Kembali ke Artikel
28 Warsa Bersama
17 Jan/2021

28 Warsa Bersama

17 Jan 2021 In Way

Inway # 129

 

Oleh : Rusmiati Indrayani

 

Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi hari sebelumnya. Aku bangun sebelum kokok si jago menyuruh menghidupkan malam dengan ibadah. Namun cuma bangun lalu ke kamar mandi. Waktu belum menunjuk angka pukul 2.00 kemudian aku kembali menyarukkan badan di bawah selimut dan membenamkan kepalaku di sana. Rupanya alarm kumatikan, sehingga pagi tadi menjadi sebuah penyesalan diawal membuka mata. Semoga rasa sesal akibat abai sujud menjadi penggerak supaya lebih menyiapkan diri bangun tahajjud. Oke, aku menyesal dan membiarkan saja rasa sesal itu sembari menekur di pembaringan dan berdoa semoga besok tidak terulang.

 

Lalu pintu kamar dibuka, ia pulang dari masjid. Seperti biasa. Mengenakan baju takwa dan songkok haji di kepalanya. Rambutnya memutih dan menipis. Suaranya mengucapkan salam kepadaku yang masih duduk di tepi tempat tidur tetap sama. Dari dulu saban ia masuk rumah atau masuk kamar ketika mengetahui aku ada di dalam, suara salamnya khas kukenal dan menyejukkan perasaan.

 

Saban mendengar suara salam yang dibunyikan ketika membuka pintu rumah atau pintu kamar kami, seperti ada yang hidup di dalam dadaku dan selalu begitu.

Suatu hari secara tulus kuungkapkan rasa besar hati setiap mendengar ucapan salamnya dan jawabannya tidak membuatku kaget hanya tersenyum kecut. “Drama.” katanya sambil tersipu, entah diksi siapa yang dipinjamnya.

 

Pagi tadi, masih di tempat tidur dengan wajah asli dari bantal dan malam. Penampilan terburukku yang ia temukan, ia yang mengamati dan ia yang mendekati untuk memberitahu bahwa aku belum sholat subuh. Aku belum mengoleskan gincu, belum menyikat gigi dan belum membersihkan krim malam yang sudah mengering di wajah tanpa bedak. Ia tutup pintu kamar dan menyalakan lampu, ia pastikan pintu terkunci rapat supaya jika auratku terlihat tidak sempat tertangkap mata anak-anaknya. Tidak seperti ketika ia membangunkan anak-anak untuk sujud di kala subuh, kepadaku ia cukup menyentuh  batas rambut terluar atau bersuara lirih sekali atau nyaris berguman mengingatkan “Umi belum subuhan.”

 

Pagi tadi, ia bangun lebih awal sementara aku yang masih  menyesal menyambut kedatangannya di tempat tidur. Ia bersandar sambil memulai membaca al-qur’an. Lalu aku bertanya “apakah ingat pagi ini tanggal berapa ?” ia menggangguk dan aku meminta untuk dipeluk.

 

“Selamat ulang tahun” kataku sembari berdoa dengan tangannya padaku. “Aku ingin 28 tahun atau 30 tahun lagi dari sekarang.” kataku seperti kesurupan. Entahlah apakah aku secara sadar telah menghaturkan sebuah permintaan namun kudengar di sisi telingaku dengan hatiku ia mengangguk dan mengaminkan.

 

Aku belum bersyukur sebesar dua-tiga gunung uhud demi tibanya subuh tanggal 17 Januari.

 

Hari ini kami masih bersama, seumur perkawinan tentu saja banyak perkara terlalui. Kami tumbuh mendewasa juga menua. Kami saling menguatkan dengan menggengamkan keyakinan. Masalah-masalah kehidupan bergulir saat kami melintasi waktu, meskipun di antara masalah itu tidak ada yang saling mendahului. Masalah hidup selalu antre secara teratur. Masalah datang dan pergi dalam bingkai kebersamaan hidup kami.

 

*

 

Pagi tadi, ia pamit keluar rumah “sebentar saja,” katanya permisi. Aku mendengar lirih suara mesin mobil meninggalkan garasi depan rumah.

Di atas meja, di ruang duduk ada setengah mangkuk kacang rebus sisa kemaren sore yang lupa kumasukkan ke kulkas. Menemani kacang, kutuangkan cairan cola dingin yang sudah jauh berkurang sensasi sodanya.

 

Sambil menunggu kedatangannya yang katanya “sebentar”, aku mengudap kacang rebus dan meneguk cola. Hanya manis yang dominan dan warna cokelat gelap dan semilir angin bertenaga listrik menempel pada langit-langit ruangan meneriakkan sunyi kesendirian.

 

Betapapun ia menyebalkan, bagiku dalam urusan bersabar menghadapi perilaku istri bengkok, ia tetap juaranya.

 

Berurusan dengan janji yang "sebentar" supaya aku terus menunggu, bukanlah sesederhana terdengar. Diawal pernikahan kami, ujian pertama kali adalah mengurai bosan dan berdamai tabah dengan diri. Waktu itu usia perkawinan baru hitungan hari ketika aku dijanjikan “tunggu sebentar.” Durasi sebentar yang dikatakannya adalah dari pagi hingga jelang maghrib tiba. Setelah kejadian hari  itu, aku paham bahwa kami sama-sama berjihad mengelola perasaan masing-masing. kami bersiap menghadapi urusan perbedaan karakter diri dan keadaan yang kerap di luar dugaan

Suatu waktu di hari yang Fitri. (Ist)
Suatu waktu di hari yang Fitri. (Ist)

 

Tidak ada yang istimewa pada hari ini. Mungkin perayaannya adalah dengan makan berdua dengan Fatima jika dia ingin ikut serta. Kami merencanakan berpergian namun belum menyepakati tujuan. Dia ingin menengok kampung halaman namun aku ragu dengan peringatan masa wabah masih mengintai. Aku ingin ke pantai sedangkan ia mengajak ke rumah kebun, bersantai. Sekalipun tidak terdapat perencanaan yang matang untuk moment 28 tahun ini, pada akhirnya seperti yang sudah-sudah kami tetap berbahagia karena ia dan dan aku teramat fokus untuk menyenangkan hati dan menggembirakan diri kami. Boleh jadi akhirnya memutuskan mampir ke rumah kebun lalu ke pantai beesantai dan melnajutkan perjalanan ke kampung halaman.

 

Hari ini seperti kemaren, biasa saja. Tidak ada yang spesial karena bagiku semua hari yang kulewati bersamanya teramat berarti. Ia jarang sekali memuji seperti ia juga jarang sekali/ nyaris tidak pernah memarahi.

 

Namun di tengah pekan ini, ada sebuah pemakluman darinya yang membuat aku merasa dipercaya, dihargai dan dimaklumi sebagai pribadi sebagai santri di jalan sufi. Pemakluman yang membuatku kehilangan nafsu tidak menyukainya. Pemakluman yang membangkitkan rasa hormat yang tumpah begitu rupa. Ketika dalam seminggu terakhir ini, aku sibuk berkendara keluar kota bersama seorang teman baik untuk kepentingan menggarap disertasi. Tangan bagian pergelanganku lembab dan sedikit iritasi memegang kemudi sendiri. Untuk mengurangi keluhan atas rasa gatal dan mengendalikan hasrat menggaruk area yang memerah, Fatima memberikan salep penghilang gatal sekaligus tablet untuk diminum. Efek obat menyebabkan kantuk berat. Aku mengantuk sekali hingga sebuah hari selepas sholat mahgrib aku berebah dan membiarkan saja jika tertidur sebelum sholat isya. Di sampingku ia membaca al-qur’an sambil menyandarkan punggung di dinding tempat tidur, sementara aku berbaring miring menghadap dinding kamar dengan posisi membelakanginya.

 

“Aku ngantuk sekali, tolong biarkan jika tertidur.”

 

“Tidurlah dan pukul berapa mau dibangunkan ?”katanya sambil menatap. Rasa memberitahu ia tengah menatapku.

 

Di antara kesadaran yang melayang aku sempat mengurung rasa senang yang diberikannya. Berhari-hari kusimpan hingga tibanya tanggal 17 Januari ini. Aku menjadi aman menikmati sakit dan tidur dalam penjagaannya. Aku merasa dipercaya sebagai seorang hamba. Meskipun tertunda sholat (karena kelelahan fisik dan sakit) tetapi suamiku menjadi orang yang  siaga menjaga dirinya dan keluarganya dari godaan api Tuhan yang melambaikan tangan. Bukan meninggalkan sholat melainkan menunda. Membebaskan raga dari kelelahan akan memberikan waktu efektif untuk mengerjakan yang fardhu beserta sholat sunat serta wiridannya. Untuk pemaklumannya aku kembali merasa berharga.

 

Ia bertumbuh matang dalam pemahaman spiritual yang melegakan. Ia tidak mengatakan bahwa aku akan masuk neraka apabila menunda sholat isya. Jaminan itu membuatku tidak takut berada di dekatnya. (*)

 

Article Lainnya


Tiga Rahasia Kelemahan kita Disertai Tips Mengatasinya

Tiga Rahasia Kelemahan kita Disertai Tips Mengatasinya

Inway # 135 Oleh : Rusmiati Indrayani (Indrayani Indra) Masa perkuliahan semester ...

Ratusan Polisi di Bontang Jalani Tes Narkoba Mendadak, Apa Hasilnya?

Ratusan Polisi di Bontang Jalani Tes Narkoba Mendadak, Apa Hasilnya?

PARADASE.id - Sebanyak 242 anggota Polres Bontang menjalani tes urin dadakan, sebagai tindak lanjut ...

Sudah 150 Nakes Bontang Terpapar Covid-19, Terdesak Kekurangan Personel

Sudah 150 Nakes Bontang Terpapar Covid-19, Terdesak Kekurangan Personel

PARADASE.id - Sekitar 150 tenaga kesehatan (nakes) di Bontang terkonfirmasi positif selama masa pand...

Mantan Berulah, Pukul Pujaan Hati Karena Tak Dikasih Kata Kunci HP

Mantan Berulah, Pukul Pujaan Hati Karena Tak Dikasih Kata Kunci HP

PARADASE.id - Polres Bontang mengamankan ZN (20 tahun) akibat penganiayaan yang dilakukan kepada puj...

JELAJAH