Kembali ke Artikel
Andil Pemerintah Mempercepat Kemunduran Moral Ilustrasi pendidikan. (Foto: Stephan Uttom/ucanews.com)
17 Dec/2020

Andil Pemerintah Mempercepat Kemunduran Moral

17 Dec 2020 Feature

Oleh: Rusmiyati Indrayani

 

KELUARGA hendaklah kembali menjadi “school of love”, atau mengutip istilah Phillips; sekolah untuk kasih sayang. Perkataan Phillips di atas setubuh dengan fungsi keluarga sebagai tempat pemeliharaan dan kasih sayang. Sebagai tri pusat pendidikan, keluarga menjadi rantai pendidikan yang menyatu bersama sekolah dan masyarakat. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu; mengantarkan anak didik menjadi seorang pribadi yang bertakwa kepada Allah SWT dan memiliki akhlak mulia atau karakter terpuji. Seseorang disebut berkarakter ketika dapat berperilaku sesuai  nilai moral. Karena inti pendidikan karakter adalah nilai moral. Moralitas adalah modal perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari, baik berkaitan dengan diri sendiri maupun orang lain.

 

Masalahnya sekarang, negara Indonesia sedang dilanda wabah Covid-19. Harapan keluarga untuk mencetak  anak berkarakter unggul (bertakwa dan berakhlak mulia) yang lebih banyak mengandalkan pendidikan formal di sekolah, saat ini sedang mengalami benturan. Faktanya dengan adanya perubahan pembelajaran dari  sistem konvensional atau tatap muka di dalam kelas menjadi pembelajaran virtual atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Suka atau tidak “telah terjadi alihfungsi” pendidikan dari sekolah kepada keluarga. Secara kasat mata sekolah seolah-olah mengembalikan siswa kepada keluarga untuk dididik langsung oleh kedua orang tuanya. Ada keprihatinan bersama antara guru dan orang tua namun para pihak hanya bisa menerima perubahan yang terjadi alamiah atas nama sunatullah.

 

Pandemi menyadarkan orang tua akan fungsi utamanya sebagai pendidik dalam keluarga. Tetapi beberapa orang tua belum beruntung memiliki kompetensi dasar untuk menjadi guru sebagaimana yang dimiliki oleh dosen dan guru. Empat kompetensi dasar dosen dan guru yaitu ; kompetensi pribadi, kompetensi sosial, kompetensi pedagogi, dan kompetensi professional adalah syarat yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

 

Kekurangan syarat tersebut menghendaki adanya kerjasama pihak orang tua dan sekolah. Di masa pandemi, ketika anak harus mengikuti aturan belajar dari rumah, drama keluarga pun dimulai. Ada tarik menarik kepentingan antara orang tua dan anak. Konflik ini tidak ayal menggerus nilai-nilai karakter yang seharusnya dimiliki anak seperti rasa hormat dan tanggung jawab. Lunturnya karakter dalam keluarga disebabkan oleh keterbatasan orang tua dalam melakukan pendekatan belajar dan sikap penolakan anak yang ditunjukkan secara terbuka.

 

Karakter merupakan kunci dari salah satu keberhasilan individu. Berdasarkan hasil penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang tidak  semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 % oleh hard skill dan sisanya 80 % oleh soft skill.  Seseorang bisa sukses dan berhasil karena lebih banyak didukung kemampuan soft skill.

 

Pentingnya pembentukan karakter pendidikan telah menjadi pusat perhatian di berbagai belahan dunia. Dalam rangka ikut menyiapkan generasi yang baik maka kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat mutlak dibutukan. Pembentukan ialah bagian dari usaha mulia yang mendesak harus dilakukan pendidikan karakter. Ada 18 poin nilai-nilai karakter pendidikan: tanggungjawab, peduli sosial, peduli lingkungan, gemar membaca, cinta damai bersahabat/komunikatif, menghargai prestasi, cinta tanah air, semangat kebangsaan, rasa ingin tahu, demokratis, toleransi, jujur, disiplin, kreatif, kerja keras, religius dan mandiri. Semua nilai karakter tersebut butuh ditumbuhkan kembangkan dalam diri setiap insan.

 

Dalam upaya melakukan pendidikan karakter semua pihak ; rumah tangga; sekolah; dan lingkungan lebih luas (masyarakat) harus terlibat untuk menjalankan fungsi dan mengambil tanggung jawab masing-masing. Pekerjaan penting pertama yang harus dilakukan adalah merekatkan hubungan (educational networks) yang nyaris terputus antara ketiga lingkungan pendidikan tersebut. Pembentukan watak dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama ketiga lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan harmoni.

 

Tantangan Pendidikan Masa Depan

 

Di masa pembelajaran berlangsung nomal, durasi siswa mengikuti pendidikan di sekolah sekitar 7 (tujuh) jam/ hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik. ( Mulyasa, 2001).

 

Namun angka yang hanya 30 % itu telah menyumbang dampak serius terhadap hasil pendidikan nasional selama ini. Pendidikan kita terlalu berorientasi pada aspek kognitif. Otak anak menjadi semacam penumpukkan data besar dari sumber-sumber pengetahuan. Sistem penilaian belajar terfokus pada menguji penguasaan aspek pengetahuan. Perhatian yang sama tidak sepadan pada sisi sikap dan perilaku. Akibatnya terjadi masalah serius dengan munculnya krisis moral dan kurusnya perilaku terpuji di kalangan anak-anak.

 

Dalam hal ini pemerintah ikut andil  mendukung kemunduran moral siswa karena mementingkan penilaian yang berbasis angka-angka (ujian-ujian tulis). Pemerintah seolah menutup mata terhadap menurunnya perilaku moral, menurunnya sikap anak-anak sekolah dan meningkatnya perilaku kekerasan di kalangan mereka. Ukuran keberhasilan pendidikan lebih diletakkan pada menjawab soal-soal ujian dan target-target perolehan nilai, bukan pada indikator moral dan pengembangan karakter utama. Akibat yang ditimbulkannya adalah kita mendapati banyaknya anak-anak yang mendapat nilai tinggi namun moralnya begitu rendah.

 

 Terdapat 10 tanda-tanda indikator kemunduran moral yang mengancam kehancuran bangsa seperti disebutkan Thomas Lickona:

 

1.          Meningkatnya perilaku kekerasan dan perilaku merusak dikalangan remaja.

 

2.          Penggunaan kata atau bahasa yang buruk (seperti ejekan, makian, celaan)

 

3.          Kuatnya pengaruh teman sebaya daripada guru dan orang tua.

 

4.          Meningkatnya perilaku penyalahgunaan sex, merokok dan obat jenis adiktif.

 

5.          Merosotnya perilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi

 

6.          Menurunnya rasa bangga, cinta bangsa dan tanah air (Patriotisme).

 

7.          Rendahnya rasa hormat pada orang lain

 

8.          Meningkatnya perilaku merusak kepentingan publik.

 

9.          Ketidakjujuran yang merajalela.

 

10.      Berkembangnya rasa saling curiga, benci dan memusuhi diantara sesama warga negara (kekerasan SARA).

 

Dari latar belakang pemikiran di atas, penulis mengira sudah saatnya merumuskan kembali arah dan nilai pendidikan karakter anak bangsa ini. Masa pandemi adalah pintu masuk untuk memersiapkan landasan karakter yang akan melejitkan anak menghadapi zamannya.

 

 

Manajemen pendidikan keluarga di masa pandemi menjadi titik balik kesadaran semua pihak untuk menilai hasil pendidikan yang terjadi selama ini.

 

 

Keluarga dengan basis kasih sayang orang tua dan saudara adalah lahan subur untuk mengembangkan nilai-nilai karakter terpuji. Konsep merdeka belajar yang dicanangkan Menteri Nadiem menjadi pelita menghadapi ketidaksiapan sistem pendidikan yang mengalami perubahan. Merdeka belajar berbasis keluarga akan didukung oleh penerapan teori-teori belajar kontekstual di era pandemi ini. Seperti teori konstruktivistik yang memberi kesempatan kepada anak untuk membangun sendiri pengalaman belajarnya dan teori humanistik yang mengarah pada konsep pendidikan yang membebaskan. (*)

Article Lainnya


Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

PARADASE.id - Penetapan jam malam dalam rangka pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di...

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

PARADASE.id - Pemerintah Kota Bontang mewacanakan kembali membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kilan...

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

PARADASE.id - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Bontang dimulai hari in...

28 Warsa Bersama

28 Warsa Bersama

Inway # 129 Oleh : Rusmiati Indrayani Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi hari sebel...

JELAJAH