Kembali ke Artikel
Budaya Erau : Taji Asli Pribumi Walikota Bontang Neni bersama cucunya prosesi adat tepong tawar di rumah jabatan. (Foto:humas Pemkot Bontang)
05 Sep/2019

Budaya Erau : Taji Asli Pribumi

05 Sep 2019 Feature

PARADASE.ID. Erau Pelas Benua Guntung dibuka secara resmi oleh Walikota Bontang Neni. Acara yang diiftitahi  “tepong tawar” oleh tokoh adat Kutai kepada Walikota Neni dan suami juga Wawali Basri Rase dan istri adalah simbolik memuliakan (tokoh)  khalayak bumi.

 

Ritual tepong tawar menandai “Izin “dari langit telah turun untuk melaksanakan rangkaian perbuatan Erau. Tepong tawar dalam pelaksanaan erau di bumi. Acara ini jadi  pembuka setelah proses panjang permintaan izin (pemberitahuan) kepada “kayangan “ dikabulkan (Besawai).

 

Di Tenggorong daerah asal Erau prosesi ini lebih rumit lagi. Sedangkan di Sanggata Kutai Timur nama acara disebut : Erau Pelas Tanah.

 

Dalam (PASUKA BAKUDA ; 2018 Indrayani Indra) penyusun buku membeberkan sejarah Erau termasuk detail prosesi Erau Tenggorang—Upacara yang sarat nuansa mistik dan rafalan mantra gaib— dimulai dari mendirikan tiang ayu (tiang dari batang pohon pinang), bepelas, menyisiki lembu swana, Dewa menunjuk buah kamal, Dewa belian menjala, seluang mudik, ngulur naga, be-umban, upacara begorok, rangga titi, belimbur, begelar dan merebahkan tiang ayu.

 

Dahulu, Erau merupakan hajatan besar bagi Kesultanan Kutai dan masyarakat di seluruh wilayah kekuasaannya. Ranah  yang kini mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Timur.

 

Pada awalnya, perhelatan ini berlangsung selama 40 hari 40 malam dan diikuti segenap lapisan masyarakat.

 

Menurut riwayat yang diyakini masyarakat Kutai secara turun temurun, Erau bermula sejak abad ke-12 Masehi. Catatan sejarah menyebutkan Erau pertama kali berlangsung saat Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia belia (5 tahun) pada upacara tijak tanah (menjejakkan kaki ke tanah) dan mandi ke tepian (sungai Mahakam). Di kemudian hari ia diangkat menjadi sultan pertama Kutai Kertanegara Ing Martadipura (1300-1325). 

 

Sejak itu, Erau diadakan setiap penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kertanegara.

 

Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

 

Seiring perjalanan waktu, Kesultanan Kutai kemudian bergabung dalam wilayah Republik Indonesia. Sampai tahun 1960. Kutai berstatus Daerah Istimewa dengan Sultan sebagai kepala daerah. Setelahnya, status Kutai beralih menjadi kabupaten dan kepala pemerintahan dipegang oleh seorang Bupati.

 

Peralihan ini menjadi penanda berakhirnya era Kesultanan Kutai yang telah berdiri selama lebih dari 7 (tujuh)  abad. Meski demikian, Erau sebagai salah satu peninggalan budaya dari Kesultanan Kutai tetap bertahan.

 

Erau yang dilangsungkan menurut tata cara Kesultanan Kutai terakhir kali diadakan pada tahun 1965. Kemudian, atas inisiatif pemerintah daerah dan izin dari pihak Kesultanan, tradisi erau  dihidupkan kembali pada tahun 1971.

 

Penyelenggaraannya menjadi 2 (dua) tahun sekali dan mengikuti beberapa persyaratan. Sejak saat itulah pelaksanaan Erau menjadi ajang pelestarian budaya warisan Kesultanan Kutai dan berbagai etnis yang hidup di dalamnya.

 

Erau dilangsungkan bertepatan hari jadi Kota Tenggarong, tanggal 29 September. Sejak tahun 2010, pelaksanaan festival ini dilaksanakan setiap bulan Juli. Menyesuaikan waktu liburan sekolah.

 

Festival ini dimeriahkan ragam kesenian. Upacara adat uku-suku Dayak, dan lomba olahraga ketangkasan tradisional.

 

Tahun 2013 menjadi penanda era baru pelestarian budaya warisan Kutai Kertanegara.

 

Untuk pertama kalinya, Erau disandingkan dengan perhelatan budaya tradisional dari berbagai negara. Dalam perhelatan bernama Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF), berbagai kesenian dan tradisi dilingkup Kesultanan Kutai, bersisian dengan warisan budaya dunia dari berbagai bangsa di penjuru dunia.

 

Prosesi Adat Erau

 

Erau merupakan implementasi rasa syukur pada Ilahi. Erau adalah ajang pesta masyarakat bumi. Sebuah ritual budaya bangsa Kutai. Di saat Erau lah  Sultan dan rakyat dapat bergembira bersama. Dalam kegembiraan itu maka dihadirkan penampilan seni budaya tradisional. Tarian dan nyanyian serta makanan yang berlimpah ruah. Secara khusus Erau mengandung makna penyucian tanah air dan tanah benoa Kutai. Erau menjadi serangkaian kegiatan sakral. Magis dan mistik. Upacara berisi permohonan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Kalimantan Timur.

 

Pelaksanaan Erau

 

Terdapat tiga pelaksanaan upacara adat Erau dilingkup Kesultanan Kutai Kertanegara, yakni, Erau Tepong Tawar, yaitu erau yang dilaksanakan kerabat keraton pada waktu tertentu berdasarkan keinginan (hajat) terhadap suatu pekerjaan. Dalam pelaksanaan ini Raja berkehendak bebas, artinya tidak melakukan ketentuan khusus atau ritual ”Tuhing". Kedua, Erau Pelas Tahun, yaitu erau yang dilaksanakan kerabat keraton berhubungan dengan aktivitas  kehidupan rakyat.

 

Erau ini bertujuan membersihkan semua yang mengganggu sumber-sumber kehidupan di permukaan bumi wilayah kerajaan. Kemudia yang ketiga adalah Erau Beredar di Kutai, merupakan Erau yang dilaksanakan kerabat keraton dalam pengukuhan, pengangkatan, penobatan ketahtaan di kerajaan.

 

Dalam pelaksanaan ini Raja melakukan ritual tuhing yaitu tidak menginjak tanah pada waktu tertentu, kecuali di atas kain atau Alas Bumi yang dihampar ke tempat tujuan. Dalam pelaksanaan ini kerabat keraton meng-Erau-kan raja, ditandai prosesi "Mendirikan Ayu "diakhiri prosesi "Merebahkan Ayu". Subjek atau pelaksana Erau adalah kerabat keraton,  yang di Erau- kan adalah Raja, sedangkan yang ERAU adalah rakyat.

 

Erau Guntung  dan Amanat melestarikan Budaya “Datu”.

 

Darmawi seorang tetuha adat Kutai Guntung menjelaskan bahwa Erau adalah tradisi adat Kutai. Upacara adat yang merupakan event tahunan.

 

Desa Guntung yang notebene adalah “pribumi” penduduk asli Kalimantan Kutai adalah pemangku kepentingan adat itu. Secara tersirat di pundak mereka tertanggung beban memasyarakatkan Erau dalam ritual “bersih-bersih benua”. Buang bala diganti dengan keadaan yang aman, selamat dan sejahtera bagi seluruh masyarakat Bontang.

 

Dalam inovasinya. Pelaksanaan Erau tetap memertahankan inti pesan “langit” (doa) dipadu unsur hiburan rakyat. Kolaborasi adat dalam versi kekinian, merupa pesona wisata budaya. Daya tarik menyihir mata penikmat eksplorasi tradisi.

 

Erau, besutan Lembaga Adat Kutai Guntung dan Pemerintah Kota menghadirkan Erau dalam fungsinya sebagai alat pendidikan budaya berbusana kearifan lokal masyarakat Kutai.

Dalam acara yang dihadiri Raden Fuaq Tonro Date. Salah seorang anggota keluarga kesultanan Kutai Kartanegra Ing martadipura. Neni diamini anggota  wakil rakyat mengimbau supaya fungsi budaya tetap terjaga.

Budaya sebagai alat perekat bangsa. Pelestariannya demi menjaga persatuan dalam bingkai kebhenikaan. Kekayaan multikultural suku bangsa menampilkan wajah Indonesia mini di kota TAMAN.

 

Erau jadi ajang paling penting menampilkan atraksi seni bela diri dan olahraga tradisional, nyanyi dan aneka pameran kuliner. Kuliner rakyat.  Asli pribumi.

 

Ke depan selain gelaran Erau yang bersifat normatif, rutin dan momen tahunan, diharapkan pemerintah membiayai juga projek penyusunan budaya dan seni daerah dalam sebuah anual report. Buku bergambar  menonjolkan keunikan kekayaan budaya dan seni tradisonal suku Kutai Kalimantan.

 

Pelaksanaan pesta Erau Pelas Benua Guntung berglangsung hingga tanggal 8 september 2019 di kawasan panggung utama lembaga adat kutai  desa Guntung.

Kegiatan budaya Erau selesai dengan ritual sakral “merebahkan tiang ayu.” (***)

 

 

Reporter              :Supriono

Penulis                 :R. Indra,Supriono

Editor                  :Akbar

 

 

 

 

 

Article Lainnya


Komisi III Janji Anggarkan  Perbaikan Hotel Grand  Mutiara Bontang yang Terancam Runtuh

Komisi III Janji Anggarkan Perbaikan Hotel Grand Mutiara Bontang yang Terancam Runtuh

PARADASE.id - Komisi III DPRD Bontang menggelar sidak di kawasan Hotel Grand Mutiara, pada Sel...

Bakhtiar Wakkang Ajak Konstituen Dukung Vaksinasi Covid-19

Bakhtiar Wakkang Ajak Konstituen Dukung Vaksinasi Covid-19

PARADASE.id - Anggota Komisi II DPRD Bontang Bakhtiar Wakkang menjadi salahsatu penerima...

22 Desa di Kaltim Diusulkan Masuk Program Desa Wisata Nasional

22 Desa di Kaltim Diusulkan Masuk Program Desa Wisata Nasional

PARADASE.id - Pemprov Kaltim mengusulkan 22 desa wisata masuk dalam Program Pengembangan Desa Wisata...

Warga Kurang Mampu Diusulkan Masuk Prioritas Vaksin di Bontang

Warga Kurang Mampu Diusulkan Masuk Prioritas Vaksin di Bontang

PARADASE.id - Anggota Komisi III DPRD Bontang Faisal mendorong pemerintah untuk memasukkan warga kur...

JELAJAH