Kembali ke Artikel
Batimung Ilustrasi.
24 Oct/2020

Batimung

24 Oct 2020 Cerita

Oleh Indrayani Indra

 

DEDAUN pandan dan daun laos dan daun dan batang serei mewangi dalam air jerangan panci yang sekujur pantat dan dinding luarnya menghitam. Sesuai anjuran tetuha, adat batimung pengantin atau mandi uap dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut. Laila belum mengirimkan artikel yang harus terbit keesokan pagi. Sesibuk apapun pekerjaannya di kantor redaksi namun sebagai calon pengantin yang menikah dua hari lagi, dia harus tunduk pada ketentuan tradisi yang dijaga ketat oleh setiap generasi.

 

Malam Kamis adalah malam ketiga calon pengantin mandi uap, seperti dua malam sebelumnya, Laila menurut saja badannya dibungkus selimut tebal lalu ditutupi tikar dari anyaman daun rumbia yang menahan uap tetap hangat. Di dalam kurungan tersebut dia duduk di atas sebuah bangku kayu. Di hadapannya air jerangan bersuhu 70 celcius siap diaduk. Mandi uap calon pengantin dilakukan dengan membuka tutup panci sedikit demi sedikit untuk mendapatkan hawa panas dan memertahankannya lebih lawas.

 

Uap hangat memandikan sekujur tubuh perawan. Keringat bercucuran dari gerakan tangan yang hati-hati mengaduk air jerangan, semakin lama bertahan semakin bermutu manfaatnya untuk menyegarkan badan. Di tempat duduk dalam kurungan selimut itu, sang calon pengantin mendua hati antara tetap di tempatnya atau melipat waktu untuk menuntaskan bagian penutup artikelnya. Dia butuh seseorang mengeluarkan tubuhnya dari kurungan tetapi tidak ingin bertengkar dengan adik perempuan ayahnya. Mewakili keluarga, acil menunaikan tugas tradisi menimung sang keponakan.

 

“Sepertinya sudah dingin, Cil,” kata Laila memberitahu dengan arah kepala lurus ke depan. Dalam beban kurungan, mana mugkin kepala seenaknya menoleh ke kiri atau ke kanan. “Tunggu hingga satu jam, sesuai ketentuan adat,” kata acil yang cekatan mengencangkan balutan tikar di bagian leher. Laila tidak melawan, namun kakinya melebarkan bukaan selimut pada bagian bawah.

Dengan demikian udara luar masuk lebih kuat. Hawa jerangan dingin lebih cepat dan calon pengantin berharap dapat segera melarikan diri menutup bagian kesimpulan dari artikel yang mepet di batas tengat. (*)

 

*Batimung atau mandi uap calon pengantin adalah tradisi suku Banjar Kalimantan Selatan. Ritual adat ini dijalani oleh calon pengantin perempuan. Waktu timung biasanya malam hari, dilaksanakan selama tiga hari bersambung. Tujuannya untuk mendapatkan energi positif dan rasa kesegaran wangi bunga.

 

Article Lainnya


Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Cerita oleh : Indrayani Indra Bulir-bulir padi berwarna emas. Batangnya bergerak disepoi an...

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Bangunan kampus itu tetap sama seperti saat ia ada di sana, empat pilar utama berwarna hijau pupus m...

Ayunan

Ayunan

Oleh : Indrayani Indra Ratih dan Jamali sepakat berbagi tugas pengasuhan. Ratih akan menidu...

Nasi Campur Prapatan

Nasi Campur Prapatan

Oleh: Indrayani Indra Penampakkan wajah perempuan paro baya itu lebih banyak merupa kerut c...

JELAJAH