya zakiya. Walaupun nama tersebut kurang cocok disandang oleh seorang perempuan yang menjadikan kafe sebuah persinggahan malam. Nama zakiya lebih serasi ditambatkan pada seorang perempuan dengan kelakuan yang rajin sembahyang dan rajin mengaji dengan penutup kepala genap hingga kaos kaki.

 

Kafe itu, pada area tengahnya terdapat sebuah kolam tanah disorot gradasi  merah, ungu dan hijau dari permainan lampu yang menjerat perhatian. Kolam itu menyita tatapan saat mata lelah dihantamkan pada sederet pekerjaan yang  meminta diselesaikan.

 

Perempuan itu adalah sejenis sosok mandiri yang sekiranya tidak ada lelaki di sampingnya masih menunjukkan wibawa. Di saat perempuan lain pada usianya sibuk terbebani tetek bengek rumah tangga dan kebutuhan anak balita, dia yang senantiasa hadir di kafe di bawah rerimbun daun jati itu masih santai bersama impian yang belum selesai. Dari roman tegas dan khas seorang pecinta kerja, pilihan mengurus rumah tangga belumlah penting dijadikan prioritas, setidaknya dalam dua atau tiga tahun hingga usianya berada di pintu tiga puluhan awal.

 

Kafe itu diurus oleh dua orang pelayan berseragam. Satu orang berlaku sebagai bartender dan satu orang lainnya memberikan full layanan. Dari mengelap meja dan mengangkut cangkir kotor dan membawanya ke dalam bak cuci piring dan menyediakan air panas untuk merebus teh yang diberi aroma daun pandan. Pelayan yang berwajah agak muda itu selalu menyampirkan sebentuk handuk pada bahu sebelah kanan. Handuk itu berfungsi sebagai alat mengeringkan meja. Menyerap sisa cairan di dasar gelas atau akibat lembap uap es batu yang meleleh karena perubahan fisika atau untuk menciduk remah kentang goreng yang ditinggalkan pemiliknya begitu saja.

Pelayan itu sigap bekerja, tidak peduli peluh mengalir pada dahi dan membasahi sekitar hidung dan dagunya yang menjuntai. Kadang-kadang ia menunaikan tugas sambil bersiul karena gembira.

 

Di zaman virus corona masih melanda, memiliki pekerjaan sebagai pelayan kafe adalah tugas mulia serupa pahlawan keluarga yang berjihad di medan laga.

 

Pada malam-malam sepi kunjungan, kedua pelayan di kafe itu kerap membincangkan kelakuan perempuan lajang yang bersekutu dengan laptop hingga malam diambang larut.

 

“Apakah kamu tahu kantor tempat perempuan itu bekerja ?” kata pelayan yang memberikan servise terbaik kepada para tamu.

 

Belum sempat merampungkan pertanyaannya, mendadak lambaian tangan tanpa suara meminta dirinya mendekat.

 

“Kentang gorengnya tambah satu dan juga itu.” katanya menunjuk dengan bibirnya yang pasi terpapar sinar lampu.  Pelayan itu mafhum menu pesanan sang tamu. Perempuan itu akan meminta tambahan kopi gelas kedua disertai sepiring medium lagi kentang goreng dengan saos mayones pedas.

 

“Tidak pakai lama.” katanya datar tanpa menghendaki jawaban dan tidak mengangkat dagunya dari depan laptop.

 

Pelayan itu bergegas menemui rekannya yang bartender dan menyiapkan sendiri kentang goreng sesuai pesanan.

 

Selesai menyajikan pesanan pada meja tamunya, pelayan dengan wajah agak muda yang selalu menyampirkan handuk pada bahu kanan itu mengubah letak handuk ke bagian sebelah kiri bahu seraya berjalan tergesa-gesa menemui rekannya si bartender.

 

“Aku pikir dia menutup kunjungan dengan pertanyaan total pembayaran.”

 

“Apakah kamu bosan melayaninya atau mungkin kamu ingin segera pulang.” kata bartender.

 

“Tidak ada keuntungan bagiku cepat pulang.” kata pelayan berwajah muda. Usianya belum diusik pikiran tentang pernikahan.

 

Malam itu, udara menyepoikan kesejukan yang melimpah dari sisa dingin yang dicampakkan hujan yang turun sejak siang. Tarian daun jati tertiup angin merupa bayangan yang jatuh di lantai bermandi sinar bulan. Aroma kopi digiling dan hangat dari air jerangan serta percampuran bunyi yang menyatu dalam gelas menuntut pekerjaan menyajikan kopi menjadi keterampilan dan seni tersendiri. Persentuhan batang sendok mengaduk gula serta larutan butiran kopi dan panas yang menyesap pucuk jari adalah harmoni di antara sepi dan hawa dingin keterlaluan.

 

Perempuan yang matanya tertancap pada layar laptop itu masih betah membenamkan pantat di sana. Belum ada tanda-tanda dia beringsut walaupun malam semakin galak menyuruhnya pulang.

 

“Andai dia punya seseorang yang menjemputnya ?” kata bartender setelah merampungkan kopi yang dibuatnya untuk mereka berdua.

 

“Apakah dia memiliki seorang lelaki ? Maksudku mungkin pacar atau suami atau semacam itu.”

 

“Mengapa dia memilih tempat ini ?” kata sang bartender seperti kepada diri sendiri.

 

Kafe dengan pencahayaan sedang dan musik menenangkan adalah anugerah malam yang aduhai sayang dilewatkan. Setidaknya oleh orang-orang dengan beban pekerjaan seperti si perempuan lajang.

 

“Apakah dia tidak kesepian ?” kata pelayan berwajah agak muda.

 

“Seseorang pasti pulang pada keluarganya, kalau memiliki keluarga, tentu saja.”

 

“Apakah kamu memikirkan akan membangun keluarga ? suatu saat kelak.” ujar sang bartender.

 

“Entahlah. Aku  semakin tidak percaya diri. Maksudku, aku belum siap secara ekonomi dan aku belum memiliki seorang pacar.”

 

“Hidup ini acapkali aneh. Ada seseorang yang pesimis dan ada orang lain yang optimis. “ kata si bartender. Lantas mereka menghirup cairan kopi secara bersamaan walaupun tidak janjian.  Sebuah persamaan terbit dari seruput yang membunyikan suara khas. Sensasi hawa panas diamuk suasana dingin malam menyeru untuk lekas-lekas rehat. Namun mereka, pelayan kafe itu belum menurunkan penutup gerbang hingga waktu mengarah tengah malam.

 

Ketika perempuan yang duduk di sudut kafe di dekat colokan itu pamit, serombongan anak muda yang pulang dari menonton pertandingan bola di lapangan kota menyerbu kafe dan memesan teh pandan dan mie instan. 

 

Malam sudah mewajibkan mereka mematikan lampu penerangan namun gerombolan anak muda dengan daya tahan mata seterang cahaya penerangan lampu jalan masih belum beranjak dari tempat duduk mereka. Mereka bersenda juga bersendawa, beberapa orang memesan lagi mie instan untuk piring kedua dan ketiga. Di kafe itu cahaya bulan jatuh dalam cangkir kopi mereka.

Kafe dengan penerangan sedang adalah sebaik-baik tempat menghalau penat. Namun bagaimanapun sebuah kafe hanya lirik bait persinggahan. Keluarga adalah adalah sebaik-baik dermaga yang menaut hati untuk kembali. 

Malam itu di sela-sela bayangan daun, bulan dalam cangkir belum bergeser. Embun turun dan malam semakin menancapkan dingin menanjak ke arah subuh.

Article Lainnya


Bunga untuk Pagi

Bunga untuk Pagi

SINAR pagi yang menenangkan belum muncul ketika aku menggeret motor, berjalan agak memiring, melalui...

Rumah Tidak Membakar Kenangan

Rumah Tidak Membakar Kenangan

Sebuah rumah tinggal asal belum dilahap api walaupun berlumut dan bagian kayu dinding dan lantainya ...

Menyewa Tukang Adzan

Menyewa Tukang Adzan

DUA minggu ini selalu teriakan Alpiansyah yang memekak telinga melalui alat pengeras suara musholla....

Balapan Liar

Balapan Liar

Sebuah balapan liar mengamuk dan membenturkan satu kepala ke pucuk median jalan di atas akar tiang l...

JELAJAH