Kembali ke Artikel
Budaya Pamali Dalam Kajian Kearifan Lokal ilustrasi. (int)
08 Nov/2019

Budaya Pamali Dalam Kajian Kearifan Lokal

08 Nov 2019 Liputan Khusus

PARADASE.ID. Budaya adalah jejak pengetahuan. Hasil olah rasa, cipta, dan karsa. Budaya merupakan akar kearifan lokal.

 

Kearifan lokal atau local wisdom artinya sekumpulan pengetahuan, kecerdasan, dan keyakinan sebuah masyararakat tertentu yang diturunkan secara bersambung dari generasi ke generasi.

 

Dalam kajian antropologi (Kartawinata, 2011), kearifan lokal dikenal sebagai pengetahuan setempat (indigenous or local knowledge), atau kecerdasan setempat (local genius), yang menjadi dasar identitas kebudayaan (cultural identity).

 

Kearifan lokal terbentuk dari pengetahuan dan keyakinan yang muncul dalam waktu amat panjang. Bertumbuh bersama lingkungan. Merasuk dalam sistem lokal yang dialami secara bersama-sama juga.         

 

Proses   panjang tersebut hinggap dan melekat dalam kehidupan masyarakat. Budaya, bernapas dalam kearifan lokal. Kearifan jadi sumbu energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif menuju kehidupan yang dinamis dan damai. 

 

Senada dengan pengertian ini Nurjaya (2006:2-4) berpendapat bahwa kearifan lokal bukan saja sebagai sebuah pengetahuan. Namun keberadaannya mendinamisasi kehidupan sosial yang penuh keadaban dan kearifan.

           

Kearifan lokal mengandung nilai-nilai religi yang dianut sebuah komunitas. Menjadi identitatas budaya yang memberi warna kehidupan, menjiwai perilaku, serta mewujud dalam sikap dan perbuatan.

 

Suardiman (Wagiran 2010) mengungkapkan bahwa kearifan lokal identik dengan perilaku manusia, berhubungan dengan (1) Tuhan, (2) tanda-tanda alam, (3) lingkungan hidup, (4) membangun rumah, (5) pendidikan, (6) upacara perkawinan dan kelahiran,(7) makanan, (8) siklus kehidupan manusia dan watak, (9) kesehatan, dan (10) bencana alam.

 

Ada sebuah legitimasi kata  tidak tertulis namun ditaati oleh masyarakat pemiliknya. Kata tersebut adalah “pamali.” Atau tabu atau pantang larang.

 

Pamali sebagai produk kearifan lokal telah menyumbang keseimbangan konsep antara manusia dan lingkungan alam. Memberi rambu-rambu perilaku dan mengontrol perilaku berupa sanksi sosial tidak tertulis.

 

Sebagai produk budaya. “pamali” bagai angin. Tidak berwujud namun dirasakan keberadaannya. Dampak yang mengiringi pamali serupa dua sisi mata uang. Mengikuti dan saling terhubung. Melahirkan hukum kausalitas. Sebab-akibat. Bila begini maka begitu.

 

Secara tekstual konten pamali mengandung satu pengertian pantang dan melarang. Namun secara  kontekstual. Pesan pendidikan yang terkandung dalam ujaran pamali, mengembangkan konsep adab dan kearifan  yang luas.

 

Agaknya inilah  misi pentingnya. Menggali dan meng-interpretasi kembali pendidikan berbasis kearifan lokal.  Nilai-nilai budaya lokal guna membunyikan lagi lonceng kearifan lokal yang semakin sayup. Semakin lirih digempur lajunya perkembangan arus budaya dan teknologi. Westernisasi dan Amerikanisasi.

 

Globalisasi seperti memaksa masyarakat dunia untuk tunduk pada satu hal. Keseragaman, kebaratan, berperilaku konsumtif dan materialisme. Perubahan gaya hidup yang dianggap modern itu adalah menyembah barat. Berkiblat padanya.

 

Hiruk-pikuk dunia informasi  menyumbang kesumbangan itu. Internet memangkas sekat-sekat ruang dan waktu. Mendekatkan ujung dunia dalam sentuhan di jari yang satu.

 

Kecelakaan sebuah mobil yang terjadi di Amerika. Bisa membuat heboh masyarakat dunia. Padahal isyu tersebut bisa jadi sangat lokal. Namun pemberitaan media membuat seolah dunia diambang kiamat.

 

Kuatnya tiupan atmosfer budaya menuju barat, hendaknya tidak melalaikan kewarasan anak generasi negeri ini. Terkesima boleh saja namun jangan lama-lama.

 

Atau jangan-jangan fakta tidak hirau terhadap sebuah rasa gundah. Rasa budaya lokal milik bangsa. Rasa yang sepanjang hidup Datuk-Nenek-Ibu, hingga Anak. Menjadi penganut budaya. Perbedaan mendasar modern yang kebarat-baratan dan tradisional terletak pada pondasi sebuah  budaya.

 

Tradisional tunduk pada akar budaya. Budaya yang menjadi ruh dalam tatanan kearifan lokal. Akar mengikat sebuah bangunan budaya dan kearifan adalah lingkungan kondusif berkembangnya sebuah budaya.

 

Suku bangsa Indonesia memiliki akar budaya yang kuat. Setiap daerah dibedakan atas ciri khas yang unik. Istimewa dan berfungsi sebagai alamat suatu suku tertentu.

 

Sedangkan budaya barat hanyalah teknologi itu sendiri. Teknologi yang tadinya menjadi sebuah solusi telah menciptakan masalah baru yang tidak berujung.

 

Setiap solusi   teknologi mendatangkan pro-kontra yang tidak berkesudahan. Barat tidak memiliki akar budaya sejati. Budaya yang mengikat anak-anak bangsa.  Budaya barat adalah teknologi dan kemajuan itu sendiri.

 

Indonesia yang dipersatukan oleh keanekaragaman budaya, sukses menyuguhkan tatanan sebuah bangunan bangsa yang dinamis dan manis. Setiap suku hidup damai, saling menghargai perbedaan budaya daerah masing-masing.

 

Mengikuti perkembangan arus budaya barat, jika terkesima, bisa-bisa seorang anak bangsa pangling dengan corak budaya sendiri. Atau lantaran terkagum-kagum lalu ikut rombongan piknik bersama budaya bangsa lain, maka melihat budaya sendiri menjadi aneh. Lalu dengan lancang menganggap budaya daerah ketinggalan zaman.

 

Jika kecurigaan ini terbukti, lalu bagaimana sebuah budaya dapat lestari kalau pemujanya berhenti mencintai ? Inilah kekhawatiran—yang—jangan-sampai-terjadi.

 

Sebagai anak dari suku bangsa. Siapapun kita. Bertanggung jawab melestarikan kekhasan budaya. Budaya negeri sendiri yang hidup dalam durasi teramat lama. Budaya kita. Bisa panjang umur atau bisa mati pelan-pelan, tergantung manusia.

 

Manusia sebaga pelaku juga pembentuk budaya. Keunikan budaya dihasilkan dari pengetahuan dan keyakinan beberapa suku di Indonesia. Salah satunya adalah Pamali.

 

Pamali dalam tulisan yang dimuat jurnal Lokabasa (vol.6. 2015) Hesti Widiastuti menjelaskan tentang agungnya nilai pamali berbasis kearifan lokal Suku Sunda.

 

Melalui teori Etnopedagogi sebagai pendekatan  penelitian, diperoleh pemahaman budaya lokal Sunda atas pengertian yang lebih lengkap tentang  pamali.

 

Budaya pamali dalam masyarakat Melayu Kalimantan Barat seperti ditulis Kasdu Erwanto. Menyiratkan larangan atau peringatan. Erwanto mendeskripsikan klasifikasi, struktur, makna, dan fungsi pamali (larang pantang).

 

Disebutkan  bahwa pamali mengandung banyak pengajaran penting dan keseimbangan hidup.

 

Pamali menjadi milik kearifan lokal suku bangsa Indonesia. Keterhubungan budaya pamali. Ada dalam bahasa daerah yang berbeda, untuk menunjuk satu maksud yang sama.

 

Warna pamali dapat dikenali dalam 7 (tujuh) unsur kebudayaan yang disebut Koentjaraningrat. (1) sistem kepercayaan, (2 ) ilmu pengetahuan, (3) sistem kekerabatan dan organisasi sosial, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem pekerjaan, dan (7) sistem teknologi.

 

Pamali yang disebut Hesti pada Budaya Sunda dan Erwanto dalam bahasan budaya Suku Melayu, berlaku dan  diapreasiasi juga oleh Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Paparan konten pamali berikut, adalah pendekatan kearifan lokal masyarakat Suku Banjar Kalimantan Selatan.

 

Seperti Suku Sunda di Jawa Barat dan Suku Melayu di Kalimantan Barat. Suku Banjar juga mengenal pamali sebagai sebuah warta budaya. Kehadirannya mendapatkan tempat dalam perilaku anak suku  hingga sekarang.

 

Walau tergerus kemajuan zaman dipermukaan. Pada lapisan kedalaman, budaya pamali tetaplah menjadi dasar pijakan. Alas  yang mengontrol laku anak suku, rambu moral perilaku yang berhubungan dengan kegiatan budaya.

 

Misalnya. Pamali atau pantang larang duduk di depan pintu masuk ( pamali duduk di muhara lawang) artinya dilarang duduk di depan pintu masuk rumah.

Pamali adalah pesan budaya. Produk bahasa lisan (folklor). Budaya lisan yang tumbuh subur di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan. Pamali duduk di muhara lawang. Secara kontekstual larangan ini ditujukan kepada siapa saja. Lebih-lebih anak gadis.

 

Pamali duduk di muhara lawang bagi anak gadis bermakna lebih.  Penyebab duduk di muhara lawang akan melahirkan akibat tertentu bagi seorang anak gadis yang melakukan pelanggaran. Seperti terkena pilanggur atau anggapan ”jauh jodoh”.

 

Makna kontekstual yang terkandung dalam pantangan ini adalah menghalangi jalan keluar masuk. Pengguna jalan yang akan melewati pintu. Baik akan masuk atau ketika hendak keluar. Dalam konteks lebih luas.

 

Pamali duduk di muhara lawang juga melibatkan unsur waktu. Kapan saja. Kegiatan duduk di muhara lawang berakibat mengganggu jalan orang. Dan jenis kelamin. Siapa saja.laki-laki atau perempuan. Pamali juga menjawil tingkat usia.Yaitu anak remaja.

 

Tradisi pamali duduk di muhara lawang, semakin menebal jika dikaitkan dengan waktu maghrib. Berkenaan waktu maghrib atau jelang matahari terbenam.

 

Pamali yang mengikuti pantangan duduk di muhara lawang menjadi satu komponen dengan ; pamali mahgrib-mahgrib di luar (rumah) dan ; pamali mandi saat adzan magrib berkumandang.  Menunjuk alamat pamali pada jenis kelamin. Mandi maghrib dan duduk di muhara lawang mengakibatkan anak gadis alami kesulitan jodoh di masa dewasa.

 

Adapun  pamali maghrib-maghrib keluar rumah ditujukan untuk anak usia sekolah atau pra remaja.    Ancaman yang diterima bagi pelanggar maghrib-maghrib di luar (rumah) adalah : kaina ditanggung hantu (hantu bagarit yang muncul senja. Saat pergantian siang dan malam).   Sanksi bagi anak berkeliaran di luar rumah saat tiba waktu sholat maghrib adalah diculik hantu (bagarit).

 

Analisis Unsur Budaya Dalam Larang Pantang Pamali.

           

Apa yang ditegakkan Suadirman dalam pendapatnya tentang kearifan lokal, menunjukkan adanya kesamaan perilaku manusia yang dihubungkan dengan ketentuan Tuhan. 

 

Makna yang dihendaki dalam pamali (1) duduk di muhara lawang, (2) pamali berkeliaran di luar rumah waktu maghrib, dan (3) pamali mandi ketika adzan maghrib berkumandang adalah bentuk ketaatan diri. Persiapan yang dilakukan sebaik-baiknya menyambut waktu maghrib.

 

 Maghrib  adalah waktu pergantian hari antara terang menuju gelap. Siang usai malam dimulai.

 

Seyogianya. Menyambut datangnya ibadah sholat maghrib, seseorang bersegera sebelum tiba waktunya. Persiapan    ibadah dilakukan tidak tergesa-gesa. Kegiatan yang hanya bisa disiapkan tanpa  berkeliaran di luar rumah.

 

Melakukan urusan  dunia atau sedang bersenang-senang mendekati waktu sholat tiba. Pamali dalam konteks budaya menyiratkan bentuk ketaatan kepada Tuhan. Menyertai nilai budaya dan nilai etika.

 

Bentuk pamali dalam produk budaya di atas, menunjukkan adanya hubungan sebab akibat. Sebab duduk di muhara lawang. Mengakibatkan seorang  anak gadis mendapat kesulitan jodoh di masa dewasa.

 

Sebab  berkeliaran di luar rumah saat maghrib, seorang anak berpotensi diculik hantu (akibat). Sebab mandi mahgrib. Seorang anak gadis/jejaka terkena pilanggur (tidak mendapat jodoh selamanya).

 

Sebagai sebuah konsep budaya. Makna tekstual kalimat larangan tidak se-ekstrem akibatnya. “gertakan” yang mengikuti budaya pamali, mampu “mengontrol” moral individu untuk taat.

 

Sebagai sebuah produk budaya lisan (folklor). Pamali kerap dianggap mitos atau sebatas “gertakan” lelulur yang bertujuan melarang. Larangan tanpa penjelasan berarti.

 

Menurut Danadibrata (2009 : 489) Pamali adalah sebuah larangan yang apabila dilanggar bisa celaka.

 

Budaya pamali dalam masyarakat Suku Banjar Kalimantan Selatan, terlampaui mengakar. Sehingga, walaupun beberapa orang generasi mudanya telah berwawasan luas. Kemudian menemukan fakta “kebohongan” hanya semacam ancaman yang dituntut pamali. Namun kebijaksanaan diri, kearifan pribadi akan mengalah untuk pemakluman yang lebih besar. (memang. Tidak ada hubungan seseorang duduk di depan pintu dengan takdir tidak mendapatkan jodoh. Jodoh semata-mata urusan Allah).

 

Faktanya walaupun mengetahui “kena pilangggur” atau jauh jodoh. Hanya mitos. Beberapa orang mengembangkan kearifan pribadi. (Ada tujuan moral lebih tinggi ketimbang berdebat. Terima saja. Jodoh itu urusan Tuhan). Kemudian memberi pengertian kepada anak anaknya. Pendekatan persuasif urgensi mandi dan membersihkan diri.

 

Budaya inilah yang menjadi inti kearifan lokal. Kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai dan moralitas tinggi. Menjaga  hubungan baik dengan Tuhan, dengan manusia, dan dengan lingkungan sekitar. Hubungan yang harmonis dan serasi.

 

Dalam pengalaman hidup masyarakat Suku Banjar. Ada pamali selain maghrib.   Konteksnya masih berhubungan dengan Tuhan. Seperti:

 

Pamali atau larangan memelihara anjing. Anjing dalam simbol budaya pamali adalah sebuah pantangan. Lantaran merawat anjing adalah gegara hewan itu diharamkan Allah. Pada daging dan liurnya.

 

Anjing mengandung najis besar. Najis dan dosa adalah penyebab supaya menjauhi hewan ini. Akibat melanggar pamali disebutkan keengganan malaikat.

 

Malaikat tidak masuk pada sebuah rumah yang berkeliaran anjing di sekitarnya. Larangan ini menunjukkan etika moral beragama. Pantangan   memelihara anjing bermaksud menaati perintah Allah.  “malaikat tidak mau masuk rumah yang ada anjing di sekitarnya.

 

”Pamali lain yang termasuk dalam ranah religi Suku Banjar adalah pamali makan minum berdiri. Artinya kegiatan makan dan minum sebaiknya dilakukan dalam posisi duduk. Ini disebut pamali budaya yang ada kaitannya dengan sistem beragama. Aturan agama menganjurkan makan dan minum dalam keadaan duduk.

 

Selain mengembangkan nilai pendidikan akhlak mulia. Pamali sejalan dengan informasi kesehatan. Makan dan minum dalam keadaan berdiri akan mengganggu sistem pencernaan. Selain secara etika kurang elok kelihatannya.

 

Pamali dalam unsur budaya : sistem mata pencaharian berlaku larangan : pamali manyapu lantai malam-malam. Artinya. Membersihkan lantai (menyapu) dilakukan siang hari.akibat melanggar pamali ini ditengarai pelakunya akan jauh dari rezeki.

 

Pamali dalam unsur  budaya sistem kekerabatan dan organisasi sosial. Pamali manawakan urang bakantut. Artinya jangan sekali-kali membully seseorang yang buang angin secara tidak sengaja.

 

Akibat melanggar pamali ini adalah runkang gigi atau lepasnya gigi tetap dalam mulut. Pesan pendidikan berbasis kearifan lokal mengajarkan rasa toleransi. Menutupi kekurangan orang lain. Hirau terhadap perasaan malu yang dialami seseorang, memuat pamali dalam unsur budaya ; sistem kekerabatan menali erat dan kuat.

 

Buang angin di depan orang lain mungkin sebuah kesalahan. Budaya mengajarkan nilai kebaikan. Kesalahan ditutupi untuk menghormati perasaan. Menutupi rasa malu yang ditimbulkannya.

 

Pamali dalam unsur bahasa dapat dilihat dari kalimat : pamali menyambat naran urang tuha. Artinya terlarang memanggil nama orangtua (Ayah dan Ibu) dengan sisi.

 

Sisi adalah istilah penyebutan nama tanpa embel-embel. Atau menyebut nama orang tanpa menyertakan sebutan misalnya ;Bapak. Ibu. Acil, Julak, Nini dan seterusnya. Sebutan  untuk memanggil orang yang lebih tua secara usia. Maupun orang yang dituakan kedudukannya dalam masyarakat.

 

Pamali dalam unsur budaya : ilmu pengetahuan :Pamali nginum sambil malapas hinak. Artinya jangan minum air sambil buang napas. Saat seseorang minum hendaklah dia menahan napas. Ini menegaskan anjuran sehat. Saat bernapas seseorang akan membuang karbondioksida atau racun. Racun miliknya sendiri hendaknya jangan dilepaskan pada minuman yang akan direguk.

 

Dan pamali dalam unsur budaya yang ke-tujuh adalah : pamali malihat karasmin kuda lumping. Karasmin artinya pertunjukkan.

 

Sebuah permainan tradisional kuda lumping terlarang dinikmati mata. Kesenian ini dianggap ada setannya. Pemain kuda lumping makan pecahan kaca dalam keadaan tidak sadar diri (kesurupan). Seseorang dalam situasi sadar mustahil memasukkan beling atau pecahan kaca ke dalam mulut. Apalagi memakannya serupa mengunyah keripik.

 

Pengungkapan budaya dalam tatanan kearifan lokal tidak hanya menunjukkan ketahanan kebudayaan.

 

Pelestarian nilai-nilai kearifan lokal  adalah bahan keberlanjutan sebuah kebudayaan. Pondasi kuat pengikat budaya, tidak tercerabut habis hingga akar.

 

Serangan bertubi-tubi yang datang dari budaya barat bukan bahaya dalam arti sebenarnya. Kearifan lokal telah mewadahi konsepsi baik langsung dan tidak langsung.

Budaya akan mati atau pelestariannya berhenti tergantung perilaku aktivitas budaya. Manusia pelaku budaya itu sendiri.

 

Jika  generasi saat ini  hirau akan nasib budaya. Maka empat bahkan hingga tujuh generasi mendatang budaya masih ada.  Namun jika generasi muda saat ini abai budaya. Meninggalkan nilai-nilai dan menganggap sebelah mata suasana kearifan lokal.

 

Oke. Tunggu saja. Kurang satu abad dari sekarang. Anak kandung budaya satu suku akan kehilangan identitas diri mereka. Sebaiknya jangan percaya “gertakan” saya.

 

Siapa saja. Kita. Sebaiknya terus lah lestarikan budaya sebagai perwujudan nilai-nilai kearifan lokal. Bernapas dalam lingkungan damai budaya. Demi mematahkan sebuah rasa curiga. (***)

 

Penulis           :R. Indra

Editor             :Zuajie

 

 

 

 

 

 

Article Lainnya


UMP 2022 Naik Rp33 Ribu, Wagub Kaltim Minta Pekerja Bersyukur

UMP 2022 Naik Rp33 Ribu, Wagub Kaltim Minta Pekerja Bersyukur

PARADASE.id - Pemerintah telah menetapkan rata-rata kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) nasional se...

31.624 ASN Terima Bansos, Tri Rismaharini: Akan Dikembalikan ke Daerah

31.624 ASN Terima Bansos, Tri Rismaharini: Akan Dikembalikan ke Daerah

PARADASE.id - Puluhan ribu data Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang masih aktif ditemukan sebagai peneri...

Juarai Turnamen 360 Event in Action Kota Samarinda, Tim Futsal Kota Taman Berpeluang Lanjut ke PON Porprov 2022

Juarai Turnamen 360 Event in Action Kota Samarinda, Tim Futsal Kota Taman Berpeluang Lanjut ke PON Porprov 2022

PARADASE.id - Tim Futsal Kota Taman FC berhasil meraih juara pertama pada turnamen 360 Event in Acti...

Mutasi Pejabat Pertama Era Basri-Najirah, 204 ASN Isi Jabatan Baru

Mutasi Pejabat Pertama Era Basri-Najirah, 204 ASN Isi Jabatan Baru

PARADASE.id - Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bontang, Basri-Najirah resmi melakukan mutasi jabatan pe...

JELAJAH