Kembali ke Artikel
Balapan Liar Ilustrasi. (Twitter Kandangtrail)
27 Aug/2020

Balapan Liar

27 Aug 2020 Cerita

Sebuah balapan liar mengamuk dan membenturkan satu kepala ke pucuk median jalan di atas akar tiang listrik. Darah tertuang dari leher yang patah dengan luka menganga di tengah kepala. Malam buta disayat dingin merasuk bersama lolong kematian. Lalu jasad terkapar itu meregang di bawah permukaan sepi panjang tengah malam. Tidak ada kawanan aksi yang mengorbankan diri menolong sang pesakitan. Sementara seorang lelaki yang mengendarai motor bersama jasad tidak bernyawa itu lolos dari cengkeraman maut namun pingsan menahan paha kiri yang  patah berlutut di kaki tiang listrik tenang penerangan.

 

Di tempat lain, di sebuah bilik kayu. Alarm pukul 2.00 dini hari berteriak bersusulan bersama suara anjing liar yang memepet tepi hutan. Mata perempuan yang keriputnya lebih berlipat ketimbang usianya itu malahan jauh dari jangkauan kantuk. Tangannya bertelekan bantal dengan posisi badan miring ke kanan menghadap dinding dari kayu yang dicelahnya terpapar dengus angin. Saat malam tidak lagi belia, telinganya semakin jeli mengenali suara kalau-kalau pintu depan diketuk atau jika ia datang tidak mengetuk pintu. Telinga perempuan yang lembap oleh airmata sehabis memanjatkan doa itu pilu dan berharap masih menangkap suara telapak kaki yang mengendap-endap menyusup ke kamar di samping bilik yang disekat triplek tempat dia berebah. Atau jikalau ia datang mengendarai sepeda motor, bunyi mesin yang memekakkan telinga yang diketahui telah melempar bunyi sejak masuk pintu gerbang perumahan yang berbatasan dengan tepi hutan itu yang dikenalinya dalam keadaan terlelap sekalipun. Namun hingga kokok jago membeduk niat penggiat sholat tahajjud, aroma tubuh yang diasapi tembakau dari anak lelaki pulang ke rumah belum ada tanda-tanda datang barang seujung jari.

 

Perempuan yang tidak lelah mendoa itu kerap terbangun tengah malam. Antara irisan rasa marah yang dikalang mati-matian. Bagaimanapun sebiji kristal kemarahan dalam hatinya harus bisa dikalahkan. Dia tidak ingin menaruh perasaan buruk sebiji zarrahpun kepada buah hatinya. Sekalipun setiap malam perasaannya gelisah apabila mendapati putranya tidak pulang.

 

Setiap ketukan pintu adalah prasangka antara anaknya yang pulang atau  kehadiran seorang polisi yang memberitahu bahwa anaknya terciduk lagi lalu sudah dijebloskan di sel besi. Atau ketukan pintu dari ketua RT yang membawa tubuh lunglai dengan mulut meracau hingga kesadaran. Perempuan itu sudah kehabisan ucapan untuk permintaan maaf dan berterima kasih baik kepada ketua RT maupun petugas wakar di perumahan atau aparat berbaju cokelat yang memberitahu keadaan anaknya. Dan ketika pada suatu siang si anak digrebek— untuk kali ke sekian oleh petugas keamanan— karena membuat gaduh setelah menghirup aroma lem di semak belukar belakang pos ronda di ujung komplek perumahan, ia yang paling tidak sadar tercecer ditinggalkan teman-teman yang berhasil membawa lari diri dari kejaran popor polisi.

 

Namun malam itu, sang ibu menaruh rasa cemas yang tidak sudah-sudah. Rasa gelisah menyuruhnya kencing hampir setiap dua jam. Malam masih jauh menuju subuh namun selain perasaan ingin kencing yang kuat dan berulang, perasaan lain seperti seorang linglung membuatnya menjatuhkan sebuah gelas yang ingin digunakan minum. Serpihan pecahan beling yang menggelinding di bawah meja mampir di jari kakinya membekaskan goresan dan berdarah. Gegara kesulitan memejamkan mata, keinginan minum lebih banyak dilakukannya sekadar menyela rasa gelisah. Rasa yang menetap tanpa diketahui kapan rasa itu akan meninggalkannya. Sebuah rasa ganjil yang harus diurusnya supaya ia bisa menghela napas bersama perasaan yang tidak menentu. Ia minum air putih dari kendi dalam posisi duduk dan bersandar dan meletakkan gelas di pinggir meja, dan tangannya bergerak sedikit cepat ke arah tengah lalu menggugurkan lagi gelas yang kedua.

 

Gulita menutupi matanya ketika terdengar pintu ditetuk perlahan. Sebuah ketukan lirih, teramat lirih. Dia menjejak lantai papan dengan hati-hati jangan sampai pecahan kaca melukai kaki.  Belum sampai tangannya meraih gagang pintu, kakinya yang tertusuk jarum-jarum kaca menitikkan jejak darah di sepanjang lantai. Lantas daun pintu dikuak dari luar. Seseorang berada di beranda setelah membuka pintu dan memastikan bertemu dengan pemilik rumah.

 

“Assalamualikum, Bu Salamah. Belum tidur Bu ?”

 

“Ada apa Pak RT ?  Alkim lagi ? Mabuk lagi atau ditangkap polisi lagi ? Pukul saja ! Biar. Pukul. Tolong buat supaya anak itu jera. Atau mati saja sekalian.”

 

Pak RT terperanjat,  badannya agak condong ke belakang. Betapa perih hati si ibu yang menghamburkan ucapan untuk anaknya. Serupa menjejak alam nyata, dia mendapatkan satu orang manusia lain yang mendengar yang harus dia suarakan. Dia berharap kebaikan namun kelakuan anaknya tersesat jauh dari jalan kebenaran.

 

“Sssst. Sssst, Bu Salamah.” kata Pak RT setelah memerbaiki posisi tegak, dengan suara lirih hingga kepak sayap nyamuk yang masih terjaga di antara mereka terdengar nyaring, sumbang dan menebarkan bau dupa.

 

Jauh di lubuk hatinya, perempuan itu mengharapkan kedatangan anaknya. Anaknya yang lelah balapan liar dan mengantuk dan pulang dalam keadaan sadar layaknya seseorang pulang karena harus pulang.

 

“Alkim. Pukul saja Pak bikin supaya jera dengan popor itu.”katanya menunjuk dengan tatapan kepada satu polisi yang berdiri beku di samping kiri ketua RT.

 

"Begini, Bu--eee... atau Ibu ikut sekalian melihat keadaan alkim

 

“Ibu kami antar menengoknya. “ ujar Pak Polisi.

 

“Di rumah sakit, Bu,” ujar Pak RT lagi.

 

“Pak RT saja, saya ikhlas saya sudah tidak tahan."

 

“Ibu tidak mau melihat anaknya ?” ujar Pak RT mencari kepastian dengan bimbang.

 

"Yakin, tidak mau ke rumah sakit ? Sebaiknya Ibu ke rumah sakit." kata Pak RT ragu-ragu.

 

"Di kamar mayat, Bu." kata polisi setengah tidak sabar.

Article Lainnya


Bunga untuk Pagi

Bunga untuk Pagi

SINAR pagi yang menenangkan belum muncul ketika aku menggeret motor, berjalan agak memiring, melalui...

Rumah Tidak Membakar Kenangan

Rumah Tidak Membakar Kenangan

Sebuah rumah tinggal asal belum dilahap api walaupun berlumut dan bagian kayu dinding dan lantainya ...

Menyewa Tukang Adzan

Menyewa Tukang Adzan

DUA minggu ini selalu teriakan Alpiansyah yang memekak telinga melalui alat pengeras suara musholla....

Bulan Dalam Cangkir

Bulan Dalam Cangkir

Kafe dengan penerangan sedang itu buka lebih awal dari biasanya. Letaknya yang agak sedikit masuk da...

JELAJAH