21 Jun/2019

Tentang Kami

Surga adalah sebuah tempat di ranah hakikat. Gambaran keindahannya di luar jangkauan akal, tidak  terlintas pikiran, tidak pernah terlihat mata dan tidak pernah didengar telinga.Tidak terbayang berapa bintang level kemewahannya.

 

Dalam pemberitaan kitab suci, surga dilukiskan dengan sebuah tempat penuh kenikmatan yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Hulu sungai adalah telaga al-kautsar yang memecah sumber menjadi danau minuman susu dan madu. Perhiasan surga adalah lu’lu’U wal marjan (mutiara dan jamrud). minuman terbaik ahli surga diramu dari ekstrk khamer yang tidak memabukkan.

 

Surga adalah sebuah simbol. Dalam pendekatan eskatologis (kehidupan pasca kematian) realita kemegahan sorga semakin merajarela. Surga menyuguhkan hadiah kasih sayang Tuhan secara royal berkelimpahan.

 

Surga atau paradise adalah puncak tertinggi kenyamanan, kedamaian, kebahagiaan, kesentosaan dan kebebasan abadi. Sekali masuk sorga orang tidak hendak keluar lagi. Abadan abada tempatnya di sini.

 

Kedamaian dan kelapangan pikiran, perkara sepele yang jadi barang mewah zaman ini. bertempat di balik  hati namun jarak jauhnya setengah mati.

 

Kedamaian, ketenangan dan kelapangan pikiran secara sederhana acapkali didapatkan oleh seseorang dalam keluarganya. Rumahnya. Karena Rasulullullah mengisyaratkan bahwa”Rumahku adalah surgaku.”

 

Jika rumah adalah miniatur surga maka paradase yang dinistbahkan (disandarkan hukumnya) dalam surga berlapis-lapis menjadi pilihan kami memberi nama media ini.

 

Tidak sekedar informasi namun juga memberi solusi. Media ini menempati semacam gambaran umum sebuah pelepasan pikiran secara bebas. Rumah dan kebebasan serupa dua sisi mata uang. Saling terhubung dalam lingkaran melayani sebuah rasa nyaman, perlindungan dan pembelaan.

 

Di rumah yang qiyasnya adalah media ini, saban biliknya menyediakan  hulu pikiran lapang. Partisi artistik adalah daya kecerdasan awak media mewujudkan pelayanan yang dibutuhkan kedamaian pikiran.

 

Kami hadir dengan sedikit kedalaman. Walaupun demikian di bawah permukaan kami tidak tenggelam. Artinya gelombang masalah dan hiruk pikuk isu boleh saja berkembang memblokade dunia informasi, kami juga ada di sana namun usai pesta kami masih jadi pengantin yang menyita perhatian pembaca. (***)

 

 

 

 

 

JELAJAH